<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-3662880644844210942</id><updated>2011-04-21T16:05:18.803-07:00</updated><title type='text'>Catatan Pastoral</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://catatanpastoral.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3662880644844210942/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatanpastoral.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>19</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3662880644844210942.post-3443809113117184606</id><published>2009-02-12T03:39:00.000-08:00</published><updated>2009-02-12T03:49:19.079-08:00</updated><title type='text'>Cinta Bukan Sekedar Romantisme</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/SZQMlxiEG_I/AAAAAAAAA-g/Ybwpn9twLHQ/s1600-h/2979333768_2c57783270_m.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5301876504412822514" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 240px; CURSOR: hand; HEIGHT: 177px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/SZQMlxiEG_I/AAAAAAAAA-g/Ybwpn9twLHQ/s320/2979333768_2c57783270_m.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Film, sinetron, iklan dan semacamnya, telah mendidik kita secara salah tentang cinta: seolah cinta cuma persoalan “mendesain” romantisme dan mencintai cukup dengan menyerahkan sekuntum bunga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih konyol lagi, cinta juga seolah hanya urusan mendapatkan sesuatu. Lihatlah hari valentine, saat ketika cinta dikerucutkan menjadi sekadar romantisme, momen ketika kamu berharap dan mendapat sesuatu, &lt;em&gt;couple dinner&lt;/em&gt; di sebuah café, coklat berbungkus pink, seikat mawar merah atau sebuah cincin berlian. Atau ini mungkin saat, di mana pada akhirnya kamu “diijinkan” untuk &lt;em&gt;first huge, first kiss&lt;/em&gt;. Sekedar seolah mengatakan kepada dunia bahwa &lt;em&gt;“Hei… lihatlah, kami sedang jatuh cinta!”&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta tidak sesempit itu. Bukan pula sekedar demam warna pink dan cuma persoalan mendapatkan. Cinta bukan melulu persoalan kenyamanan, keindahan, romantisme atau bahkan terpenuhinya segala hasrat. Cinta justru persoalan memberi, tanpa syarat! Mari menghitung, berapa gelintirlah manusia yang benar-benar mengerti cinta jenis ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian orang akan berusaha mencari cinta, memagut yang satu, melepas yang lain, mengejar si Y, memutuskan si X. Seperti burung yang sejenak bercinta di dahan cemara, untuk kemudian terbang ke belahan langit yang berbeda. Sayap akan mudah patah karena lelah dan akhirnya mendarat dengan keras di kubangan kerbau. Mencintai kerbau? Seseorang yang berkelana mencari cinta di banyak tempat, hanya akan menemui kekosongan dan kekosongan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Justru cobalah mencintai seseorang, bukan sekadar mengharap kamu akan mendapat sesuatu dari dirinya. Cintailah dia karena dia. Bukan sekadar karena bening matanya menenggelamkanmu dalam samudera rasa, apalagi cuma karena bau tubuhnya. Tetapi dengan penerimaan pada kompleksitas dan kerumitan dirinya, pada kekurangan dan ketidaksempurnaannya.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;St Paulus dalam 1 Kor 13:4-7 mengatakan, Kasih itu sabar, kasih itu murah hati, ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. &lt;a name="13:5"&gt;&lt;/a&gt;Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. &lt;a name="13:6"&gt;&lt;/a&gt;Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. &lt;a name="13:7"&gt;&lt;/a&gt;Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Mencintai berarti bersedia menyalurkan sikap positif, tidak egois, tidak pendendam, penuh sukacita, penuh iman dan harapan serta setia. Mencintai bukan perkara mendapatkan tetapi memberi. Bagaimana bisa mengasihi atau memberi. Ini bukan perkara materi. Mereka yang mudah mencintai, inilah orang-orang yang penuh, purna dan lengkap. Ibarat gelas berisi air, air itu meluber membagikan kesegaran. Sebaliknya pribadi yang kosong dan hampa, tak mengalirkan kasih sedikit pun, justru selalu meratap mengharap cinta dan perhatian. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Mari mengasihi, bukan meminta dicintai. Hanya dalam kasihNya kita mendapatkan sumber kasih yang tak pernah kering. Hanya dalam kasihNya kita menjadi penuh, sekalipun dunia kita jauh dari kasih dan mengasihi. Seperti sepenggal syair lagu karya Doel Sumbang: &lt;em&gt;Marilah sayang, mari sirami cinta yang tumbuh di dalam hati. Marilah sayang, mari sirami agar merekah sepanjang hari…&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3662880644844210942-3443809113117184606?l=catatanpastoral.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3662880644844210942/posts/default/3443809113117184606'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3662880644844210942/posts/default/3443809113117184606'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatanpastoral.blogspot.com/2009/02/cinta-bukan-sekedar-romantisme.html' title='Cinta Bukan Sekedar Romantisme'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/SZQMlxiEG_I/AAAAAAAAA-g/Ybwpn9twLHQ/s72-c/2979333768_2c57783270_m.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3662880644844210942.post-168928400388414399</id><published>2008-07-27T23:51:00.000-07:00</published><updated>2008-11-18T15:52:02.158-08:00</updated><title type='text'>Hati-Hati Bersosial</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/SSNU_3IzhOI/AAAAAAAAA2M/mcU4SDVBnBE/s1600-h/A5V2HRMCA3ZA3G0CAB2YOJFCAM31NAXCAW9M3Y5CA9LZKS9CABDTX2WCAPTU4O2CAXWX0T1CAUSMS52CA74LINVCA7XUN5QCAA199XNCA7P2RWYCAI462J9CA1RCIHFCAHP283JCALFQ005CABEYI9B.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5270149445062984930" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 125px; CURSOR: hand; HEIGHT: 94px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/SSNU_3IzhOI/AAAAAAAAA2M/mcU4SDVBnBE/s320/A5V2HRMCA3ZA3G0CAB2YOJFCAM31NAXCAW9M3Y5CA9LZKS9CABDTX2WCAPTU4O2CAXWX0T1CAUSMS52CA74LINVCA7XUN5QCAA199XNCA7P2RWYCAI462J9CA1RCIHFCAHP283JCALFQ005CABEYI9B.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Tak mudah memberi bantuan sosial. Mulai dari perkara bantuan itu dari siapa? Jangan-jangan dari partai anu, dari kelompok agama itu. Jangan-jangan ada pamrih dan embel-embel di belakang. Tak mudah memang memberi dengan alasan cinta kasih sekalipun. Seperti seruan kencang, "jangan gara-gara 5 bungkus sarimi kaugadaikan agamamu". &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Miris mendengarnya. Perbuatan baik lalu harus hati-hati. Hati-hati berbuat baik, begitu terasa pas ungkapan untuk para dermawan dan sosiawan. Ketika perbuatan baik lantas disimpulkan justru pernah atau menjadi pemicu kecurigaan dan kebencian.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Maka kesimpulannya perbuatan baik harus prosedural. Lewat ketua lingkungan, ketua seksos lingkungan, ketua wilayah, ketua seksos paroki. Maksudnya bukan untuk membuat ruwet dan njelimet. Atau membuka aib orang yang tak mampu. Maksudnya baik, untuk menghindari kerancuan, untuk menghindari kesalahpahaman "wong umat lain kok dibantu", "wong dia sudah cukup kok dibantu". Sehingga berlapis pintu itu menyeleksi dan memberi masukan. Kuncinya jika ada tanda tangan maka pantas untuk dibantu. Jika tidak lulus seleksi di tingkat lingkungan, maka tak akan diteruskan. Atau dengan kata lain sesuai prinsip subsidiaritas, jangan sampai mencampuri urusan lingkungan, kalau lingkungan itu masih mampu membantu. Jangan sewenang-wenang membantu dan justru akan menimbulkan kecemburuan di tingkat lingkungan kalau tidak ada rekomendasi dari ketua lingkungan. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ketua lingkungan ujung tombak, ketua lingkungan harus menjadi acuan, jangan sampai ditinggalkan. Jika tidak akan terdengar masukan, "buat apa jadi ketua lingkungan kalau tidak dipercaya, buat apa jadi ketua anu kalau dilangkahi dan orang justru mudah mendapat bantuan tanpa ketua lingkungan"&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Demikian, jika yang dibantu, tanpa rekomendasi ketua lingkungan, mendapat bantuan pun akan jumawa, "huh, lewat ketua lingkungan malah dibelit-belit, malah diputar-putar...buktinya tanpa rekomendasi ketua lingkungan bisa" Lalu relasi ketua lingkungan dan penerima bantuan jadi rusak. Menuduh ketua lingkungan cuma penghambat, menuduh ketua lingkungan pilih-pilih, dan ujungnya relasi sosial rusak. Tak mudah memperbaiki, di toko tak ada isolatip yang merekatkan ikatan sosial yang sudah terkhianati.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ada dua perkara, memang prosedural harus ditegakkan. Rekomendasi dari bawah itu perlu dan membantu. Jika seleksi pertama tak berhasil, maka otomatis tak mungkin melangkah ke seleksi kedua. Yang perlu dimatangkan adalah seleksi pertama. Perkara kedua ialah perbauatan baik terkadang tak perlu dan tak bisa dibatasi, kuncinya terketuk, tergerak dan terdorong, maka membantu dan itu spontan. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Maka tak usah hirau dengan hati yang terketuk dan luluh membantu. Toh itu pribadi yang peduli. Namun untuk yang kas sosial bersama harus memperhatikan rambu-rambu. Uang bersama, milik bersama, maka aturan bersama yang menjadi acuan. Tidak bisa sembarangan karena ada pertanggungjawaban. Lalu memang tidak serta merta cepat, kilat, harus...Kalau tidak diberi bukan berarti tidak sosial, sulit dan njlimet...Karena memperhatikan rekomendasi. Rekomendasi dari bawah sebagai acuan akan semakin valid jika tidak diputuskan sendiri, tetapi bersama dalam kelompok.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Prinsipnya fortiter in re, soaviter in modo, teguh dalam prinsip, lunak dalam cara. Prinsipnya tetap diberi, jangan sampai tidak diberi...Prinsipnya keputusan bersama, bukan keputusan pilih kasih yang tak seimbang...&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;So, memang begitulah berhadapan dengan banyak orang, banyak latar belakang dan banyak tuntutan. Yakinlah yang terjadi sudah sangat baik dan berjalan baik, yang diberi sudah banyak, yang menerima pun banyak. Mereka tak perlu memberi kesaksian karena biasanya kenikmatan lebih cenderung dinikmati sendiri. Yang belum menerima, yang belum menikmati, yang gagal biasanya yang kencang berteriak dan memaki-maki atau menghujat... Tidak berarti yang kencangnya terdengar itu yang menunjukkan keseluruhan kan...&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3662880644844210942-168928400388414399?l=catatanpastoral.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3662880644844210942/posts/default/168928400388414399'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3662880644844210942/posts/default/168928400388414399'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatanpastoral.blogspot.com/2008/07/hati-hati-bersosial.html' title='Hati-Hati Bersosial'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/SSNU_3IzhOI/AAAAAAAAA2M/mcU4SDVBnBE/s72-c/A5V2HRMCA3ZA3G0CAB2YOJFCAM31NAXCAW9M3Y5CA9LZKS9CABDTX2WCAPTU4O2CAXWX0T1CAUSMS52CA74LINVCA7XUN5QCAA199XNCA7P2RWYCAI462J9CA1RCIHFCAHP283JCALFQ005CABEYI9B.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3662880644844210942.post-2984586780984631128</id><published>2008-07-23T23:18:00.000-07:00</published><updated>2008-12-09T21:57:30.234-08:00</updated><title type='text'>Pendidikan Agama Katolik</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/SIgf6I4walI/AAAAAAAAApw/yqViKdCk3Ls/s1600-h/imagesCAW80784.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5226462451241871954" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 115px; CURSOR: hand; HEIGHT: 146px; TEXT-ALIGN: center" height="124" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/SIgf6I4walI/AAAAAAAAApw/yqViKdCk3Ls/s200/imagesCAW80784.jpg" width="100" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Apa kabar pendidikan anak-anak Katolik? Bagi mereka yang sekolah di sekolah Katolik tidak begitu masalah, karena jelas tersedia guru agama Katolik. Pendidikan iman mereka tentu terjamin paling tidak suasana, pengajaran dan nuansa ke-Katolikan masih bisa didapatkan. Para orang tua yang ingin memberikan pendidikan terbaik untuk anaknya, termasuk pendidikan iman tidak perlu risau. Meskipun harus disadari perkara iman tidak terbatas pada aspek kognitif, sebagaimana sebagian besar yang diberikan sekolah. Melainkan juga aspek lain yang tentu didapatkan anak di rumah. Serta kegiatan aktif di lingkungan gereja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bagaimana dengan anak-anak Katolik, yang dibaptis secara Katolik tetapi tidak sekolah di sekolah Katolik? Apakah dengan demikian pendidikan agama Katolik mereka diabaikan? Padahal mereka berhak mendapatkan pendidikan agama Katolik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuai data yang didapatkan dari kantor dinas pendidikan terdapat: 121 anak Katolik di SMU swasta non Katolik dan 81 anak di SMU Negeri, 203 anak Katolik di SMP swasta non Katolik dan 94 anak di SMP Negeri serta 251 anak Katolik di SD swasta non Katolik dan 331 anak di SD Negeri. Jumlah yang cukup fantastis, total ada 1.081 anak usia SD hingga SMU yang tidak bersekolah di sekolah Katolik. Sementara anak Katolik yang bersekolah di sekolah Katolik usia SD hingga SMU sebanyak 903 anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang ada beragam alasan memilih sekolah, entah sekolah Katolik atau tidak. Dan kebebasan ada di pihak orang tua dan anak, tidak pernah dipaksakan. Meskipun dianjurkan anak Katolik bersekolah di sekolah Katolik. Sebagaimana diserukan oleh Uskup Surabaya, Mgr. Sutikno Wisaksono saat kunjungan ke Paroki beberapa bulan lalu. Menyekolahkan anak Katolik di sekolah Katolik berarti mendukung karya pendidikan Katolik. Berhadapan dengan masalah biaya mahal pendidikan di sekolah Katolik, kita bersama mendengarnya, “Jangan sampai anak-anak Katolik tidak bisa sekolah disekolah Katolik”. Selalu dicari cara bagi mereka yang mendapat kesulitan biaya. Biaya mahal kemudian bisa relatif. Meskipun 1.081 anak Katolik yang tidak bersekolah di sekolah Katolik bisa diasumsikan karena beberapa faktor seperti biaya, jarak dari rumah, kualitas maupun faktor anak sendiri atau justru pilihan orang tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pencanangan Tahun pendidikan di Keuskupan Surabaya tentu dalam rangka mengetuk kepedulian terhadap sekolah Katolik. Karena, sekolah Katolik tidak hanya yang berada di kota besar Surabaya dan Sidoarjo saja, melainkan juga yang ditempat terpencil. Di mana sekolah Katolik yang ibaratnya sudah tak pantas hidup dipertahankan dan diperjuangkan eksistensinya demi karya pewartaan gereja. Sekolah-sekolah yang surplus pun mendukung keberadaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga berbagai alasan, bahwa kehadiran sekolah Katolik di masa lalu telah memberi dampak positif di masa sekarang, entah itu ikut serta dalam pencerdasan bangsa meskipun dari sisa-sisa atau penanaman nilai-nilai luhur universal ke-Katolikan. Dan dipastikan di mana ada sekolah Katolik di situ gereja berkembang dan masyarakat lebih moderat. Dengan demikian, menyekolahkan anak di sekolah Katolik juga bentuk kepedulian holistik terhadap karya pewartaan gereja itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak Katolik tetap bisa mendapatkan pendidikan agama Katolik karena masih ada sekolah-sekolah non Katolik, baik swasta dan negeri yang memperhatikan pendidikan agama sesuai iman anak dididik. Lalu sekolah yang tidak memberikan pendidikan agama Katolik, sebenarnya kepala sekolah harus memberitahukan kepada Gereja. Dan Gereja akan mengatur para relawan pendidikan agama Katolik untuk hadir memberikan pelajaran agama. Jika kepala sekolah tersebut berdiam diri saja atau bahkan tidak mengupayakan, sebenarnya pemerintah yang pertama-tama menyediakan. Namun pemerintah dalam hal ini Bimas Katolik memiliki tenaga yang sangat terbatas dan kuota guru agama Katolik pun minim. Lalu bagaimana solusinya, anak-anak Katolik itu bisa tetap mendapatkan pelajaran agama tersentral yang diadakan rutin, setiap minggu. Hal ini menjadi tanggung jawab seksi Katekese Paroki. Siapa lagi ?