12 Februari 2009

Cinta Bukan Sekedar Romantisme


Film, sinetron, iklan dan semacamnya, telah mendidik kita secara salah tentang cinta: seolah cinta cuma persoalan “mendesain” romantisme dan mencintai cukup dengan menyerahkan sekuntum bunga.

Lebih konyol lagi, cinta juga seolah hanya urusan mendapatkan sesuatu. Lihatlah hari valentine, saat ketika cinta dikerucutkan menjadi sekadar romantisme, momen ketika kamu berharap dan mendapat sesuatu, couple dinner di sebuah cafĂ©, coklat berbungkus pink, seikat mawar merah atau sebuah cincin berlian. Atau ini mungkin saat, di mana pada akhirnya kamu “diijinkan” untuk first huge, first kiss. Sekedar seolah mengatakan kepada dunia bahwa “Hei… lihatlah, kami sedang jatuh cinta!”

Cinta tidak sesempit itu. Bukan pula sekedar demam warna pink dan cuma persoalan mendapatkan. Cinta bukan melulu persoalan kenyamanan, keindahan, romantisme atau bahkan terpenuhinya segala hasrat. Cinta justru persoalan memberi, tanpa syarat! Mari menghitung, berapa gelintirlah manusia yang benar-benar mengerti cinta jenis ini.

Sebagian orang akan berusaha mencari cinta, memagut yang satu, melepas yang lain, mengejar si Y, memutuskan si X. Seperti burung yang sejenak bercinta di dahan cemara, untuk kemudian terbang ke belahan langit yang berbeda. Sayap akan mudah patah karena lelah dan akhirnya mendarat dengan keras di kubangan kerbau. Mencintai kerbau? Seseorang yang berkelana mencari cinta di banyak tempat, hanya akan menemui kekosongan dan kekosongan.

Justru cobalah mencintai seseorang, bukan sekadar mengharap kamu akan mendapat sesuatu dari dirinya. Cintailah dia karena dia. Bukan sekadar karena bening matanya menenggelamkanmu dalam samudera rasa, apalagi cuma karena bau tubuhnya. Tetapi dengan penerimaan pada kompleksitas dan kerumitan dirinya, pada kekurangan dan ketidaksempurnaannya.

St Paulus dalam 1 Kor 13:4-7 mengatakan, Kasih itu sabar, kasih itu murah hati, ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.

Mencintai berarti bersedia menyalurkan sikap positif, tidak egois, tidak pendendam, penuh sukacita, penuh iman dan harapan serta setia. Mencintai bukan perkara mendapatkan tetapi memberi. Bagaimana bisa mengasihi atau memberi. Ini bukan perkara materi. Mereka yang mudah mencintai, inilah orang-orang yang penuh, purna dan lengkap. Ibarat gelas berisi air, air itu meluber membagikan kesegaran. Sebaliknya pribadi yang kosong dan hampa, tak mengalirkan kasih sedikit pun, justru selalu meratap mengharap cinta dan perhatian.


Mari mengasihi, bukan meminta dicintai. Hanya dalam kasihNya kita mendapatkan sumber kasih yang tak pernah kering. Hanya dalam kasihNya kita menjadi penuh, sekalipun dunia kita jauh dari kasih dan mengasihi. Seperti sepenggal syair lagu karya Doel Sumbang: Marilah sayang, mari sirami cinta yang tumbuh di dalam hati. Marilah sayang, mari sirami agar merekah sepanjang hari…

27 Juli 2008

Hati-Hati Bersosial


Tak mudah memberi bantuan sosial. Mulai dari perkara bantuan itu dari siapa? Jangan-jangan dari partai anu, dari kelompok agama itu. Jangan-jangan ada pamrih dan embel-embel di belakang. Tak mudah memang memberi dengan alasan cinta kasih sekalipun. Seperti seruan kencang, "jangan gara-gara 5 bungkus sarimi kaugadaikan agamamu".

Miris mendengarnya. Perbuatan baik lalu harus hati-hati. Hati-hati berbuat baik, begitu terasa pas ungkapan untuk para dermawan dan sosiawan. Ketika perbuatan baik lantas disimpulkan justru pernah atau menjadi pemicu kecurigaan dan kebencian.

