
Apa kabar pendidikan anak-anak Katolik? Bagi mereka yang sekolah di sekolah Katolik tidak begitu masalah, karena jelas tersedia guru agama Katolik. Pendidikan iman mereka tentu terjamin paling tidak suasana, pengajaran dan nuansa ke-Katolikan masih bisa didapatkan. Para orang tua yang ingin memberikan pendidikan terbaik untuk anaknya, termasuk pendidikan iman tidak perlu risau. Meskipun harus disadari perkara iman tidak terbatas pada aspek kognitif, sebagaimana sebagian besar yang diberikan sekolah. Melainkan juga aspek lain yang tentu didapatkan anak di rumah. Serta kegiatan aktif di lingkungan gereja.
Lalu bagaimana dengan anak-anak Katolik, yang dibaptis secara Katolik tetapi tidak sekolah di sekolah Katolik? Apakah dengan demikian pendidikan agama Katolik mereka diabaikan? Padahal mereka berhak mendapatkan pendidikan agama Katolik.
Sesuai data yang didapatkan dari kantor dinas pendidikan terdapat: 121 anak Katolik di SMU swasta non Katolik dan 81 anak di SMU Negeri, 203 anak Katolik di SMP swasta non Katolik dan 94 anak di SMP Negeri serta 251 anak Katolik di SD swasta non Katolik dan 331 anak di SD Negeri. Jumlah yang cukup fantastis, total ada 1.081 anak usia SD hingga SMU yang tidak bersekolah di sekolah Katolik. Sementara anak Katolik yang bersekolah di sekolah Katolik usia SD hingga SMU sebanyak 903 anak.
Memang ada beragam alasan memilih sekolah, entah sekolah Katolik atau tidak. Dan kebebasan ada di pihak orang tua dan anak, tidak pernah dipaksakan. Meskipun dianjurkan anak Katolik bersekolah di sekolah Katolik. Sebagaimana diserukan oleh Uskup Surabaya, Mgr. Sutikno Wisaksono saat kunjungan ke Paroki beberapa bulan lalu. Menyekolahkan anak Katolik di sekolah Katolik berarti mendukung karya pendidikan Katolik. Berhadapan dengan masalah biaya mahal pendidikan di sekolah Katolik, kita bersama mendengarnya, “Jangan sampai anak-anak Katolik tidak bisa sekolah disekolah Katolik”. Selalu dicari cara bagi mereka yang mendapat kesulitan biaya. Biaya mahal kemudian bisa relatif. Meskipun 1.081 anak Katolik yang tidak bersekolah di sekolah Katolik bisa diasumsikan karena beberapa faktor seperti biaya, jarak dari rumah, kualitas maupun faktor anak sendiri atau justru pilihan orang tua.
Pencanangan Tahun pendidikan di Keuskupan Surabaya tentu dalam rangka mengetuk kepedulian terhadap sekolah Katolik. Karena, sekolah Katolik tidak hanya yang berada di kota besar Surabaya dan Sidoarjo saja, melainkan juga yang ditempat terpencil. Di mana sekolah Katolik yang ibaratnya sudah tak pantas hidup dipertahankan dan diperjuangkan eksistensinya demi karya pewartaan gereja. Sekolah-sekolah yang surplus pun mendukung keberadaannya.
Juga berbagai alasan, bahwa kehadiran sekolah Katolik di masa lalu telah memberi dampak positif di masa sekarang, entah itu ikut serta dalam pencerdasan bangsa meskipun dari sisa-sisa atau penanaman nilai-nilai luhur universal ke-Katolikan. Dan dipastikan di mana ada sekolah Katolik di situ gereja berkembang dan masyarakat lebih moderat. Dengan demikian, menyekolahkan anak di sekolah Katolik juga bentuk kepedulian holistik terhadap karya pewartaan gereja itu.