&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3662880644844210942-2984586780984631128?l=catatanpastoral.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3662880644844210942/posts/default/2984586780984631128'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3662880644844210942/posts/default/2984586780984631128'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatanpastoral.blogspot.com/2008/07/pendidikan-agama-katolik.html' title='Pendidikan Agama Katolik'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/SIgf6I4walI/AAAAAAAAApw/yqViKdCk3Ls/s72-c/imagesCAW80784.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3662880644844210942.post-1637513679661627349</id><published>2008-07-23T21:33:00.000-07:00</published><updated>2008-12-09T21:57:30.619-08:00</updated><title type='text'>Tak Pernah Sendirian</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/SIgJHX0r2VI/AAAAAAAAApo/ae8NjaB1xlE/s1600-h/images.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5226437389822187858" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 121px; CURSOR: hand; HEIGHT: 154px; TEXT-ALIGN: center" height="130" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/SIgJHX0r2VI/AAAAAAAAApo/ae8NjaB1xlE/s200/images.jpg" width="114" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Saat mengikuti Week end Marriage Encounter sebenarnya perasaan saya tidak siap karena serba mendadak dan sepertinya serius sekali, bahkan akan meninggalkan kegiatan sejenak tidak boleh. Berarti memang acara ini serius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menyaksikan pasangan-pasangan, terutama, pihak perempuan tampak di antara mereka menangis. Saya tidak mengerti mengapa. Dugaan saya karena acara kisah pengalaman yang dibacakan atau pertanyaan-pertanyaan diajukan menyentuh mereka. Dalam arti pas, tepat sasaran dan mengajak mereka berefleksi dan berkaca tentang relasi komunikasi dengan suami yang serba carut marut atau tidak sempurna. Namun tangisan itu juga saya anggap sebagai tanggisan bahagia, karena mereka menemukan ini sebabnya, ini akar permasalahannya. Sehingga mereka bisa memperbaiki dengan berkomunikasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagusnya, W-ME selalu menyertakan pasangan. Seringkali masalah dalam perkawinan selalu diatasi sendiri, padahal masalah itu adalah masalah mereka berdua. Dengan demikian masalah bisa terkomunikasikan dengan baik sebab mereka berdua hadir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selebihnya, saya merasa diteguhkan dalam pilihan imamat. Toh jalan hidup perkawinan juga selalu ada persoalan. Tidak melulu yang enak dan bahagia saja. Layaknya imamat dan pilihan hidup apapun, selalu ada persoalan. Yang paling utama bukan bentuk pilihan hidupnya, tetapi bagaimana menghidupi pilihan hidup tersebut dengan kesungguhan dan penuh bahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya tersentuh juga mendengar syair lagu. “Dampingilah aku…” bukan hanya suami kepada istrinya. Tetapi keluarga juga butuh pendampingan pastor, sebagaimana pastor juga membutuhkan dukungan keluarga. Toh setiap dari kita bukan single fighter namun selalu ada teman, pendamping dan siapapun yang akan menemani dalam peziarahan hidup. Semua serba fana dan sementara namun kita perlu memaknainya dengan saling mendukung.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Saya jadi terkenang pendukung fanatik setan merah, Liverpool FC yang yakin seseorang tak pernah berjalan sendirian dan penyertaan niscaya meneguhkan...&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;"&lt;em&gt;When you walk through the storm. Hold your head up high. And don't be afraid of the dark. At the end of the storm. There's a golden sky. And the sweet silver song of the lark. Walk on, through the wind. Walk on, through the rain. Though your dreams be tossed and blown. Walk on, walk on, with hope in your heart. And you'll never walk alone. You'll never walk alone. Walk on, walk on, with hope in your heart. And you'll never walk alone. You'll never walk alone&lt;/em&gt;..."&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3662880644844210942-1637513679661627349?l=catatanpastoral.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3662880644844210942/posts/default/1637513679661627349'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3662880644844210942/posts/default/1637513679661627349'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatanpastoral.blogspot.com/2008/07/tak-pernah-sendirian.html' title='Tak Pernah Sendirian'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/SIgJHX0r2VI/AAAAAAAAApo/ae8NjaB1xlE/s72-c/images.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3662880644844210942.post-6476903011823740990</id><published>2008-07-23T08:32:00.000-07:00</published><updated>2008-12-09T21:57:30.760-08:00</updated><title type='text'>Miskin Bermartabat</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/SIdgE0sXDLI/AAAAAAAAApg/yjC18qv5Kkw/s1600-h/imagesCAQV5H8J.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5226251528567196850" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 195px; CURSOR: hand; HEIGHT: 148px; TEXT-ALIGN: center" height="116" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/SIdgE0sXDLI/AAAAAAAAApg/yjC18qv5Kkw/s200/imagesCAQV5H8J.jpg" width="150" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Perempuan yang ibu itu datang bersama anaknya. Anaknya masih kecil, kira-kira 4-5 tahun. Datang menceritakan kegundahan hatinya, karena anaknya yang mestinya lulus SMP gagal mengambil ijasah. Ia meneruskan cerita lagi dengan mata yang kemudian berair. Menangis, mengapa di sekolah Katolik masih serumit ini. Sementara anaknya harus segera mengambil ijasah untuk pendaftaran sekolah, meneruskan ke SMU. Suasana tambah rumit ketika si kecil ikutan menangis.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Saya korek lagi mengapa tak boleh mengambil ijasah? Karena sudah menunda pembayaran hingga 7 juta. Lalu saya tanya lagi, mengapa tak membayarnya? Ia mengaku tak bekerja, sementara pekerjaan suaminya sendiri tak banyak. Pendapatan itu tak cukup menghidupi keluarga, ketiga anaknya yang bersekolah, sementara ia sendiri usai sakit dan operasi yang mengeluarkan biaya tak sedikit. Saya diam dan membiarkannya menuntaskan tangis. Lalu saya katakan, ya nanti saya akan menguhubungi pihak sekolah, "saya usahakan", kata saya lagi.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Cover bith sides, kepala sekolah mengisahkan bagaimana tidak menyesakkan, anaknya sekolah tanpa membayar. Sementara sekolah ini swasta yang hidupnya jelas dari sumbangan pendidikan atau SPP. Belum lagi mempertanggungjawabkan kepada yayasan. Sedangkan ibu itu memiliki asuransi yang didebet setiap bulan. Mestinya bisa untuk membayar sekolah. Juga ketika disurvei, suaminya kelihatan tampak tak berdaya di mata sang istri, gaji selalu diberikan, namun selalu habis atau kurang. Suami tak bisa memberi lebih, sementara ia sendirian bekerja. Suami mengaku rumah yang ditempati pun sudah dijual istrinya, namun entah kemana uangnya, setahunya juga untuk membayar sekolah anaknya, tapi tidak. Dengan demikian, seakan menganggap remeh temeh urusan membayar sekolah dan terkesan tidak usah membayar. Entah, mungkin karena Katolik itu baik, Katolik itu murahan dan bisa diatur.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kisah lain dari sekolah ada keluarga yang tidak mampu namun masih menunjukkan usaha membayar rutin. Saya teringat Mgr. Sutikno, "ya diusahakan &lt;em&gt;mencicil&lt;/em&gt; sampai &lt;em&gt;mecicil&lt;/em&gt;...yang pasti jangan sampai &lt;em&gt;menggorok&lt;/em&gt; leher orang". Mengapa keluarga ini bisa dan sedangkan keluarga ibu itu tidak bisa? Atau benar-benar tak mampu, namun terbukti masih ada dana yang dijaminkan dan mestinya bisa dikeluarkan untuk membayar, untuk menunjukkan kesungguhan mencicil. Mengapa itu tidak dilakukan dan berujung keenganan pihak sekolah memberi kemudahan yang lalu cuma berujung tangisan? Sekolah tak memberi kemudahan? Tanyakan lagi kepada guru dan keluarga guru, anak guru, kemudahan yang selalu ditabrakkan dengan pengabdian? Tidak cukupkan toleransi? Atau justru celaan yang akan dikibarkan, "Katolik munafik?!  Lalu kemana perginya kasih sayang dan kepedulian wajar untuk anaknya...&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Saya jadi teringat kata-kata sopir, namanya Agus. Dia Kristen Protestan, pernah ia mengisahkan keheranannya dengan orang-orang Katolik sejak awal ketika bekerja di Gereja, "Aku nggak ngerti, Romo kok selalu dimintai bantuan...bahkan kadang dibohongi. Setahuku saya sebagai umat Kristen tak pernah begitu. Tak pernah mendengar pendeta dimintai umat, bahkan sampai nangis-nangis". &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dan untuk itu pula saya membenarkan kisah seorang ibu yang punya bisnis kecil-kecilan, yang ketika menagih pembayaran dari warga seiman penilainya justru &lt;em&gt;mbulet &lt;/em&gt;dan &lt;em&gt;angel&lt;/em&gt;. "Malahan yang lain-lain tidak", katanya. Juga pinjaman, proyek atau bantuan untuk warga Gereja yang diberikan di masa lalu, yang selalu berakhir dengan kegagalan tak berbekas atau yang terparah &lt;em&gt;kekisruhan, &lt;/em&gt;keirian dan kecemburuan tak tersembuhkan. Karena uang gereja selalu dianggap tak kembali tak apa, toh gereja sudah kaya, nanti kolekte mengumpulkan lagi, menumpuk lagi dan dapat banyak lagi. Karena alasan-alasan itu maka kesungguhan, komitmen dan disiplin dilecehkan, bahkan kesatuan, paguyuban dan kebersamaan tanpa sadar diluluhlantakkan. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Adakah kesadaran bahwa gereja milik bersama, disadari oleh mereka, tidak hanya yang kaya tetapi juga yang biasa-biasa. Yang sungguh rela dan sudi mengedepankan kesungguhan berkomunitas, satu gereja. Kesungguhan, komitmen harus dikedepankan, jika tidak gereja sedang membiarkan dirinya dalam luka kebersamaan. Lalu saya bisa mengerti ajakan Rm. Willy Batuah, pakar kredit union yang dengan keras meneriakkan, "kalau menabung tidak menjadi prioritas, maka orang membiarkan dirinya dalam keterpurukan".&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Peristiwa ini mengajarkan, paling tidak dengan standar minimal bertanya ke beberapa orang, ia pantas dibantu atau tidak? Ia sudah berubah atau masih menganggap remeh dan melecehkan dengan topeng belas kasihan? Bukankah janda Sarfat tidak mau menganggap dirinya miskin dan menjadi peminta-minta, sekalipun ia sungguh sangat susah...Janda di Sarfat, tipikal miskin tetapi bermartabat, alm. Rm. YB. Mangunwijaya menyebutnya, "mlarat tapi ningrat..."&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3662880644844210942-6476903011823740990?l=catatanpastoral.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3662880644844210942/posts/default/6476903011823740990'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3662880644844210942/posts/default/6476903011823740990'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatanpastoral.blogspot.com/2008/07/miskin-bermartabat.html' title='Miskin Bermartabat'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/SIdgE0sXDLI/AAAAAAAAApg/yjC18qv5Kkw/s72-c/imagesCAQV5H8J.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3662880644844210942.post-7629885456854916464</id><published>2008-04-03T12:18:00.000-07:00</published><updated>2008-12-09T21:57:31.030-08:00</updated><title type='text'>Lelaki Yang Dipecundangi Perempuan</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/R_U2LUy_PvI/AAAAAAAAAiY/awrkv08BxEo/s1600-h/361377754.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5185110114176024306" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 154px; CURSOR: hand; HEIGHT: 155px; TEXT-ALIGN: center" height="145" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/R_U2LUy_PvI/AAAAAAAAAiY/awrkv08BxEo/s320/361377754.jpg" width="154" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Pernahkah kamu, sebagai lelaki dipecundangi perempuan ? Pernahkah kamu, sebagai perempuan memecundangi lelaki ? Karena pernah itulah saya bisa sedikit menaruh empati pada lelaki dan suami yang mengaku sedang "dihabisin" istrinya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Bahwa penerimaan dan pernikahan telah terjadi dan kemudian berakhir dengan kisah pahit saling meninggalkan sebuah cerita yang makin saja akrab di telingga. Apalagi kalau pelakunya lelaki, seakan &lt;em&gt;taken for granted&lt;/em&gt;. Seperti umumnya kasus terjadi, perempuan di posisi korban, perempuan dikalahkan dan seterusnya. Dengan pendasaran biologis, bahwa kelamin lelaki kodratnya mencari dan terus mencari, semakin meyakinkan. Apalagi jika tidak puas di ranjang, seakan dianggap wajar perilaku lelaki yang kurang ajar. Sedangkan secara biologis, perempuan dengan kelamin tersembunyi cenderung menunggu dan menanti. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Maka memilukan jika mendengar bahwa suami yang di posisi korban dan dikalahkan. Dan membuat terhenyak justru jika perempuan yang mendahului bersikap seenaknya. Atau inikah kewajaran itu, hasil perjuangan kesetaraan gender itu: sudah bukan jamannya lagi perempuan ngalah dan kalah, maka perempuan harus menang dan bisa sembarangan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Perkaranya lain, khususnya pada kasus ini. Istri nekat meninggalkan suami karena alasan ekonomi. Pekerjaan yang memisahkan keduanya, berujung pada sikap berulah istri meninggalkan selamanya suami dan anaknya. Kisah cinta dunia maya dengan lelaki bule yang mengaku bujangan membuatnya tengelam dalam aroma kenikmatan, meninggalkan kekalahan bagi sang suami. Rasa rendah diri, pecundang sejati, buangan, tak mampu mengurus istri dan anak-anak seakan menyergap menghabisi rasa cinta tulus. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Lama tak jumpa dan ketika ditanya mengapa jawabnya tak mengapa, selebihnya diam seribu bahasa dengan bahasa tubuh penolakan. Selanjutnya, ogah bertemu, muak bercinta, tak bergairah yang terucap ringkas dalam ucapan jumpa terakhir, "Aku sudah tidak sayang kamu. Aku sudah berhubungan seks dengannya...Please, lupakan aku. Dia mengerti dan sayang banget sama aku"&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Blarrr...bagai guntur di siang bolong, tangis hati di dada suami. Lelaki mana yang tahan. Seperti mengenggam pisau tajam dan siap mencari muka lelaki biadab penghancur rumah tangganya sebelum seruan lirih nuraninya berucap menahan, "... Istriku sedang khilaf...". &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Pembelaan &lt;em&gt;deep inside&lt;/em&gt; itu ternyata keliru adanya. Hari menanti menunggu kembali, sang istri justru memutuskan pisah dan anak mereka hendak dibawa. Namun karena merasa bahwa yang mengoyakkan rumah tangga adalah istri, maka suami itu mempertahankan anak itu ada di tangannya. Dengan beban kekalahan yang dibawa, dengan doa-doa yang masih bisa tereja, dengan peluh berusaha tetap membahagiakan anak dan istri yang entah dimana, walau hasil tak seberapa, sementara mimpi-mimpi malam menganggu ketika bayangan istrinya telanjang merintih nikmat dalam pelukan lelaki lain...Dan syukurlah ia masih tabah. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Jangan menangis laki-laki, jangan berduka suami...inilah emansipasi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3662880644844210942-7629885456854916464?l=catatanpastoral.