Maka kesimpulannya perbuatan baik harus prosedural. Lewat ketua lingkungan, ketua seksos lingkungan, ketua wilayah, ketua seksos paroki. Maksudnya bukan untuk membuat ruwet dan njelimet. Atau membuka aib orang yang tak mampu. Maksudnya baik, untuk menghindari kerancuan, untuk menghindari kesalahpahaman "wong umat lain kok dibantu", "wong dia sudah cukup kok dibantu". Sehingga berlapis pintu itu menyeleksi dan memberi masukan. Kuncinya jika ada tanda tangan maka pantas untuk dibantu. Jika tidak lulus seleksi di tingkat lingkungan, maka tak akan diteruskan. Atau dengan kata lain sesuai prinsip subsidiaritas, jangan sampai mencampuri urusan lingkungan, kalau lingkungan itu masih mampu membantu. Jangan sewenang-wenang membantu dan justru akan menimbulkan kecemburuan di tingkat lingkungan kalau tidak ada rekomendasi dari ketua lingkungan.

Ketua lingkungan ujung tombak, ketua lingkungan harus menjadi acuan, jangan sampai ditinggalkan. Jika tidak akan terdengar masukan, "buat apa jadi ketua lingkungan kalau tidak dipercaya, buat apa jadi ketua anu kalau dilangkahi dan orang justru mudah mendapat bantuan tanpa ketua lingkungan"

Demikian, jika yang dibantu, tanpa rekomendasi ketua lingkungan, mendapat bantuan pun akan jumawa, "huh, lewat ketua lingkungan malah dibelit-belit, malah diputar-putar...buktinya tanpa rekomendasi ketua lingkungan bisa" Lalu relasi ketua lingkungan dan penerima bantuan jadi rusak. Menuduh ketua lingkungan cuma penghambat, menuduh ketua lingkungan pilih-pilih, dan ujungnya relasi sosial rusak. Tak mudah memperbaiki, di toko tak ada isolatip yang merekatkan ikatan sosial yang sudah terkhianati.

Ada dua perkara, memang prosedural harus ditegakkan. Rekomendasi dari bawah itu perlu dan membantu. Jika seleksi pertama tak berhasil, maka otomatis tak mungkin melangkah ke seleksi kedua. Yang perlu dimatangkan adalah seleksi pertama. Perkara kedua ialah perbauatan baik terkadang tak perlu dan tak bisa dibatasi, kuncinya terketuk, tergerak dan terdorong, maka membantu dan itu spontan.

Maka tak usah hirau dengan hati yang terketuk dan luluh membantu. Toh itu pribadi yang peduli. Namun untuk yang kas sosial bersama harus memperhatikan rambu-rambu. Uang bersama, milik bersama, maka aturan bersama yang menjadi acuan. Tidak bisa sembarangan karena ada pertanggungjawaban. Lalu memang tidak serta merta cepat, kilat, harus...Kalau tidak diberi bukan berarti tidak sosial, sulit dan njlimet...Karena memperhatikan rekomendasi. Rekomendasi dari bawah sebagai acuan akan semakin valid jika tidak diputuskan sendiri, tetapi bersama dalam kelompok.

Prinsipnya fortiter in re, soaviter in modo, teguh dalam prinsip, lunak dalam cara. Prinsipnya tetap diberi, jangan sampai tidak diberi...Prinsipnya keputusan bersama, bukan keputusan pilih kasih yang tak seimbang...

So, memang begitulah berhadapan dengan banyak orang, banyak latar belakang dan banyak tuntutan. Yakinlah yang terjadi sudah sangat baik dan berjalan baik, yang diberi sudah banyak, yang menerima pun banyak. Mereka tak perlu memberi kesaksian karena biasanya kenikmatan lebih cenderung dinikmati sendiri. Yang belum menerima, yang belum menikmati, yang gagal biasanya yang kencang berteriak dan memaki-maki atau menghujat... Tidak berarti yang kencangnya terdengar itu yang menunjukkan keseluruhan kan...