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3662880644844210942/posts/default/7629885456854916464'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3662880644844210942/posts/default/7629885456854916464'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatanpastoral.blogspot.com/2008/04/lelaki-yang-dipecundangi-perempuan.html' title='Lelaki Yang Dipecundangi Perempuan'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/R_U2LUy_PvI/AAAAAAAAAiY/awrkv08BxEo/s72-c/361377754.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3662880644844210942.post-5804100648489235441</id><published>2008-03-31T08:50:00.000-07:00</published><updated>2008-12-09T21:57:31.181-08:00</updated><title type='text'>Pemberdayaan Perempuan</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/R_EPcEy_PtI/AAAAAAAAAiI/zEJGH9599_g/s1600-h/gy1445.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5183941621078507218" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 189px; CURSOR: hand; HEIGHT: 196px; TEXT-ALIGN: center" height="318" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/R_EPcEy_PtI/AAAAAAAAAiI/zEJGH9599_g/s320/gy1445.jpg" width="251" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Kemarin di ruang pertemuan Paroki ada acara spesial buat kamu perempuan / ibu. Temanya menarik, "Pemberdayaan Perempuan Dalam Bidang Kewirausahaan". Menurutku, tema ini selangkah lebih maju. Saatnya sudah bergeser dari sekedar menuntut kesetaraan. Kesetaraan kita anggap semua perempuan sudah sadar, tahu dan mendarah daging untuk memperjuangkan itu. Menuntut atau melawan lelaki supaya mengakui...? Nanti dulu. Perjuangan jadi lebih berat kalau mengingat itu. Apalagi, kaum lelaki telanjur terlalu lama dalam posisi mengatasi perempuan secara budaya dan apapun.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Tak ada kata lain, selain secara internal perempuan bersama perempuan memberdayakan dirinya. Satu poin penting ialah, ketidakberdayaan perempuan di hadapan suami atau lelaki karena ketergantungannya pada lelaki, terutama secara ekonomi. Sehingga, perempuan kalah set, jika hendak memberi &lt;em&gt;bargaining position&lt;/em&gt;-nya pada lelaki, karena tak berdaya secara ekonomi. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Dari poin penting inilah, maka isu kewirausahaan perempuan sangat menarik dan masuk akal. Bagaimana perempuan membuat dirinya ber-wirausaha sebagai bukti berdayanya sekaligus mengurangi ketergantungannya kepada lelaki. Kesadaran inilah yang harus muncul pada diri perempuan. Sehingga suatu kebodohanlah bagi perempuan yang mau enaknya setiap bulan mengandalkan lelaki yang meninabobokkannya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Bukan lagi kisah sinetron, bukan lagi berita di televisi dan media massa, kalau perempuan yang selalu jadi korban dan berada di posisi kalah. Ruang tamu pastoran menjadi saksi bahwa peristiwa itu sudah di depan mata dan di sekitar kita. Betapa rapuhnya fisik perempuan yang jadi sasaran pukulan, betapa khawatir dan cemasnya perempuan yang takut berbicara meski suaminya seenaknya, betapa lebih baik menerima saja sekalipun hidup dalam penderitaan. Saya dan seorang teman imam mencatat, bisa sebulan dua atau tiga perkara tentang perempuan yang datang. Maklum lelaki / suami lebih gengsi, suka masuk dalam "gua"-nya jika sedang ada masalah dan perempuan lebih bertipe curhat, cerita kemana-mana kalau sedang didera persoalan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Tidak di kota, tidak di desa. Ketakutan dan ketakberdayaan perempuan ekspresi ketergantungannya kepada lelaki dialami secara sama. Sikap pasrah pada akhirnya menjadi pilihan terakhir yang secara moral justru menjadi bukti keimanan. Namun, pasrah aktif memiliki unsur berdaya dan tak mau konyol menderita berlama-lama. Yang jernih dan sehat bisa membedakannya dengan sangat tajam.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;So, jangan menunggu lelaki memberi kesempatan, meskipun ungkapan ini harus didengarkan lelaki. Perempuan harus sadar diri untuk memulai dari dirinya sendiri memposisikan diri berdaya dengan berwirausaha. Memang, ada benarnya ungkapan laki-laki buaya darat, maka perempuan tidak perlu menunggu terlalu lama untuk menikmati posisi buaya laut...&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3662880644844210942-5804100648489235441?l=catatanpastoral.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3662880644844210942/posts/default/5804100648489235441'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3662880644844210942/posts/default/5804100648489235441'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatanpastoral.blogspot.com/2008/03/pemberdayaan-perempuan.html' title='Pemberdayaan Perempuan'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/R_EPcEy_PtI/AAAAAAAAAiI/zEJGH9599_g/s72-c/gy1445.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3662880644844210942.post-6148460932101532316</id><published>2008-03-25T11:00:00.000-07:00</published><updated>2008-12-09T21:57:31.363-08:00</updated><title type='text'>Momen Refleksi Pengorbanan Yesus</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/R-k_DUy_PlI/AAAAAAAAAhA/5jNjra3Afa8/s1600-h/watching.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5181742172621192786" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/R-k_DUy_PlI/AAAAAAAAAhA/5jNjra3Afa8/s320/watching.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;RADAR SIDOARJO - Gereja Sancta Maria Anuntiata Jl Monginsidi, Sidoarjo, memperingati Hari Paskah dengan ajakan berbagai kasih kepada alam dan sesama manusia. Wafatnya Yesus Kristus diperingati dengan merefleksi perjalanan Yesus Kristus dari sejak dijatuhi hukuman hingga dimakamkan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Menurut katekis Realino Widianto, peringatan wafatnya Yesus Kristus itu menjadi momen penting untuk merenung tentang pentingnya pengorbanan dan saling berbagi kasih kepada sesama. Karena itulah, lanjut dia, selain berdoa, jemaat membagi-bagikan sebagian rezeki kepada warga tidak mampu di sekitar gereja.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Jumat Agung berlangsung pada Jumat (21/3) pagi dan sore. Jemaat melantukan puji-pujian guna mengenang kerelaan Yesus Kristus berkorban untuk umat manusia. Kegiatan lain ialah membagi-bagikan ratusan paket sembako untuk masyarakat sekitar gereja.Widianto menuturkan, hikmah yang bisa diambil dari Paskah adalah pentingnya selalu berbuat kebaikan dalam setiap langkah hidup. Untuk mencapai ketenteraman dan kedamaian, umat Kristiani diharapkan saling menolong antar sesama.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Selain itu, menjaga kelestarian alam agar tercipta kehidupan yang harmonis antara manusia dan alam. "Menjaga yang sudah ada dan memperbaiki kerusakan alam," tegasnya. (nuq/roz)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3662880644844210942-6148460932101532316?l=catatanpastoral.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3662880644844210942/posts/default/6148460932101532316'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3662880644844210942/posts/default/6148460932101532316'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatanpastoral.blogspot.com/2008/03/momen-refleksi-pengorbanan-yesus.html' title='Momen Refleksi Pengorbanan Yesus'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/R-k_DUy_PlI/AAAAAAAAAhA/5jNjra3Afa8/s72-c/watching.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3662880644844210942.post-9072028241276244042</id><published>2008-03-24T07:53:00.000-07:00</published><updated>2008-12-09T21:57:31.521-08:00</updated><title type='text'>Perempuan Dengan Luka Biru Di Sisi Bawah Mata Kirinya</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/R-fEf0y_PjI/AAAAAAAAAgw/ncnzvPr-xhg/s1600-h/3020100991.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5181325947340537394" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/R-fEf0y_PjI/AAAAAAAAAgw/ncnzvPr-xhg/s320/3020100991.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Malam ini, seorang perempuan dihantar sang kakak datang. Dengan muka kusut, mengusutkan paras cantiknya. Mata sembab, baju hangat membalutnya, luka memar biru di sisi bawah mata kirinya. Mereka minta pertimbangan, perlukah melaporkan sang suami yang sore tadi baru saja memukulnya. Tepat di sisi bawah mata kirinya ?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Maafkan, dengan sok pede kujawab, "Kamu harus melaporkan peristiwa ini". Lalu keduanya saling bergantian bercerita. Sebenarnya peristiwa semacam ini sudah berlangsung beberapa kali. Bahkan mata kanan perempuan itu sudah agak kabur penglihatannya, karena berkali-kali menjadi sandsack sang suami. Hmmm....Tiap kali peristiwa pemukulan, alasannya sepele. Dia cuma diberi uang Rp. 50.000,- untuk belanja selama 3 hari. Dan karena mengaku kebutuhannya banyak, uang selalu habis. Ketika melaporkan keadaan itu, maka amarah, tuduhan dan sumpah serapah-lah yang diterimanya, dan bonus: pukulan yang selalu mengarah ke bagian kepala. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa itu selalu berlangsung saat berdua saja. Sementara bila bertemu dengan kakak dan keluarganya selalu sang suami sok alim. Pernah juga terpikir untuk cerai. Namun ingatan akan mama yang sudah sendiri dan anaknya yang masih bayi 1 tahun selalu menjerit dan menekan-nekannya untuk menggagalkan ide itu. Apalagi ketika keinginan cerai terucap, sang suami mengancam akan membunuhnya...Padahal, dia pernah melihat dan tahu juga, kalau sang suami pernah selingkuh bersama perempuan lain, namun apa daya, ia takut dengan kenyataan yang akan terjadi. Sementara tubuhnya tiap kali harus menanggung sakit yang luar biasa. Seperti malam itu tanpa helm, karena kepalanya sakit.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;"Saya ingin lapor, tapi bagaimana kalau dia masuk penjara. Bagaimana dengan anak saya?", begitu ia merasa seperti diujung tanduk. "Tapi kalau kamu tidak melapor, kamu bisa mati. Kamu menderita...", balas saya, "Kamu harus berani mengambil resiko. Ini pilihan yang harus kamu ambil. Atau kamu mati...? Pokoknya saya mau kamu lapor. Ini kriminal. Jangan diam."&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Mulutnya terdiam, terdengar tangisnya lagi. Lalu saya masuk mengambil alamat dan nomer telepon peduli perempuan. Sembari saya telpon seorang polwan kenalan. Sang polwan mengatakan, "Jangan lapor polisi dulu. Lebih baik lapor ke ketua RT atau ketua RW". &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Secarik kertas saya serahkan dan pesan polwan kenalan saya sampaikan. Sedikit lebih baik dengan segelas aqua dingin. Tak lama kemudian dia pamit. Baru tahu, ternyata lebih baik tidak lapor ke polisi dulu. Dan lebih baik lagi buat para suami: jangan pukul istri. Dan buat para istri: jangan takut melapor kalau suami melakukan tindak kekerasan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3662880644844210942-9072028241276244042?l=catatanpastoral.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3662880644844210942/posts/default/9072028241276244042'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3662880644844210942/posts/default/9072028241276244042'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatanpastoral.blogspot.com/2008/03/malam-ini-seorang-perempuan-dihantar.html' title='Perempuan Dengan Luka Biru Di Sisi Bawah Mata Kirinya'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/R-fEf0y_PjI/AAAAAAAAAgw/ncnzvPr-xhg/s72-c/3020100991.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3662880644844210942.post-2771334982264556516</id><published>2007-12-01T20:09:00.000-08:00</published><updated>2008-12-09T21:57:36.300-08:00</updated><title type='text'>Elegi Buat Egi</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/R1IwjfrljSI/AAAAAAAAAQs/VoZDDLR0QtQ/s1600-R/sakit3.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5139223511141027106" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/R1IwjfrljSI/AAAAAAAAAQs/bcGDq-hmabc/s320/sakit3.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Namanya Egi. Usianya baru menginjak kelas 2 SMU. Masih muda. Dan mestinya lebih banyak waktu ceria bersama teman-temannya. Dia suka main keyboard. Dulu selalu mengiringi koor di Gereja. Dengan pijatan-pijatan jemari tangan terlantunlah irama mengiringi lagu-lagu. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sejak September lalu, semua jadi berubah. Egi mulai merasa tak nyaman dengan tubuhnya. Kaki, tangan dan perutnya, tiba-tiba membengkak. Mamanya sempat heran dan cemas begitu melihat perubahan itu. Disertai kecemasan itu, sebenarnya telah terduga apa yang selama ini sudah diprediksi tentang Egi. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Memang ketika masih dalam kandungan, Egi dan kembarannya yang sudah meninggal ketika ia lahir, diprediksi dokter akan mengidap suatu penyakit. Saat itu, masih dalam kandungan sang ibu, kembaran Egi telah diserbu dengan virus mematikan. USG menunjukkan bagian kepala kembarannya telah digerogoti virus yang mengerikan. Dan di dalam kandungan itulah kembaran Egi sudah tiada.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Namun tidak dengan Egi, meskipun dia dan kembarannya sebenarnya satu aliran asupan makanan ke pusar sang ibu. Hanya kembarannya yang telanjur dimangsa virus. Egi tidak. Egi tidak tertular virus itu. Kata dokter memang dalam perut ibu, sang jabang bayi kondisinya berbeda dengan di luar. Artinya Egi masih cukup steril dari virus yang menyerang kembarannya itu. Maka Egi dilahirkan. Meskipun saat melahirkan aneka prediksi dan kemungkinan buruk harus membuat debar jantung kedua orang tuanya. Belum lagi pilihan moral, pilih ibu atau bayi. Pilih hidup atau mati. Namun Egi tetap lahir dengan selamat.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Egi yang masa bayinya kondisinya kurang menguntungkan, membuat dokter mengingatkan mamanya untuk mencukupi Egi dengan gizi. Mamanya pun sangat memperhatikan. Satu, dua, tahun hingga akhirnya Egi bisa meneruskan sekolah ke tingkat SMU. Namun semua berubah sejak September lalu. Kaki, tangan dan perut Egi mendadak bengkak. "Kamu habis makan apa...?", tanya mamanya cemas ketika melihat keadaan Egi lemah terbaring. Kalau pun Egi bisa menjawab, ia harus menahan rasa sakit yang menyerang tubuhnya. Meskipun akhirnya ia mengaku pada sang mama, habis jajan di sekolah tadi. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Penantian itu akhirnya menjadi nyata. Egi sakit. Egi akan mengalami hari-hari yang tidak lagi seperti dulu. Egi harus tergantung pengobatan. Ya, Egi dinyatakan dokter telah mengalami gagal ginjal. Salah satu ginjalnya sudah mengkerut dan yang satu lagi tidak normal keadaannya. Keputusannya, Egi harus menjalani cuci darah, seminggu 2 kali. Tiap Rabu dan Sabtu, ia harus ke RS Dokter Soetomo untuk menjalani pengobatan. Dengan biaya tak murah, sekali "laundry" begitu canda Egi suatu kali, ongkosnya Rp. 600.000,-. Ditambah biaya laboratorium, biaya obat ini-itu, belum lagi kalau ada kejadian-kejadian lain selama pengobatan, maka harus butuh obat-obatan lain yang tak murah. Total semua sebulan Rp. 9.000.000.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Tawaran satu-satunya kesembuhan lewat operasi cangkok ginjal, pernah jadi perhatian. Tapi tidak untuk angka Rp. 200.000.000 yang tak tahu dari mana dapatnya. Itu pun hanya biaya selama hampir 3 bulan di rumah sakit negeri Tirai Bambu. Selebihnya akomodasi dan sebagainya masih harus dihitung tersendiri.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Entah dari mana semua angka itu bisa terpenuhi. Perlahan-lahan semua akan terkuras untuk pengobatan Egi. Ya, karena Egi mau sembuh dan tak mau menderita. Sementara mamanya, sejak 3 tahun lalu telah menjanda, karena sang papa terkena serangan jantung dan meninggal. Kini hanya menjahit saja. Itupun jika ada order. Padahal kedua adiknya juga butuh biaya sekolah, yang nomer dua masih SMP dan adik bungsunya masih TK.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sebenarnya ada yang hendak membantu, yaitu LSM yang peduli dengan orang sakit ginjal. Namun ketika disurvei, rumah Egi di tepi jalan ganda dan tipe pojok agak besar, membuat sang pendonor mundur dengan alasan, tidak sesuai dengan aturan. Egi bukan kategori yang harus dibantu. Juga ketika mencoba mencari dana miskin dari kelurahan dan kecamatan, kondisi rumahnya lagi-lagi membuat nama Egi tersingkir untuk mendapat dana pengobatan murah. Mamanya yang mencoba melobi petugas kelurahan pun cuma memelas karena ditolak lagi. Memang masih ada asuransi namun item untuk cuci darah tidak termasuk di sana dan hanya bisa mengadapatkan klaim untuk biaya pengobatan dari apotik.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sebelum semua terjadi, mama Egi dengan tabah sekuat tenaga mengusahakan yang terbaik buat anaknya. Semua usaha yang mungkin dan dukungan teman-teman telah ia kerahkan untuk sedikit meringankan beban merawat anak tercintanya. Ketika harus mengantar Egi naik kereta komuter Sidoarjo-Surabaya PP, terpaksa si bungsu dititipkan kenalan dekat sekolah TK. Yang nomer dua, bahkan harus mandiri, bawa kunci dan pulang sendiri sementara mama dan Egi harus ke rumah sakit. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Pernah suatu kali sepulang dari rumah sakit, sang mama menjumpai pintu belakang terbuka sementara kedua anaknya yang lain ada di dalam. Hanya elusan dada Puji Tuhan, ketika dijumpai keadaan rumahnya masih baik-baik saja. Memang semua harus tercurah ke Egi. Tak kenal waktu, entah pagi, entah malam, entah tengah malam atau menjelang pagi, sang mama dan kedua adiknya mengerti untuk melakukan yang terbaik buat Egi.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Pernah suatu kali, Egi usai cuci darah kondisinya masih lemah. Sementara harus berjalan ke Stasiun Gubeng mendadak pingsan. Kereta nyaris berangkat, sang mama dengan sisa-sisa tenaga dan memanggil beberapa tukang becak, tubuh Egi diangkat supaya segera duduk dalam kereta komuter yang tak nyaman. Dalam perjalanan itu Egi tak sadar. Hanya dengan ketabahan seorang mama, maka Egi masih bisa pulang dan kembali normal. Dengan kondisi fluktuatif semacam itu, kadang baik, kadang tertawa, kadang kuat, kadang lemah tak berdaya, bengkak, rasanya tak mengubah apa-apa, kecemasan selalu menjadi teman.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Egi ketika baik pernah bercerita tentang rasa BT nya. Tentang guru les organ yang selalu tanya-tanya keadaannya, tentang pengunjung-pengunjung rumah yang baginya cuma membebani dan menyebalkan dengan pertanyaan, tentang dirigen yang mengatakan iringannya buruk, padahal ia mengaku sudah maksimal, hanya karena saat itu kakinya bengkak. Tentang teman-teman sekolahnya yang ketika bertemu di Gereja, megatakan bahwa ia masih jadi sekertaris kelas, tetapi Egi tak pernah masuk dan selalu ditulis absen dengan alasan sakit. "Kalau tahu aku sakit, kok ya nggak nengok...", begitu harapan Egi tentang teman sebayanya yang sebenarnya lebih bisa menjadi teman berbagi ketika dia tak lagi bisa sekolah, tak lagi bisa bercanda dan tertawa-tawa dengan mereka.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Satu yang masih belum bisa dilakukan Egi untuk pasrah, untuk berdoa. Tiap malam ketika mama dan kedua adiknya mengajak berdoa, di akhir doa Egi selalu berkata "doanya kok panjang banget seh". Serupa penat yang mau dikatakannya untuk sebuah pertanyaan yang tersimpan dalam, mengapa harus mengalami sakit begini ? &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Semoga dengan segala keterbatasan keluarga, sahabat, kenalan para sosiawan dan baik budiman, semoga dalam kepedihan, dalam sumpek, dalam sesal dan dalam salib sekalipun, masih ada harapan. Paling tidak untuk mencoba memanggulnya lagi, lagi dan lagi. Setiap hari entah sampai kapan...&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3662880644844210942-2771334982264556516?l=catatanpastoral.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3662880644844210942/posts/default/2771334982264556516'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3662880644844210942/posts/default/2771334982264556516'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatanpastoral.blogspot.com/2007/12/elegi-buat-egi.html' title='Elegi Buat Egi'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/R1IwjfrljSI/AAAAAAAAAQs/bcGDq-hmabc/s72-c/sakit3.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3662880644844210942.post-47298700375389899</id><published>2007-11-13T19:57:00.000-08:00</published><updated>2008-12-09T21:57:36.487-08:00</updated><title type='text'>Cinta Sejenis</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/RzpzuOKGZ2I/AAAAAAAAAF0/tqM6beuJtdY/s1600-h/3890069011.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5132541963253737314" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/RzpzuOKGZ2I/AAAAAAAAAF0/tqM6beuJtdY/s320/3890069011.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Seorang yang kini berpisah dengan suaminya. Mengapa berpisah ? Karena dia merasa tidak mencintai suaminya. Katika menikah, ada unsur terpaksa dan menyenangkan ortu saja. Selama menikah, komunikasi tidak hangat, kaku dan dia merasa tidak bisa membohongi dirinya sendiri, bahwa sebenarnya ada kecenderungan lesbi dalam dirinya. Hal itu sudah dikenalinya sejak TK, ketika sosok gurunya perempuan justru pernah membuatnya jatuh hati. Ortunya juga tahu kecenderungannya itu, namun memaksa menjodohkan sehingga pada saatnya pernikahan itu bubar. Kini si suami hidup dengan istri barunya di Bali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, masalahnya kini dia sendirian dengan seorang anak hasil pernikahannya dengan suami itu. Ada rasa "seorang diri" yang menghantuinya. Selama ini masih ada ortunya dan bisnis ortunya, dia mampu ditopang oleh ortunya. Dia kebetulan anak tunggal. Namun akhir2 ini dia merasa akankah dia tetap sendirian...? Dan masa depan itu menakutkannya, ada keinginan untuk punya suami yang menemani dan menopang hidupnya, tetapi dia merasa tak bisa secara psikis karena kecenderungan lesbinya. Ketika keinginan punya suami itu ditekan, dia justru cemas dengan masa depannya yang akan seorang diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di lain pihak, ada kepastian yang diyakininya dari baca buku bahwa kecenderungan lesbi yang ada dalam dirinya sejak kecil tak akan bisa hilang dengan cara apapun. Dan jikalau menikah, lagi-lagi dia harus berbohong dengan dirinya dan menindas batinnya. Sebuah situasi yang sangat sulit baginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mengatakan kepadanya. Bahwa kecenderungan itu bisa sembuh. Kamu bisa jadi perempuan normal, kalau kamu mau. Mintalah pertolongan Tuhan dan terbuka dengan rahmatNya. Seperti kasus ada orang yang divonis mati dalam bebeapa hari saja karena kanker...akhirnya bisa sembuh dan hasil lab normal semua. Sementara dia merasa itu tidak mungkin dan kecederungan mengasihi wanita lebih besar, meskipun tak sekalipun pernah kontak fisik secara lesbi.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kecenderungan lesbi itu bila hormonal, maka itu berarti dia memiliki anima dan animus yang tidak seimbang (hormon wanita dan lelaki) yang membuatnya lebih tertarik pada wanita. Namun ini jarang terjadi, kecuali bagi para banci atau mereka yang memiliki dua alat kelamin. Karena hormon ini langsung berhubungan dengan bentuk fisik. Apakah fisiknya kelaki-lakian? Atau memiliki penis? Kalau tidak, maka kemungkinannya adalah faktor psikis. Mungkin juga pengalaman-pengalaman masturbasi dengan teman wanita di masa kecil (mungkin dia tidak mengaku karena malu, dan mengatakan tidak pernah kontak fisik). Biasanya kecenderungan itu sangat kuat ketika sudah mempunyai pengalaman, jadi tidak mungkin hanya karena membayangkan. Bisa jadi dikuatkan lagi karena sering melihat video atau gambar-gambar lesbian. Jadi inilah sebab utamanya secara psikologis. Pengalaman ini menjadi lebih buruk lagi karena pengalaman dengan suami (lelaki) akhirnya berakhir dengan buruk juga. Hal ini membuat dia menjadi semakin kuat ke lesbiannya. Mungkin rangsangan teman wanita lebih memberinya kenikmatan, karena mereka lebih memahami rangsangan untuk masing-masing, yang lebih tepat. Justru hubungan seks dengan suami dialami sangat kering dan sering belum cukup rangsangan, sudah selesai. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Bila ini pengalamannya, maka sebenarnya yang terjadi adalah penolakan akibat lelaki kelihatannya tidak mampu memberikan kenikmatan seperti dialami dengan teman wanita. Cara satu-satunya keluar dari masalah ini:1) mengontrol diri dan sekaligus keinginan-keinginan seksualnya. 2) menghindari membayangkan hubungan dengan wanita, apalagi kontak fisik.3) menyibukkan diri pada karier yang lebih menyerap energinya 4) memutuskan untuk tidak harus kawin -- toh hidup sendiri bisa juga dinikamati sendiri.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Mungkin itu satu cara hidup yang bisa dicobanya, kalau semakin kuat kecenderungan lesbinya berarti dia memang sering membayangkannya, dan ini dimungkinkan lagi oleh filem atau video yang memang sering lebih menyenangkan dibandingkan dengan hubungan lawan jenis yang seninya sangat simple. Kalau demikian dia harus mengontrol diri, jangan sampai semakin terjerumus.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3662880644844210942-47298700375389899?l=catatanpastoral.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3662880644844210942/posts/default/47298700375389899'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3662880644844210942/posts/default/47298700375389899'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatanpastoral.blogspot.com/2007/11/cinta-sejenis.html' title='Cinta Sejenis'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/RzpzuOKGZ2I/AAAAAAAAAF0/tqM6beuJtdY/s72-c/3890069011.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3662880644844210942.post-6152129367417934516</id><published>2007-10-11T04:49:00.000-07:00</published><updated>2008-12-09T21:57:36.715-08:00</updated><title type='text'>Dialog Takjil</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/Rw4OjCfqcPI/AAAAAAAAAFs/ga_yAK8weps/s1600-h/dar9.h4.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5120045821494718706" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/Rw4OjCfqcPI/AAAAAAAAAFs/ga_yAK8weps/s320/dar9.h4.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Salam damai. Sungguh menggembirakan menyaksikan setiap hari selama bulan Ramadhan, umat Katolik St. Maria Annuntiata membagikan takjil gratis di depan Gereja. 12 Wilayah, 2 Sub Seksi dan 5 Organisasi di bawah naungan Paroki St. Maria Annuntiata, Sidoarjo saling bahu membahu di bawah koordinator Seksi Hubungan Antar Agama Dan Kepercayaan (HAK) telah melaksanakan kegiatan tersebut. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Satu wilayah saya temui, untuk menyiapkan sebungkus ketan, roti, aqua mengeluarkan biaya @ Rp. 2.000,-. Wilayah lain menyiapkan sebungkus es kelapa muda, dan dua jenis roti mengeluarkan dana yang tak jauh berbeda. Selama berlangsungnya kegiatan, rata-rata komposisi paketnya hampir sama. Rata-rata semua menyediakan jumlah yang sama, 250 paket takjil. Bahkan ada yang lebih hingga mencapai 300-350 paket. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Bagi wilayah yang kas keuangannya banyak memang tidak jadi masalah. Apalagi jika anggota wilayahnya boleh dikatakan cukup. Menariknya, ada satu wilayah yang sering mengatakan wilayahnya berbeda dari yang lain, dalam arti kondisi keuangannya minim pun, tetap berpartisipasi membagikan takjil. Entah darimana datangnya dana tambahan, padahal dari seksi HAK Dewan Paroki hanya memberikan subsidi Rp. 100.000,-. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sejak awal ketika bertemu dengan para ketua wilayah atau yang mewakilinya, juga kelompok lainnya, saya mengatakan kegiatan ini positif dan mendukungnya. Jika seluruh wilayah mendukung, sebagaimana yang sudah terjadi, berarti apa yang dimulai Seksi HAK mendapat dukungan. Pada kesempatan membagikan takjil, saya sempat menyaksikan semua berlangsung dengan baik. Tidak ada masalah dan keluhan yang berarti. Artinya memang kegiatan ini, secara intern memang baik. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Lalu bagaimana dengan tanggapan secara ekstern. Koordinator acara ketika akan meminta dukungan Ketua RT pun disarankan tidak perlu membuat surat. Karena Ketua RT meyakinkan bahwa kalau kegiatan itu baik mempersilahkan saja. Beliau bahkan mengatakan bahwa apa yang dilakukan, dalam kacamata umat Islam, pasti mendatangkan pahala. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Lain lagi pendapat Bapak Kepala Badan Kesatuan Bangsa Dan Lintas Masyarakat (Bakesbanglinmas) yang datang menyaksikan langsung pembagian takjil dan berkunjung ke pastoran, didampingi Ketua Walubi Sidoarjo yang kebetulan juga pengurus Forum Komunikasi Antar Umat Beragama (FKUB), Kabupatan Sidoarjo. Mereka berdua tertarik dan sangat mendukung kegiatan ini. Bahkan, secara khusus mereka berniat menjadikan kegiatan di depan gereja kita sebagai pilot project percontohan untuk kegiatan Ramadhan di masa mendatang. Tanpa ragu-ragu mereka meminta lembaran proposal kegiatan ini. Mereka mengapresiasi kegiatan ini sungguh memberi warna positif dalam konteks membina hubungan antar agama. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kawan-kawan muda Pergerakan Muda Islam Indonesia (PMII) menilai bahwa kegiatan itu sebagai satu-satunya di kota Sidoarjo. Dalam pengamatan mereka, hanya Gereja Katolik yang melaksanakan kegiatan membagikan takjil setiap hari, selama bulan Ramadhan. Mereka pun sangat aspresiatif menyaksikan umat Katolik memiliki kegiatan semacam ini. Padahal di kalangan umat Islam sendiri, kegiatan itu belum menjadi kegiatan yang terprogram dengan baik, bahkan tidak ada yang rutin setiap hari. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Lepas dari kebanggaan memuji diri berlebihan (oratio pro domo), saya menilai kegaitan ini positif sekaligus membanggakan. Di empat paroki lain yang saya tempati, belum pernah ada kegiatan rutin, semacam ini setiap hari selama Ramadhan. Lebih dari itu, meskipun tidak wah dan sangat sederhana, kegiatan ini merupakan dialog karya yang sangat efektif untuk menjalin persaudaraan dan kerukunan antar umat beragama. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dalam Surat Dewan Kepausan Untuk Dialog Antar Umat Bersgama, Pesan Untuk Akhir Bulan Ramadhan, Idul Fitri 1428 H / 2007, Jean-Louis Kardinal Tauran (Ketua) dan Uskup Agung Pier Luigi Celata (Sekretaris) mengatakan, “&lt;em&gt;Hal yang patut diperhitungkan adalah: tuntutan bahwa suatu budaya damai dan solidaritas antarmanusia dapat dibangun, di mana setiap orang dengan teguh dapat terlibat untuk membangun masyarakat persaudaraan yang semakin meluas. Sebagai umat beragama yang beriman, adalah kewajiban kita semua untuk menjadi pembina-pembina perdamaian, hak-hak azasi manusia dan kebebasan yang menghargai setiap pribadi, tetapi juga untuk menjamin semakin kuatnya ikatan-ikatan sosial yang ada, karena setiap orang harus memperhatikan saudara dan saudarinya tanpa diskriminasi. Bersama-sama, sebagai warga dari pelbagai tradisi agama yang berbeda-beda, kita semua dipanggil untuk menyebar-luaskan suatu ajaran yang menghormati semua manusia sesama ciptaan, suatu warta cinta-kasih baik antar-pribadi maupun antar-bangsa. Pertama-tama hal ini menjadi tanggungjawab keluarga-keluarga, kemudian juga mereka yang terlibat dalam dunia pendidikan, dan tentu saja juga para pemuka masyarakat, baik sipil maupun keagamaan. Dalam semangat yang seperti itulah upaya dan peningkatan dialog antara Umat Kristiani dan Umat Islam harus dianggap penting, baik dari sudut pandang pembinaan maupun dari sudut pandang budaya. Dengan demikian maka dapat dikerahkanlah segala kekuatan untuk pelayanan bagi umat manusia dan kemanusiaan. Dialog adalah sarana yang dapat membantu kita untuk melepaskan diri dari lingkaran konflik yang tak berujung dan pelbagai ketegangan yang menandai masyarakat kita saat ini, sehingga semua bangsa dapat hidup dalam ketenangan dan kedamaian serta dengan saling menghargai dan terpadu dalam keharmonisan di antara kelompok-kelompok yang membentuk mereka&lt;/em&gt;”. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sambutan Dewan Kepausan yang diserukan dari Vatikan, Italia dan kegiatan pembagian takjil di Paroki St. Maria Annuntiata, Sidoarjo, ibarat tumbu oleh tutup. Jika ditanya, apa makna atau nilai kegiatan membagikan takjil ? Penerusan budaya damai, solidaritas, penguatan ikatan-ikatan sosial, penghormatan semua manusia sesama ciptaan, warta kasih, dialog, ketenagan, kedamaian, keharmonisan, itulah nilai-nilai positif yang telah ditawarkan dan akan terus diperjuangankan. Bukan hanya di depan gereja sebagai satu “show” kesatuan Umat Katolik, namun hendaknya menetes ke wilayah, lingkungan dan keluarga kita masing-masing. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dialog takjil, jika boleh saya menyebutnya demikian, sebenarnya bukan barang mewah, karena harganya satu paket, tak lebih dari Rp. 2.500 - 3.000,-. Bukan pula diskusi otak, karena tak perlu mengerutkan dahi, melainkan hanya mengandalkan ketulusan dan senyuman ketika membagikan. Bahkan bukan dialog teologis, yang justru hanya berdebat dan saling membenarkan ajaran agama masing-masing. Dialog takjil, dengan demikian merupakan dialog karya yang nyata meskipun sederhana, yang punya daya meskipun kita menganggapnya biasa dan tak sempurna. Yang lain, mungkin melihat dengan sebelah mata. Tetapi justru ada orang bukan Katolik yang melihatnya dengan dua mata. Selamat berlibur, selamat mudik. &lt;em&gt;(A. Luluk Widyawan, Pr)&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3662880644844210942-6152129367417934516?l=catatanpastoral.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3662880644844210942/posts/default/6152129367417934516'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3662880644844210942/posts/default/6152129367417934516'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatanpastoral.blogspot.com/2007/10/dialog-takjil.html' title='Dialog Takjil'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/Rw4OjCfqcPI/AAAAAAAAAFs/ga_yAK8weps/s72-c/dar9.h4.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3662880644844210942.post-3368679637639926700</id><published>2007-09-22T11:57:00.000-07:00</published><updated>2008-12-09T21:57:36.953-08:00</updated><title type='text'>Anak-Anak Di Dalam Gereja</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/RvVmCyfqcOI/AAAAAAAAAFk/jas9MB3cN_0/s1600-h/untitled.bmp"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5113105150049415394" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 253px; CURSOR: hand; HEIGHT: 177px; TEXT-ALIGN: center" height="210" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/RvVmCyfqcOI/AAAAAAAAAFk/jas9MB3cN_0/s320/untitled.bmp" width="274" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Harus diakui, jumlah anak di Paroki St. Maria Annuntiata, Sidoarjo sangatlah banyak. Data kasar menunjukkan, setiap perayaan Natal dan Paskah harus disediakan bingkisan Natal sebanyak 1.500 bungkus. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dalam kunjungan ke wilayah-wilayah, banyaknya jumlah anak ini juga terungkap. Di beberapa wilayah, banyaknya anak diikuti dengan pembinaan BIAK yang bagus. Hal ini tentu menggembirakan. Namun di beberapa wilayah lainnya, banyaknya anak justru diikuti dengan pembina yang loyo. Padahal dalam catatan, ada 100 orang yang pernah diikutkan dalam Sekolah Bina Iman yang ditangani Keuskupan. Rupanya, perlu ada keaktifan bagi pembina anak-anak untuk kembali memperhatikan mereka. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, anak-anak dianggap sebagai faktor ketidak-khusukan misa pada Misa Minggu. Anak-anak dianggap sebagai sumber keributan, suka berlari-lari, berjalan-jalan ke panti imam dan membuat suasana Misa tidak mengenakkan bagi umat tertentu. Hal ini kembali mencuatkan wacana untuk memperhatikan anak-anak, khususnya pada saat Misa. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Beberapa cara sudah ditempuh, mulai dari menempatkan mereka di luar, lalu ke pinggir semakin dekat dengan kamar mandi yang tidak mengenakkan bagi anak. Selain upaya mengadakan sekolah minggu pada Misa kedua jam 08.00. Rupanya bagi sebagian orang Misa masih tetap tidak khusuk, bahkan ada yang memilih misa di tempat lain, daripada misa di Parokinya sendiri. Ada pula tawaran memfungsikan para petugas tata tertib. Usulan ini tidak semudah itu diterima, karena mestinya yang ditekankan pembinaan dari dalam, menekankan kalau anak ke Gereja untuk misa, berdoa. Dan lagi ke Gereja berbeda dengan pergi ke Mal atau ke alun-alun. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya muncul wacana, betapa pentingnya peran orang tua untuk menjadi pembina utama bagi anak. Anak harus disadarkan bahwa ke Gereja untuk menghadap Tuhan dan berdoa, selama misa anak harus didampingi agar tidak seenaknya, anak perlu ditegur kalau sudah menimbulkan kekacauan selama Misa. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Orang tua memang pada lapis pertama pembinaan dan pendampingan iman anak. Ada lapis lain yang harus ditempuh, ialah melalui pendidikan agama / iman di sekolah masing-masing dan pembinaan melalui bina iman anak. Maka, dalam konteks paroki, anak-anak menjadi tanggungjawab lingkungan dan wilayah masing-masing untuk mendapatkan pembinaan secara intensif. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak bagaimanapun adalah masa depan Gereja. Anak adalah aset. Anak sebenarnya jauh lebih mudah dibina dan diarahkan. Maka, kesempatan yang baik ini perlu dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk mendampingi anak-anak. Yesus sendiri mengatakan, “Biar anak-anak, datang kepadaKu”. Kita sebagai umat paroki hendaknya menjadi fasilitator agar anak-anak dapat berjumpa dan bertemu Yesus, dalam arti mengalami Yesus dalam masa kecil mereka. Kelak, jika mereka menjadi remaja dan dewasa, mereka akan melihat sendiri, betapa berharga dan berartinya pembinaan di masa anak-anak mereka. Hal itu akan membekas dalam kehidupan mereka yang berakibat positif dalam perjalanan iman mereka berikutnya. Dengan demikian, pembinaan anak di masa kini, adalah terwujudnya Gereja yang berkualitas di masa depan. &lt;em&gt;(Sidoarjo, 22/09/07)&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3662880644844210942-3368679637639926700?l=catatanpastoral.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3662880644844210942/posts/default/3368679637639926700'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3662880644844210942/posts/default/3368679637639926700'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatanpastoral.blogspot.com/2007/09/anak-anak-di-dalam-gereja.html' title='Anak-Anak Di Dalam Gereja'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/RvVmCyfqcOI/AAAAAAAAAFk/jas9MB3cN_0/s72-c/untitled.bmp' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3662880644844210942.post-7886707898063673812</id><published>2007-09-17T11:34:00.000-07:00</published><updated>2007-09-17T11:37:37.797-07:00</updated><title type='text'>Refleksi Berkatekese: Tetaplah Menabur</title><content type='html'>1. Saya menerima penerusan dari Rm. Cuncun, per September 2005. Dalam pertemuan evaluasi katekese APP Regio III bertempat di Bruderan CSA, Madiun. Saat itu saya tidak mengetahui apa yang dimaui Rm. Cuncun dan tidak memiliki jam terbang berkatekse. Saat itu Rm. Cuncun menyambut tugas baru sebagai Ketua Komisi Kepemudaan Keuskupan Surabaya. Sementara saya sendiri selama itu telah mengurusi Gua Maria, Sendang Waluya Jatiningsih, Klepu, Ponorogo yang cukup menyita waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Tema yang harus kami kerjakan untuk persiapan APP 2006 ialah Korupsi, tepatnya Membebaskan Diri Dari Budaya Korupsi. Sebuah tema abstrak yang seperti berseru-seru di padang gurun dan harus diserukan ke tengah-tengan umat di Regio III. Ada rasa pesimis ketika di awal harus melihat hasil akhir apa yang akan dicapai. Sementara korupsi saya pahami sebagai sebuah tindakan yang sulit diberantas dan sudah mendarah daging dalam cara pikir dan cara bertindak sebagian besar masyrakat dan umat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Ketika mengawali membuat bahan katekese dengan tema Korupsi, pikiran pertama saya adalah bagaimana kita harus menyerukan penolakan terhadap korupsi. Resikonya ialah berseru-seru di padang gurun. Meskipun mission impposible, mission tetaplah mission, demikian pedoman saya secara pribadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat awal berkumpul di Madiun untuk menggarap bahan katekese APP tersebut, belum terlihat dengan jelas apa yang akan dibidik, apa yang akan dijadikan sasaran perubahan dan apa yang akan ditawarkan kepada umat. Yang terjadi adalah penerusan bahan-bahan berkaitan dengan korupsi dari berbagai referensi, sudut pandang dan perspektif iman Katolik yang semuanya masih serba mentah. Namun dari paparan referensi itu, mulai kelihatan apa yang akan dijadikan perhatian dalam katekese nanti meskipun tetap kabur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lewat proses awal pembuatan rancangan bahan (outline), kami mulai berdiskusi tentang bahan dari bab per bab. Di antara kami mulai berpikir dan berpendapat bebas dan cepat (brainstorming), lalu saling mempertajam, saling mengkritisi dan saling beradu argumentasi. Tiap ide, tiap gagasan dan tiap pendapat poin-poinnya kami tulis dan catat. Hasil olah pikir bersama yang tertuliskan itu kemudian, satu-persatu diatur, ditata dan dirumuskan. Paling tidak mendekati runtut, logis dan sesuai dengan konteks Regio III.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saatnya menentukan rancangan bahan secara menyeluruh ialah dengan menggunakan alur see-judge-act dalam proses berkatekese. Pertemuan pertama dan kedua merupakan penjabaran dari proses see. Pertemuan ketiga merupakan proses judge. Lalu pertemuan keempat sebagai tawaran nilai, berdasarkan ajaran iman Katolik. Dan pertemuan terakhir sebagai proses act, lebih berkaitan dengan pilihan pertobatan apa yang bisa dibuat, tindakan nyata apa yang bisa dilakukan, sikap apa yang perlu diwujudnyatakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saatnya, perlulah dirumuskan semacam rancangan bahan jadi yang cukup menjadi arah bagi kami untuk melangkah pada proses berikutnya, ialah pendagingan. Di dalam proses pendagingan yang akan dilaksanakan, rancangan bahan jadi pun tidak kebal perubahan. Pendapat yang mempertajam, mengkritisi dan adu argmentasi masih bisa muncul dan didengarkan. Namun rancangan bahan jadi yang ada cukup menjadi batas agar ide-ide baru yang muncul tidak lagi liar, namun tinggal digabungkan jika pas dan dibuang / diubah jika tidak pas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejalan dengan proses pendagingan yang dimulai, muncul juga ide menata bahan pada tiap bab. Karena itu, alur tiap bab pun disempurnakan. Paling tidak berisi, pokok pikiran, langkah-langkah pertemuan (pertama: doa pembukaan, pengantar, kedua: sarasehan iman yang berisi pengalaman yang terjadi, yang dilihat, yang banyak terjadi, yang dialami, dirasakan, diprihatinkan, sekaligus menyediakan ruang bagi peserta untuk berdiskusi, memecahkan persoalan bersama dalam diskusi, menentukan sikap dalam menanggapi isu yang diluncurkan dalam sarasehan iman melalui pertanyaan, lalu dipertajam dengan refleksi Kitab Suci dan pertanyaan-pertanyaan, kemudian dilanjutkan dengan belajar dari budaya, belajar dari ajaran iman dan diakhiri dengan proses penutup, ketiga: peneguhan dan doa penutup). Hal ini menjadi semacam alur yang baku dalam tiap bab. Sehingga terlihat jelas apa yang akan dituju, dijadikan perhatian dan sasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alur tiap bab pun sebenarnya menggambarkan proses see-judge-act itu hal ini terutama tampak dalam sarasehan iman, sebagai proses see. Dalam diskusi, adu argumentasi sebagai pencarian dan penentuan pilihan yang terbaik oleh umat sendiri, dapat dipandang pula sebagai proses judge. Demikian pula peneguhan dan doa penutup, masih dalam konteks judge. Sedangkan act nya, seakan masih tersimpan hingga saatnya pertemuan kelima. Saat itu, peserta akan menanggapi dengan keprihatian, pilihan-pilihan tindakan dan pertobatan apa yang akan diwujudnyatakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penajaman dan perubahan masih terjadi dalam pertemuan tingkat Keuskupan. Di mana tiap-tiap regio berkumpul memaparkan sejauh mana hasil pekerjaan mereka dan mendapat tanggapan dari regio lain secara bergantian. Proses ini memang sering kali alot, karena tiap regio jatuh pada paradigma masing-masing ketika melihat bahan regio lain. Namun dalam pola uji materi seperti ini justru ada sisi positifnya, ialah masukan, kerjasama saling melengkapi bahan bahkan sampai tukar-menukar bahan antar region, baik bahan tulisan, gambar maupun ide. Sebagai contoh, bahan dari region III tidak jarang dikopi oleh Regio I dan IV, sementara kami meminta bahan gambar dari Regio IV. Suasanan kekeluargaan dan saling mengisi antar regio yang telah terbina selama ini, yang meneguhkan kerjasama itu, bukan lagi persaingan antar region.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses pembuatan bahan bergulir sejak bulan September, yang berlangsung setiap minggu, tepatnya hari selasa sore. Proses dalam regio dipertajam di tingkat Keuskupan hampir setiap bulan berikutnya, biasanya pada awal Oktober dan awal November. Nyatalah bahwa hampir setiap selasa sore sejak bulan September hingga November akhir proses pembuatan bahan itu berjalan. Syukurlah bersama tim katekese APP, region III ini, saya merasakan tidak ada kesulitan yang berarti. Yang dapat dikatakan, saya in bekerjasama dengan tim katekese APP, region III.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada awal bulan Desember, adalah kesempatan pemaparan di tingkat keuskupan yang terakhir kalinya. Tidak ada perubahan yang berarti. Namun kami masih mendengarkan masukan dari region lain dan menyatukan dengan visi PSE Keuskupan. Kami kembali ke tingkat region dengan tambal sulam seperlunya, karena pada dasarnya bahan sudah jadi 80 %. Selain itu, kami sudah merancang jadwal sosialisasi dan merencanakan menghubungi pastor kepala paroki di regio III untuk mengadakan sosialisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di akhir bulan Desember, sebagaimana kesepakatan di tingkat Keuskupan, maka draft bahan jadi akan dimintakan imprimatur kepada Pejabat Keuskupan. Ada pengalaman bahwa waktu kembalinya bahan tersebut cukup lama, sehingga memaksa kami untuk mencetakkan bahan tersebut. Sebenarnya jatah waktu untuk permohonan imprimatur maksimal 1 minggu saja, sehingga begitu selesai, kami bisa mencetakkan bahan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses pencetakkan berlangsung selama 2 minggu. Setelah proses pencetakan berlangsung, kami mengadakan pertemuan teknis sosialisasi, sambil melihat-lihat bahan yang telah jadi. Jika ada kekurangan, salah cetak dan catatan lain, kami catat untuk disampaikan dalam sosialisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama proses sosialisasi, yang kami lakukan adalah turun ke paroki-paroki secara langsung untuk berjumpa dengan para pemandu. Ada beberapa paroki yang terbagi dalam 3 kali pertemuan yaitu di wilayah Ponorogo, sedangkan Ngawi terbagi dalam 2 kali pertemuan. Hal ini mengingat jarak dan banyaknya jumlah umat yang ada di paroki tersebut. Dalam sosialisasi selain menyampaikan gagasan dasar bahan katekese APP, kami juga mendapat masukan, kritik dan saran berkaitan dengan bahan APP. Penilaian dengan metode sampling oleh para pemandu pada umumnya memuaskan kami sebagai pembuat bahan. Hal ini bisa dilihat pada grafik sebagai rekap hasil evaluasi yang terkumpul. Semua itu tidak membuat kami besar kepala, tetapi merupakan pemicu untuk tetap konsisten dan memperbaiki lubang yang kurang dalam katekese kami. Masukan-masukan tetap kami dengarkan, dalam arti ada yang sungguh-sungguh kami ubah dalam karya katekese APP tahun berikutnya. Perubahan itu misalnya, pengadaan bahan berbahasa Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Sebagai catatan akhir, saya berusaha memberikan beberapa gagasan yang sempat terlitas di kepala, masukan yang sangat berarti, namun masih belum terwujudkan dengan baik:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Tim&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Berkaitan dengan tim. Tim katekese Regio III, saya nilai cukup kompak dalam bekerjasama dengan saya pribadi. Meskipun kerja kita saya boleh nilai serius tapi santai dan terlebih cukup efektif (mengingat ada regio yang masa pertemuannya sampai 16 kali pertemuan dan semuanya menginap).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tim selalu siap dibawa untuk bertemu dan bekerja, tanpa pernah rekreasi atau penyegaran (up grading, hal ini akan menjadi catatan Panitian APP Keuskupan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tim sebaiknya dapat menebarkan keterampilan yang telah dimilikinya di tingkat region untuk menyebarkan pengalamannya di tingkat paroki masing-masing. Agar pengalaman katekese yang berharga ini juga dapat dialami banyak orang. Salah satu rencana katekese sesuai semangat SAGKI gagal dilaksanakan karena berbagai keperluan yang meminta perhatian lebih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bahan&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Tidak ada cara lain untuk mempertahankan alur standar pembuatan bahan ialah pembuatan rancangan, menentukan bidikan mana yang mau digarap, metode singkat spiral pastoral serupa see-judge-act serta pendagingangan yang mengindahkan pengalaman anggota tim. Pengalaman, sharing, kisah ini sangatlah berharga karena lebih mendekati situasi yang akan dijadikan sasaran katekese.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahan meskipun pembuatannnya seringkali alot, buntu dan runtutan alurnya terbalik, seperti saat membuat tujuan, padahal bahannya sudah jadi. Namun secara keseluruhan sampling pemandu mengatakan bahwa bahan cukup bermutu dan memuaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahan selalu disertai dengan pola yang sama, memiliki lagu-lagu penunjang, lebih dekat dengan pengalaman umat setempat (paling tidak mendekati), memakai orang pertama (aku) sehingga menghindari unsur bias.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Katekese&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Katekese memang adalah mewartakan iman. Iman yang nyata, yang sebaiknya dihidupi, diwujudkan dalam wujud nyata. Maka, titik berangkatnya juga dari situasi nyata. Situasi nyata yang tidak sesuai dengan iman itulah yang seharusnya dijadikan sasaran pertobatan. Maka, katekese tidak sekedar mewartakan iman, memberikan ajaran iman, namun lebih dari itu ialah mengajak untuk bertobat, mengajak untuk berubah atau sekaligus menawarkan budaya baru, memberikan alternatif perilaku baru, sebagai bentuk pertobatan. Ibarat pistol, katekese adalah pelatuknya. Katekese serupa motivator, pendorong dan penggerak. Katekse dalam hal ini menyajikan  realitas, menakar dengan ajaran Kitab Suci dan ajaran Gereja lainnya, sehingga umat tergerak untuk mewujudnyatakan dalam tindakan baru. Pada akhirnya dapat dipahami adanya katekese APP seharusnya katekse yang menggubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan penting yang ditanyakan umat, ialah mengapa kita yang harus berubah / bertobat sementara umat bukan pelakunya. Pertobatan meliputi berbagai macam aspek, personal dan sosial sekaligus komunal. Bidikan pertobatan masa prapaska ialah pertobatan sosial sekaligus komunal, bersama-sama seluruh Gereja, khususunya konteks Indonesia. Karena, bahan yang sama dipakai di seluruh Keuskupan di Indonesia. Sembari mengingat bahwa diam-diam di dalam tubuh Gereja juga ada satu dua pelakunya. Jika toh tidak, meskipun berarti sebuah sikap yang sombong, Gereja peduli dengan sitausi buruk itu dan terpanggil untuk memperbaikinya. Karena sikap diam berarti setuju dengan keboborokkan itu. Itulah dosa diam, silent is silver, speak is gold.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang kedua ialah, pertanyaan: sudahlah, kita disuruh berbuat apa sekarang. Pertanyaan tersebut tidak perlu buru-buru dijawab, karena pada dasarnya hukum yang sebaiknya berjalan adalah hukum proses. Betapa berartinya sebuah proses pertobatan, tidak sekali jadi, ada naik turunnya, ada semangat dan loyonya. Proses dari bawah down-up itulah yang dikehendaki agar sungguh-sungguh tindakan nyata bukti pertobatan itu. Bukan proses dari atas, up-down yang sudah bukan jamannya lagi, namun masih dihdupi oleh penganut paham paternalistik. Proses dari bawah cenderung lebih mantap, lebih teruji, lebih realistis. Jika toh memang hanya sebuah tindakan sederhana, jika hal tersebut bukti proses pertobatan yang sungguh-sungguh, maka sangatlah bermakna pertobatan yang dikehendaki sendiri oleh umat itu. Meskipun bahan tetap harus memberikan alternativ pertobatan, agar tidak melebar dan tidak tepat sasaran dengan pertobatan komunal yang sedang dijalankan pada masa prapaska.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harus diakui, di banyak tempat, entah paroki kota maupun desa, ada kecenderungan           umum bahwa doa-doa, kegiatan liturgi lebih laris manis, diminati dan didatangi       banyak orang daripada kegiatan katekse. Sepintas menyedihkan memang, mengingat pembuatan bahan telah menyita waktu, tenaga dan biaya yang tidak terukur. Namun justru di situlah peluang karya katekse yang sangat terbuka luas sekaligus tantangan bagi katekese. Bagaimana karya katekese agar menukik ke dalam hati umat, menyentuh umat, memotivasi umat, menggerakkan umat. Di sinilah penting dan stategisnya peran tim katekese. Katekekse yang dibawakan bukan lagi melulu ajaran iman, yang seharusnya beres di masa katekumenat dan ditunjang dengan katekese lapis lain berkaitan dengan ajaran iman. Katekese di sini seharusnya katekese yang menggubah dan menggerakkan, dalam arti tertentu mempertobatkan sehingga terwujud karya nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, tanpa perlu merasa risau, baiklah menyimak perumpamaan Yesus tentang benih yang ditaburkan. Mari kita berpikir tentang benih-benih berkualitas yang siap ditaburkan, cara-cara menaburkannya dan sedikit mendekati lokasi mana yang akan ditaburi benih. Satu hal yang penting ialah taburlah, taburlah dan tetaplah menabur. Ada banyak hal di luar dugaan dan jangkauan kita, ialah ilalang, burung maupun tanah kering yang akan menjepit, memakan dan mematikan benih yang ditaburkan. Namun, tetaplah menabur dan menabur melalui katekese. &lt;em&gt;(Disampaikan dalam perpisahan dengan Tim Katekese Regio III, Keuskupan Surabaya, Madiun, 17/09/2007)&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3662880644844210942-7886707898063673812?l=catatanpastoral.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3662880644844210942/posts/default/7886707898063673812'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3662880644844210942/posts/default/7886707898063673812'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatanpastoral.blogspot.com/2007/09/refleksi-berkatekese-tetaplah-menabur.html' title='Refleksi Berkatekese: Tetaplah Menabur'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3662880644844210942.post-8396508580053721981</id><published>2007-07-26T07:54:00.000-07:00</published><updated>2007-07-26T07:58:45.028-07:00</updated><title type='text'>Dua Kasus Cinta Dan Cognitive Behavior Theraphy</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;- On 4/13/07, &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kembali saya mohon tanggapan&lt;br /&gt;1. Seseorang yang merasa terbayangi dosa-masa lalu / luka batinnya. Bagaimana resep melupakan itu semua. Seseorang ini punya pengalaman buruk diputusin pacar, dendam dengan pacar, benturan dengan rekan kerja, menghadapi itu semua ia bisa menangis, meratapi hidup yang disimpulkannya sebagai: HIDUPKU BURUK. Dan merasa tak ada kekuatan serta putus asa untuk melangkah maju menatap hari depannya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Seorang cowok yang masih cinta ceweknya. Padahal ceweknya sudah tak mau dihubungi, tak mau bertemu. Tetapi karena cowok ini pernah memberi segala sesuatu, memberi uang, bingkisan dan merasa masih cinta dengan cewek itu...Sang cowok tak bisa melupakan dan ngotot memiliki cinta sag cewek. Jika ada kesempatan membaca, sudilan membantu saya. God bless you, thanks&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;+ Baru saja saya membaca secara cepat melalui "speed reading" kasus yang dibawah ini. Saya menemukan dua level masalah yang tidak sambung satu sama lain. Satu level abnormalitas dan level lain adalah sikap spiritualistis yang tidak sepenuhnya mendalam. Maka masalah ini menjadi sangat rumit. Komunikasi antar keduanya menjadi sulit dilakukan. Jadi kehidupan dua makhluk ini akan menjadi neraka terus, selama tidak ada kemungkinan untuk saling memahami dan merubah diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah level-1&lt;br /&gt;Suami X adalah seorang yang abnormal. Perkembangan seksnya sangat tidak normal. Ini ada banyak faktor penyebabnya. Selain hiperseks, juga banyak menonton (membentuk pola pikir dan pola rasanya) untuk menikmati seks yang jorok. Justru dalam kejorokannya itulah dia menikmati seksnya. Kalau lebih berat, nanti X akan bisa menikmati seks sambil menyiksa. Potensi ini akan ada, sebegitu perasaan agresif disatukan dengan kenikamatan seks, maka dia akan memiliki abnormalitas yang baru lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut saya ini mesti diterapi Romo. Karena dengan praktek yang mereka lakukan selama ini, berarti abnormalitas itu diperkuat dan diteguhkan. Sementara si-istri makin tertekan dan merasa jijik bahkan tidak memiliki keinginan untuk berhubungan seks. Jadi sebenarnya yang sedang terjadi itu adalah isteri sedang memadamkan gairah seksnya, karena setiap ingat seks selalu merasa jijik dan jorok. Sementara suaminya main bernafsu karena itu sungguh memuaskan keinginannya seksnya yang bisa diulang-ulang hingga bisa tahan berjam-jam. Pada waktu yang sama, isteri tidak bisa menikmati sama sekali seks itu karena sudah menolak semua pemanasan awalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan keluar:&lt;br /&gt;Suami harus diterapi dibawah orang yang profesional. Mau untuk diterapi, mau kerjasama. Memang ini butuh waktu yang lama. Juga butuh kemauan dan kehendak yang kuat. Tanpa itu, dia akan makin terikat dengan pola yang sekarang. Malah makin buruk!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Level-2&lt;br /&gt;Isteri merasa berdosa dengan praktek seks yang tidak biasa. Tambah lagi dengan norma-norma agama yang diinternalisasi telah membuka kesadaran bahwa itu adalah dosa. Ini memberikan rasa bersalah yang sangat kuat. Karena ini terulang terus setiap mereka mengadakan hubungan. Maka hal ini menjadi komplikasi baru dalam diri si-wanita untuk bersikap terhadap seks. Merasa seks ini jijik dan dosa. Dengan demikian membuat dia kehilangan gairah seks -- bahkan cenderung mati (freeged) dan tidak ingin berhubungan seks. Membayangkannya saja sudah merasa capek sekali. Depresi berat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan keluar:&lt;br /&gt;Wanita harus diterapi terhadap seksnya. Karena cenderung seks dikaitkan dengan perasaan bersalah dan dosa. Kalau dia sudah merasa freeged terhadap seks, maka itulah tandanya bahwa dia sudah memasuki tahapan yang berat. Jadi tidak akan mampu menikmati seks dengan lawan jenisnya nanti. Dengan demikian dia sedang mematikan salah satu deminsi kehidupannya sebagai manusia. Jadi mesti membantu wanita keluar dari masalah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalan lain:&lt;br /&gt;Saya melihat masalah lain. Kalau sudah punya anak, maka ini akan menimbulkan masalah ikatan yang lebih berat lagi. Jadi kalau menurut saya, sebagai profesional, saya lebih cenderung memberikan nasehat untuk membuat pilihan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Keluar dari situasi ini dengan meninggalkan suami seperti itu. Atau&lt;br /&gt;2) Mempertahankan perkawinan dengan sama-sama mau berubah dan mengikuti terapi profesional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemungkinan kesulitan:&lt;br /&gt;* suami tidak menerima, dan menganggap dirinya benar.&lt;br /&gt;* Isteri merasa gagal dalam hidup berumahtangga maka tetap dalam keadaan neraka seumur hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah tanggapan saya. Mungkin tanggapan saya pada point pertama kurang sesuai dengan nafas iman Katolik (istilah mereka Vatikan). Tapi menurut keyakinan moral saya, kalau dalam sebuah perkawinan tideak ada "cinta" (yang dibuktikan tidak ada penghargaan) maka dengan sendirinya menjadi jelas, bahwa dasar sakramen perkawinan sudah tidak ada fondasinya. Jadi perkawinan itu sudah bukan sakramen (=tanda persatuan antara Tuhan dan manusia). &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kasus yang pertama adalah tanda-tanda awal gangguan. Ini terjadi karena dia menggenerate pikiran-pikiran negatif dalam pikirannya, akhirnya dia yakin bahwa pikiran-pikiran itu benar, dan sangat menakutkan. Tambah lagi pengalamannya juga memang demikian. Tidak ada cara, selain melakukan terapi CBT (Cognitive Behavior Therapy). Mungkin Romo pernah mendengarkan ini. Seharusnya setiap pastor, karena otomatis menjadi seorang konselor, dilengkapi skill CBT tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terapi CBT berlangsung 6 - 10 sesi, di mana klien dibantu untuk mengetahui keadaan dirinya. Mengurai keaadaan dirinya itu secara rasional dan memahami mekanisme psikhis yang sedang dimainkannya. Itu melaui sesi awal. Tahap sesi berikutnya adalah mengetahui pilihan-pilihan yang masih mungkin diambil. Artinya ybs tahu bahwa kalau dia terus menerus bersandar pada masa lalu, maka itu tidak mengubah apapun, dan kemudian hanya memperburuk kenyataan dirinya. Pengapaman diputusin pacar di masa lalu memang sesuatu yang menyakitkan. Tapi sekarang sudah tahu semua alasan, sebab dan kenyataannya. Sudah dapat menilai juga apakah masih mungkin dipertahankan atau lebih baik diterima bahwa kenyataan itu demikian. Jadi sekarang pada sesi selanjutnya, diberikan "strategi mengatasi masalah" (copying stress) sekaligus strategi mengembangkan diri. Jadi apa yang masih bernilai untuk dikejar di masa depan? Resep dituliskan dan motivasi dibangkitkan. Itulah secara garis besar terapi CBT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus yang kedua, kurang lebih sama. CBT akan memperlihatkan kepada si-cowok bahwa dunia ini tidak akan kiamat kalau dia juga menerima dan menghargai bahwa cewek itu berhak mempunyai pilihan dalam hidupnya. Cinta justru membiarkan yang dicintai itu memilih dengan bebas jalan hidupnya. CBT 5 sesi, saya rasa cukup untuk cowok itu. Mungkin 3 sesi juga sudah bisa. Hanya perlu mengembangkan pribadi cowok tersebut, karena dia masih sangat egois dan mungkin punya pengalaman masa lampau yang perlu diterima dan disadari. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3662880644844210942-8396508580053721981?l=catatanpastoral.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3662880644844210942/posts/default/8396508580053721981'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3662880644844210942/posts/default/8396508580053721981'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatanpastoral.blogspot.com/2007/07/dua-kasus-cinta.html' title='Dua Kasus Cinta Dan Cognitive Behavior Theraphy'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3662880644844210942.post-8748873685932475579</id><published>2007-07-26T07:53:00.000-07:00</published><updated>2007-07-26T07:54:36.305-07:00</updated><title type='text'>Derita Beda Agama</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;- On 4/10/07,&lt;br /&gt;Jika ada waktu sempatkan membaca surat saya ini. Saya sedang menemani dan meng-advis seorang istri yang tertekan jiwa dan raga oleh perilaku suaminya. Suaminya Budhis, dia Katolik. Dia ingin menghayati ajaran Katolik dalam hubungan seksnya. Namun suaminya yg budhis semena-mena dan seolah mengolok dan merendahkan ajaran Gereja yang coba dihayatinya. Keduanya dokter, si istri belum siap menikah atas alasan ekonomi. Mereka menikah secara budhist. Mohon tanggapan pak...apa yang harus saya lakukan. Mohon privat dan sebelumnya terima kasih.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;+ Selamat pagi, saya senang bisa menjadi alat Tuhan membantu rekan-rekan yang mengalami banyak masalah dalam hidupnya. Beberapa tanggapan (sharing) atas e-mail Romo berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang saya lakukan sementara ialah mencari tahu dari kakak si suami. Saya pengin tahu latar belakangnya. Memang, keluarganya berasal dari keluarga broken. Saya tidak mengerti seberapa mempengaruhi, karena pikir saya, latar belakang itu pula yang membuat sang suami seenaknya menjalin relasi dengan banyak orang, selain istrinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman "dalam keluarga" sangat memperngaruhi alam bawah sadar seseorang. Kalau orang itu adalah Sensing Introvert, maka pengalaman masa lampau itu menjadi norma bagi kehidupannya saat ini. Nah, kalau seseorang di masa lampau tidak pernah mendapatkan penghargaan atas perasaannya, mungkin mengalami kesulitan untuk memahami perasaan orang lain (termasuk yang dia cintai) pada saat ini. Jadi penjara masa lampau itu sangat kuat mengekang. Maka Antony de Mello selalu menekankan "penyadaran" diri sebagai syarat untuk menjadi bebas. Jadi terpenjara dalam kebiasaan-kebiasaan rutin (tanpa sadar) tidak bisa dengan sendirinya diatasi kalau tidak memahami atau mencapai suatu proses sadar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya yakin, si-suami itu sangat menganggap bahwa keluarganya adalah nomor satu dan untuk itulah dia membanting tulang dan bersedia mati (mungkin!) Namun tanpa dia sadari, dia sedang merusaknya sendiri dengan membiarkan dirinya tergeletak pada kelemahan seksualnya. Dia mampu mengatasi ini kalau harapan dan sekaligus nilai positif dapat disadarinya sebagai sesuatu yang pantas dikejar dan untuk itu dia menjadi Katolik. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3662880644844210942-8748873685932475579?l=catatanpastoral.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3662880644844210942/posts/default/8748873685932475579'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3662880644844210942/posts/default/8748873685932475579'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatanpastoral.blogspot.com/2007/07/derita-beda-agama.html' title='Derita Beda Agama'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3662880644844210942.post-4987201662880271821</id><published>2007-07-26T07:50:00.000-07:00</published><updated>2007-07-26T07:52:53.842-07:00</updated><title type='text'>Derita Batin Istri</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;- On 5/8/07, &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Advice terbaik apa yang harus saya katakan ke seseorang istri yang mengalami hal seperti ini?&lt;br /&gt;Sebutlah S memiliki dua anak, yang satu sudah 3 tahun, yang satu baru 3 bulan. Suatu kali, S mendapat telpon dari seorang perempuan yang mengaku sedang pendarahan, karena keguguran sebab hamil oleh suami S sendiri. Dia shocked dan tak menduga. Ia lalu klarifikasi ke suaminya..."benarkah kamu hamili perempuan itu?"...suaminya menolak mengiyakan..."tak usah pusing", katanya..."saya bisa menghadapi dia, siapa sih dia"...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu berlalu, kali ini perempuan lain juga menelpon S, yang mengaku juga sedang hamil karena ulah suami S. Bahkan ayah perempuan itu menuntut suami S agar bertanggung jawab. Kembali S shock, mengapa harus terjadi lagi. S menceritakan sambil menangis..."saya berusaha kuat menanggung semua ini. saya tak mungkin meminta cerai atau menuntut suami saya menceraikan saya saja. saya kasihan dengan anak-anak. saya berusaha sabar. tetapi bagaimana menghadapi suami saya yang seperti ini ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menganjurkan dia tetap tabah. Jika ada yang satu keras, S harus lembut. Kalau suami selingkuh, kamu harus tetap setia dan sayang dengan dia, begitu kata saya. Meskipun itu berat. Bahkan saya katakan salut dengan S dan saya bawa dalam misa saya. ...Saya sendiri relasi baik dengan keluarga ini, dari keluarga yang pemurah terhadap karya-karya Gereja, suaminya juga beberapa kali berkomunikasi dengan saya. Namun jauh di luar dugaan saya kalau suami S ini seorang yang genit...Saya belum memiliki kesempatan untuk bicara dengan suami S. Bahkan S menelpon saya dengan sembunyi-sembunyi...Saya berusaha menjadi pendengar yang baik buat S, itu yang saya bisa lakukan.  Bagaimana ini...? Sebelumnya terima kasih tanggapannya...&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;+ Pertama-tama, saya minta maaf, karena sibuknya seminar akhirnya saya terlewatkan cukup lama baru memberikan tanggapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah memastikan bahwa suami S memang melakukan selingkuh pada beberapa wanita dan kemudian melakukan pengguguran itu. Saya tidak begitu. Hal ini hanya mungkin dilakukan dengan dialog dengan suami S.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah kedua, memastikan bahwa suami S memberikan nilai yang tinggi terhadap keutuhan keluarganya. Kalau dia juga siap cerai dan kawin lagi, ini menjadi masalah. Untuk itu perlu ada relasi yang baik dengan kedua belah pihak. Soalnya campur tangan pihak ketiga, malah bisa dianggap keterlaluan dan mengakibatkan dampak yang lebih buruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah ketiga, kalau ada kesempatan memberikan konsultasi perkawinan, seperti dilakukan dalam ME di mana dijelaskan bagaimana menderitanya pasangan, hanya karena sikap egois dari masing-masing pihak, yang seharusnya bisa diatasi oleh seorang beriman (dan dewasa) tentunya. Ini merupakan bentuk penyadaran dan pemulihan pada hubungan suami-isteri yang telah retak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sasaran akhir: Suami S mesti mengubah pola hubungannya dengan wanita-wanita lain. Karena kalau cerita istrinya tersebut benar, saya melihat ada pola seksual yang senang menikmati petualangan seksual dengan banyak orang. Dan ternyata, selalu saja dia menemukan korbannya, karena hal itu saat ini sangat memungkinkan. Jadi, kalau dia memberikan nilai keutuhan keluarganya sebagai nomor satu, maka hal ini bisa diatasinya sendiri. Jadi empowering mesti kita lakukan pada sang suami, untuk berani mengubah perilakunya. Hanya dia yang dapat mengubah perilaku ini (walau saya yakin agak susah: karena sudah ketagihan). Tapi kalau ada nilai yang lebih penting, untuk itu saya mau mati, maka tentu nilai yang lebih penting itu akan bisa menjadi kekuatan dalam perubahan. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3662880644844210942-4987201662880271821?l=catatanpastoral.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3662880644844210942/posts/default/4987201662880271821'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3662880644844210942/posts/default/4987201662880271821'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatanpastoral.blogspot.com/2007/07/derita-batin-istri.html' title='Derita Batin Istri'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3662880644844210942.post-323805740638703660</id><published>2007-07-26T07:43:00.000-07:00</published><updated>2007-07-26T07:46:50.233-07:00</updated><title type='text'>Konsumsi Sebelum Komuni</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;- Hari Minggu kemarin 11 Februari 2007 saya mengikuti misa di gereja Stefanus Cilandak Jakarta. Misa dimulai pukul 9.45, berhubung sampai di gereja sudah mepet waktunyadan gereja sudah penuh, maka saya ikut misa di luar gedung. Di sebelah saya berdiri, berdiri pula pasangan muda yang cukup aktif mengikuti misa, dengan ikut bernyanyi dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah persembahan si bapak menghilang sebentar dan kembali menjelang doa syukur agung, dengan membawa sekantong plastik teh botol. Sampai dengan konsekrasi tidak ada hal-hal yang aneh. Tapi setelah doa bapa kami.....mereka berdua dengan nikmatnya meminum teh botol itu bergantian (capai kali ya karena ikut misa dengan berdiri diluar).&lt;br /&gt;Terus kemudian lanjut dengan penerimaan komuni dst sampai misa selesai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menjadi pertanyaan saya,&lt;br /&gt;1. apakah komuni yang diterima bapak &amp; ibu itu sah, karena beberapa menit sebelum menyambut komuni kudus mereka telah menyantap teh botol ?.&lt;br /&gt;Jika tidak sah, apa konsekuensinya dan apa yang harus dilakukan ybs?&lt;br /&gt;2. Apakah bapak &amp;amp; ibu itu telah melakukan sebuah dosa?&lt;br /&gt;3. Apakah tindakan yang harus kita lalkukan jika mengetahui kejadian seperti di atas.&lt;br /&gt;Saya merasa gundah melihat apa yang terjadi kemarin, tapi untuk menegurnya tidak ada keberanian. Saya kawatir kalau saya tegur mereka bisa marah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mohon maaf bila ybs membaca email ini dan mohon maaf bila ada kata2 yang tidak berkenan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;+ From: luluk widyawan&lt;br /&gt;Sent: Monday, February 12, 2007 1:12 PM&lt;br /&gt;Subject: Re: Suatu Hari di Gereja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Hary&lt;br /&gt;Baiklah saya mencoba menjawab.&lt;br /&gt;1. Apakah komuni yang diterima mereka sah ?&lt;br /&gt;Adalah keutamaan yang baik untuk menyambut Tubuh dan Darah Kristus dengan berpuasa. Bahkan di jaman dulu ada anjuran yang sangat ditekankan untuk berpuasa 1 jam sebelum merayakan Ekaristi. Keutamaan ini dilandasi niat baik untuk menahan diri sebelum menyambut Tubuh dan DarahNya sebagai santapan termulia, sekaligus bentuk matiraga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun di dalam 10 perintah Allah dan 5 perintah Gereja tidak ada aturan yang mengatakan tentang keharusan berpuasa tersebut. Karena itu di Flores yang sangat kental dengan nuansa dan keketatan aturan2 Katoliknya, mereka yang datang dari jauh, dari gunung2, dengan berjalan kaki puluhan kilometer dari Gereja, diperbolehkan makan dan minum dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika mereka harus misa mulai jam 7 pagi, mereka sudah harus meninggalkan rumah pukul 4 dinihari, daripada jatuh pingsan dan dehidrasi...maka ketika dalam perjalanan mereka membawa bekal untuk makan dan minum selama diperjalanan. Para romo di Flores tidak melarang apa yang mereka lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kasus ini, saya melihat mereka adalah pasangan muda, yang memang tidak pernah mendapat penjelasan tepat tentang apa artinya berpuasa sebelum menyambut Tubuh dan DarahNya. Lain dengan mereka generasi tua yang pada masa itu mendapatkan penekanan soal puasa ini. Tidak jelas apakah mereka memang tidak tahu, atau karena dehidrasi, karena haus dan jika tidak minum maka tergeletak pingsan ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komuni yang mereka terima tetap sah, karena Tubuh dan Darahnya telah mereka sambut tentu dengan penuh iman. Namun ada baiknya kita mengingatkan keutamaan iman yang baik ttg puasa sebelum menyabut Ekaristi pada mereka. Juga pentingnya mengikuti Ekaristi dengan khususk dengan sikap lahir dan batin yang pantas. Apalagi mengingat Ekaristi bukan perayaan pribadi, namun perayaan komunal, yang sangat penting utk saling mendukung kekhusukan bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Apakah mereka melakukan dosa ? Apa yang harus dilakukan ?&lt;br /&gt;Dalam hal ini tidak ada unsur melecehkan komuni kudus sebagaimana ditunjuk kanon hukum Gereja no.1367. Jika melecehkan pasti disebut dosa berat yang bahkan bisa diekskomunikasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya saja kekurangpantasan, keutamaan yang baik tidak dilakukan. Dan menganggu perayaan komunal oleh mereka yang hendak menghayati kehadiranNya dalam Ekaristi secara khusuk. Jika mereka tahu, mau dan sadar tetapi masih melakukannya, apa yg mereka lakukan tidak tepat. Namun jika mereka tidak tahu, maka mereka tak berdosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka justru perlu diberi pengertian, disadarkan betapa kehadiran Tubuh dan darahnya dalam Ekaristi menjadi santapan termulia, maka persiapan batin perlu dilakukan secara sungguh2. Jika mereka sudah tahu ajak mereka untuk melakukan apa yang terbaik untuk datang kehadapanNya dalam Ekaristi. Memberi pengertian yang tepat penting dengan cara yang tidak perlu menhakimi dan marah2, pasti mereka juga akan menerima dengan lapang dada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;+ From: &lt;margot@cbn.net.id&gt;&lt;br /&gt;Sent: Monday, February 12, 2007 2:30 PM&lt;br /&gt;Subject: Re: Suatu Hari di Gereja&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Bukan negur tapi ngasih tau ya, mau denger syukur gak mau udah. Kewajiban kita memberi tau sodara yang salah 4 mata, gak mau bawa ke penatua, gak mau bawa ke umat dan penatua, gak mau lagi yah uwis. Soalnya gereja bukan tempat makan dan minum. Walau gak ada menyambut pun tak layak, apalagi ada menyambut. Emangya gereja itu restoran atau tempat istirahat. Apalagi saat sesudah konsekrasi saat Yesus hadir secara utuh mengurbankan diri dan mengundang kita bersatu dengan dia, lah kok asyik nyeruput teh botol, dihadapan SBY saja gak layak yang notabene cuma manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;+ From: "Arriko Indrawan" &lt;arriko.indrawan@prudential.co.id&gt;&lt;br /&gt;Sent: Monday, February 12, 2007 6:45 PM&lt;br /&gt;Subject: Re: Suatu Hari di Gereja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Har,&lt;br /&gt;Saya coba jawab, sejauh pemahaman saya.&lt;br /&gt;1. Mnrt saya tdk sah, krn 1 jam sebelum komuni tdk boleh makan &amp; minum...Intinya sih spy kt merasakan bahwa hosti itu makanan rohani dlm ragawi kita.&lt;br /&gt;2. Dosa yg dilakukan adlh dosa sakrilegi, ...sering kali hanya krn kurang pemahamannya saja.&lt;br /&gt;3. Mnrt saya tegor aja, ingatkan dia, bhw mnrt peraturan Gereja, 1 jam sblm komuni tdk boleh makan dan minum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam,&lt;br /&gt;Arriko I&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;+ From: rosalind&lt;br /&gt;Sent: Monday, February 12, 2007 6:27 PM&lt;br /&gt;Subject: Re: Suatu Hari di Gereja&lt;br /&gt;Hallo Har -&lt;br /&gt;Pertanyaan Anda itu memang sangat2 tepat sebab memang tidak sepantasnya kita melakukan hal seperti itu pada waktu mengikuti misa. Kita nggak usah ngomong soal sah atau tidaknya komuni yang mereka terima; caranya mereka melakukan hal itu saja sudah sangat2 tidak pantas! Kalau begitu, maka mengapa mereka tidak sekalian membawa sekotak cake saja untuk dinikmati sambil mendengarkan khotbah ??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, untuk menegur mereka ya sulit juga ya ... kan Anda tidak mengenal mereka? Bagaimana kalau misalnya Anda memberi tahu Romo diparoki Anda untuk sekedar menyentil tentang hal tersebut di misa yang akan datang? Supaya tidak saja mereka - melainkan seluruh umat yang lain juga sadar bahwa itu sesuatu yang tidak pantas sama sekali untuk dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warm greetings, from&lt;br /&gt;Rosalind&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;+ From: "FX Kusmaryadi" &lt;kusmaryadi@gmail.com&gt;&lt;br /&gt;Sent: Monday, February 12, 2007 8:21 PM&lt;br /&gt;Subject: Re: [ApiK] Suatu Hari di Gereja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mas Haryono,&lt;br /&gt;Saya belum akan menanggapi pertanyaan mas Haryono, melainkan hendak share kejadian yang sama, yang terjadi di India. Ketika pertama kali melihat saya memang terkejut juga. Namun sekarang sudah "terbiasa."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di banyak tempat di India, mudah dijumpai bahwa dalam sebuah misa kudus, bahkan imam/uskupnyapun minum air yang disediakan di altar. Saya pernah melihat ada uskup dan imam yang setelah kotbah, atau bahkan saat kotbah, mereka minum air. Saya juga sering melihat bahwa dalam sebuah misa besar, tiba-tiba ada panitia yang mengedarkan air dalam cangkir plastik, dan para imamnyapun "glek....glek....glek...." ngombe. Memang sampai sekarang saya belum pernah mau melakukan hal itu, kendati di lingkunganku hal tersebut biasa dilakukan oleh imam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Pepatah tersebut bisa diterapkan juga dalam gereja India, jika dibandingkan dengan gereja di tempat lain. Banyak hal-hal lain yang sungguh lain dari praktek menggereja dan berliturgi yang saya ketahui selama ini. Di banyak gereja, yang namanya liturgi wuah....semrawut banget. Tapi, saya lihat itu sudah biasa. Pokoknya "amat sangat kacau" terutama kalau dibandingkan dengan (kebanyakan) tempat di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tadi malam ada perayaan Pesta Paroki. Yang namanya pesta paroki adalah perayaan terbesar gereja di India mengalahkan paskah-Natal. Dana besar dihabiskan untuk perayaan itu, kendati sebenarnya dalam pesta itu sama sekali tidak ada acara makan-makan. Yang dilakukan biasanya adalah Novena (yang dalam novena itu pengkhotbah harus kotbah minimal 45 menit!!) dan perayaan puncak dengan macam-macam prossesi keliling desa/ kota. Puncak acara tentu saja Misa Akbar yang sekilas tidak ada bedanya dengan tontonan dangdut!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semrawut dan musiknya itu lho......nggak ada bedanya antara musik untuk peribadatan dengan musik untuk pertunjukan! Seringkali dengan sound system yang menggelegar dan nyanyian yang keras-keras walau dinyanyikan bukan oleh koor melainkan hanya 2-5 orang.&lt;br /&gt;Dan tak ketinggalan, tabla......kendhang ndangdut India hahahahaha.....Kalau anda pernah ke gereja paroki di India, kiranya anda baru bisa ngerti bagaimana khusuknya liturgi di (kebanyakan tempat) Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaanya:&lt;br /&gt;Apakah soal minum minuman itu masuk dalam "wilayah dosa atau tidak?" atau masuk dalam wilayah etis atau tidak? Hayo....siapa mau njawab.......&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;salam&lt;br /&gt;kusmaryadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;+ From: R. Budi Kuswindarto&lt;br /&gt;Sent: Tuesday, February 13, 2007 9:15 AM&lt;br /&gt;Subject: RE: Suatu Hari di Gereja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umumnya sebagian besar umat Katolik masih menjalankan/menganut “Puasa satu jam sebelum komuni/misa” kecuali memang harus minum obat. Tapi yang utama ialah “Puasa Bathin” artinya kalau kita mempunya dosa besar, kita tidak layak menerima Komuni sebelum pengakuan dosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menegur orang tersebut, memang memerlukan seni, strategi, dan keberanian. Tapi kalau kita tidak berdaya (untuk menghindari keributan), cukup kita doakan kepada Allah Bapa agar orang tsb diberikan kesadaran.&lt;br /&gt;Jadi kita tidak perlu menghakimi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin artikel berikut bisa membantu anda: &lt;br /&gt;Peraturan atau Ajaran Gereja:&lt;br /&gt;Praktek puasa sudah sangat biasa dalam tradisi Yahudi. Dalam Kis 13:2 kita mendapat salah satu bukti tentang puasa sehubungan dengan liturgi. Dengan menetapkan aturan puasa satu jam sebelum komuni, Gereja sebenarnya menetapkan sebuah refleksi baru atas tradisi / kebiasaan kuno yang sudah ada. Kalau mengamati sejarah memang terjadi perkembangan praktek puasa ini, sebelum tahun 1964 puasa untuk menyambut komuni kudus dimulai tengah malam. Paus Paulus VI, pada tanggal 21 November 1964, mengurangi tenggang waktu puasa itu menjadi hingga satu jam saja. Kitab Hukum Kanonik no. 919 menyebutkan: “yang hendak sambut Ekaristi Mahakudus hendaknya berpantang dari segala macam makanan dan minuman selama waktu sekurang-kurangnya satu jam, terkecuali air semata-mata dan obat-obatan.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Temyata peraturan ini diberlakukan dengan pengecualian-pengecualian. Pertama, untuk imam yang merayakan ekaristi lebih dari satu misa pada hari yang sama, maka imam tersebut hanya terikat satu jam puasa sebelum misa yang pertama. Kedua, mereka yang lanjut usia (usia 60 tahun ke atas) atau sakit, maupun mereka yang merawatnya, dapat menyambut komuni meskipun dalam waktu satu jam sebelumnya telah makan sesuatu. Bahkan dikatakan bahwa orang-orang ini puasa mereka dikurangi sampai “kurang lebih seperempat jam” (Bdk. Immensae Caritatis, 1973).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa Kita Berpuasa?&lt;br /&gt;Pertanyaan dasar yang perlu kita ajukan adalah apa alasan kita diminta untuk berpuasa satu jam sebelum menyambut komuni? Saya tegaskan beberapa alasan sebagai bahan renungan kita:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Puasa satu jam sebelum komuni mengungkapkan matiraga demi penguasaan diri. St Paulus mengatakan “kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami” (2Kor 4:10). Jadi sebenarnya matiraga itu membantu kita manusia untuk memerdekakan diri dari belenggu dosa dan kecenderungan-kecenderungan buruk. Matiraga jasmani itu hendaknya sampai pada kesembuhan batin untuk siap menyambut Kristus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berpuasa sebelum menyambut Komuni Kudus membangkitkan rasa lapar dan haus secara jasmani sebagai simbol lapar dan haus secara rohani. Memang kadang kita dengar banyak keberatan dengan alasan-alasan yang logis / masuk akal untuk membatalkan puasa sebelum komuni ini, tetapi kadang alasan itu justru menutup kelemahan / kekurangan yang ada dalam diri, yakni ketidaksungguhan hati untuk menyiapkan diri demi saat berahmat tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Puasa satu jam sebelum komuni membantu orang siap berjumpa dengan Tuhan. Dalam Perjanjian Lama, puasa mempersiapkan orang untuk menerima kehadiran Allah dan berada di hadirat-Nya. Ambil misal: Musa berpuasa 40 hari 40 malam lamanya di Gunung Sinai sementara ia menulis sepuluh perintah Allah. Elia berpuasa 40 hari 40 malam lamanya sementara ia berjalan ke Gunung Horeb - Gunung Tuhan. Dalam Perjanjian Baru, Yesus sendiri berpuasa 40 hari 40 malam lamanya sementara la mempersipkan diri memulai pewartaan-Nya di depan umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Yesus memang menganjurkan kita berpuasa karena puasa juga merupakan latihan kerendahan hati, pengharapan dan kasih, yang adalah kebajikan-kebajikan pokok yang kita rayakan dan kita mau timba dalam perayaan ekaristi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa pun alasan kita berpuasa satu jam sebelum menyambut komuni, yang jelas usaha jasmani itu harus sampai pada disposisi batin yang siap untuk menerima kehadiran Kristus dalam perayaan ekaristi.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesan Akhir: “Yang Penting Tujuannya”&lt;br /&gt;Peraturan tentang berpuasa satu jam sebelum komuni, tidak berarti kita harus kaku secara berlebihan atau juga tidak berarti kita menjadi sembrono dan membuat apa saja yang kita mau. Paus Yohanes Paulus II dalam “Dominicare Cenae” 1980, menyesalkan timbulnya persoalan di mana sebagian orang tidak mempersiapkan diri secara pantas untuk menyambut komuni kudus.“Wajiblah setiap kita mengusahakan persiapan iman sebaik-baiknya dalam mempersiapkan diri menyambut Kristus secara pantas,” tulis paus dalam satu himbauannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasihat ini sejalan dengan apa yang diungkapkan St Paulus dalam suratnya kepada umat di Korintus, “Jadi barang siapa dengan cara yang tidak layak makan roti atau minum cawan Tuhan, ia berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan. Karena itu hendaklah tiap-tiap orang menguji dirinya sendiri dan baru sesudah itu ia makan roti dan minum dari cawan itu.” Kita menyadari betapa pentingnya persiapan lahir dan batin untuk menerima Kristus, maka sambil mengucapkan salam bahagia untuk anak-anak komuni pertama, kita pun boleh mohon sikap yang hormat dan pantas dalam menerima tubuh dan darah Kristus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RM. Gregorius Kaha, SVD&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3662880644844210942-323805740638703660?l=catatanpastoral.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3662880644844210942/posts/default/323805740638703660'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3662880644844210942/posts/default/323805740638703660'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatanpastoral.blogspot.com/2007/07/konsumsi-sebelum-komuni.html' title='Konsumsi Sebelum Komuni'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3662880644844210942.post-8148628117256689231</id><published>2007-07-25T07:21:00.000-07:00</published><updated>2007-07-26T07:48:58.444-07:00</updated><title type='text'>Perkawinan Antar Sepupu</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;- Romo, saya mau tanya ini. Di peraturan gereja Katolik ada nggak sih, peraturan pernikahan yg membatasi dgn siapa seseorang boleh menikah? Maksudnya, boleh nggak klo saudara sepupu dari ibu yg bersaudara menikah? Klo misalnya nggak boleh, apakah itu harga mati? Nggak boleh sama sekali? Atau masih diijinkan dengan dispensasi? Lalu bagaimana prosedurnya dan ada nggak pengganti 'hukuman'nya?Kebetulan teman yg mengalami hal ini orang Jawa. Secara adat Jawa, ada nggak ya 'Mo aturannya? Romo rak ya trah keturunan Jogja to, ya? Hehehe... Minta info dan masukannya ya 'Mo. Lha wis aku nggak bisa jawab pertanyaan temanku itu je.Terima kasih sebelumnya :)&lt;br /&gt;&lt;a href="http://lulukpr.multiply.com/"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;+ Haduh siang2 ngajak kawin...eh ngajak ngomongin kawin....hehehe. gini lho nak, kalau mau nikah jelas ada batasannya. laki2 dan perempuan, saling mengesahkan di depan pejabat Gereja, ada hubungan sexual (ratum et consumatum), ikut pelajaran perkawinan, penyelidikan kanonik, punya pemahaman cukup tentang hidup bersama berkeluarga, terbuka terhadap keturunan dan lain2 you bisa tanya ke sekertariat paroki deh.pada dasarnya dengan sepupu nggak boleh, tetapi boleh dengan syarat harus ijin kepada Uskup. kalau pasangan yang mau nikah itu masih ada hubungan sebagai sepupu, silahkan menghadap ke pastor paroki setempat. mestinya pastor paroki yang akan mengurus ijin itu kepada Uskup. harus ijin karena sebenarnya ada halangan, namun bisa diberi ijin Uskup (kamu menyebutnya dispensasi, bukan itu tepatnya). Kalo aku pastornya maka aku yang akan ngurus ijin perkawinan antar sepupu itu.dalam adat Jawa, nggak tahu ya...aku dewe ora jowo tulen alias jowo karbitan, wis luntur. kalau udah Katolik nggak usah begitu ribet adat ini-itu, yang penting mohon doa dan berkat kepada Tuhan atas perkawinan antar dua insan. setahuku yang secara tegas dilarang Gereja perkawinan antar saudara kandung (sedarah satu ayah-ibu), demikian pula secara genetik pun kemungkinan bisa berakibat anak yang lahir misalnya jadi cacat. aku nggak yakin deh yang nanya ini saudaramu. paling2 ya kamu dewe dah pengen nikah deh...hehehe. salam damai. luk pr&lt;a name="reply1"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onmouseover="'popup_miniprofile(this.parentNode," href="http://sivea.multiply.com/"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;- Lho yg nanya memang bukan saudara tapi temanku 'Mo. Lha kalau saya, pilih yg gampang2 saja. Cari yg gampang aja masih ada saja masalahnya je. Kok mau ditambah lagi kesulitannya hehehe... Aku sih pilih beli es buah siang2 begini hehehe...Matur nuwun lho 'Mo. Sudah tak teruskan ke temanku buat dijadiken pertimbangan mereka berdua.&lt;a name="reply2"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://lulukpr.multiply.com/"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;+ Barusan temenku Iuris, doktor hukum Gereja menambahkanlebih baik tidak menikah dengan sepupu...&lt;a name="reply3"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onmouseover="'popup_miniprofile(this.parentNode," href="http://sivea.multiply.com/"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;- Kira2 alasannya kenapa ya 'Mo? apa ditakutkan berakibat pada keturunannya? mohon pencerahannya ya, 'Mo. matur nuwun lagi.&lt;a name="reply4"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;+ gini siv ( aku panggilnya apa ya ?)memang dalam perkawinan Katolik ada alasan perkawinan dalam relasi hubungan darah dibatasi boleh / tidak ada halangan jika dilakukan di antara mereka yang di luar garis keturunan tingkat kedua. perkawinan antar sepupu tersebut masih dalam garis keturunan tingkat kedua. so disarankan tidak atau boleh hanya jika ada ijin Uskup.alasan dasarnya hal itu telah diatur dalam hukum kanonik 1091-1092, selain faktor genetik dan faktor keluarga yang sering membawa dampak buruk perkawinan (apalagi di Indonesia hal ini masih sangat kuat menikah dengan seseorang seringkali menikah juga dengan keuarganya)begitulah.&lt;a name="reply5"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onmouseover="'popup_miniprofile(this.parentNode," href="http://sivea.multiply.com/"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;- o ya ya. baiklah. pencerahan dari Romo sudah tak teruskan kepada yg bersahut... eh, bersangkutan :d. matur nuwun banget lho 'Mo. salam damai jugavea :)&lt;a name="reply6"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;+ semoga menjadi pertimbangan. memang sih cinta juga merupakan satu unsur penting dalam perkawinan keluarga Katolik. susahnya kalau mereka sudah saling cinta dan serasa tak terpisahkan. opini ini semoga membantu untuk memilih yang terbaik. jangan lupa supaya mereka juga berdoa sebelum memutuskan. oke, salam ke mereka.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3662880644844210942-8148628117256689231?l=catatanpastoral.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3662880644844210942/posts/default/8148628117256689231'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3662880644844210942/posts/default/8148628117256689231'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://catatanpastoral.blogspot.com/2007/07/perkawinan-antar-sepupu.html' title='Perkawinan Antar Sepupu'/><author><name>A Luluk Widyawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14466269187654270251</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_aIOj8LbGbrU/TFLw5kp-5CI/AAAAAAAABUQ/qVJr2kbsXM8/S220/lk.jpg'/></author></entry></feed>