Anak-anak Katolik tetap bisa mendapatkan pendidikan agama Katolik karena masih ada sekolah-sekolah non Katolik, baik swasta dan negeri yang memperhatikan pendidikan agama sesuai iman anak dididik. Lalu sekolah yang tidak memberikan pendidikan agama Katolik, sebenarnya kepala sekolah harus memberitahukan kepada Gereja. Dan Gereja akan mengatur para relawan pendidikan agama Katolik untuk hadir memberikan pelajaran agama. Jika kepala sekolah tersebut berdiam diri saja atau bahkan tidak mengupayakan, sebenarnya pemerintah yang pertama-tama menyediakan. Namun pemerintah dalam hal ini Bimas Katolik memiliki tenaga yang sangat terbatas dan kuota guru agama Katolik pun minim. Lalu bagaimana solusinya, anak-anak Katolik itu bisa tetap mendapatkan pelajaran agama tersentral yang diadakan rutin, setiap minggu. Hal ini menjadi tanggung jawab seksi Katekese Paroki. Siapa lagi ?
Lalu bagaimana dengan anak-anak Katolik, yang dibaptis secara Katolik tetapi tidak sekolah di sekolah Katolik? Apakah dengan demikian pendidikan agama Katolik mereka diabaikan? Padahal mereka berhak mendapatkan pendidikan agama Katolik.
Sesuai data yang didapatkan dari kantor dinas pendidikan terdapat: 121 anak Katolik di SMU swasta non Katolik dan 81 anak di SMU Negeri, 203 anak Katolik di SMP swasta non Katolik dan 94 anak di SMP Negeri serta 251 anak Katolik di SD swasta non Katolik dan 331 anak di SD Negeri. Jumlah yang cukup fantastis, total ada 1.081 anak usia SD hingga SMU yang tidak bersekolah di sekolah Katolik. Sementara anak Katolik yang bersekolah di sekolah Katolik usia SD hingga SMU sebanyak 903 anak.
Memang ada beragam alasan memilih sekolah, entah sekolah Katolik atau tidak. Dan kebebasan ada di pihak orang tua dan anak, tidak pernah dipaksakan. Meskipun dianjurkan anak Katolik bersekolah di sekolah Katolik. Sebagaimana diserukan oleh Uskup Surabaya, Mgr. Sutikno Wisaksono saat kunjungan ke Paroki beberapa bulan lalu. Menyekolahkan anak Katolik di sekolah Katolik berarti mendukung karya pendidikan Katolik. Berhadapan dengan masalah biaya mahal pendidikan di sekolah Katolik, kita bersama mendengarnya, “Jangan sampai anak-anak Katolik tidak bisa sekolah disekolah Katolik”. Selalu dicari cara bagi mereka yang mendapat kesulitan biaya. Biaya mahal kemudian bisa relatif. Meskipun 1.081 anak Katolik yang tidak bersekolah di sekolah Katolik bisa diasumsikan karena beberapa faktor seperti biaya, jarak dari rumah, kualitas maupun faktor anak sendiri atau justru pilihan orang tua.
Pencanangan Tahun pendidikan di Keuskupan Surabaya tentu dalam rangka mengetuk kepedulian terhadap sekolah Katolik. Karena, sekolah Katolik tidak hanya yang berada di kota besar Surabaya dan Sidoarjo saja, melainkan juga yang ditempat terpencil. Di mana sekolah Katolik yang ibaratnya sudah tak pantas hidup dipertahankan dan diperjuangkan eksistensinya demi karya pewartaan gereja. Sekolah-sekolah yang surplus pun mendukung keberadaannya.
Juga berbagai alasan, bahwa kehadiran sekolah Katolik di masa lalu telah memberi dampak positif di masa sekarang, entah itu ikut serta dalam pencerdasan bangsa meskipun dari sisa-sisa atau penanaman nilai-nilai luhur universal ke-Katolikan. Dan dipastikan di mana ada sekolah Katolik di situ gereja berkembang dan masyarakat lebih moderat. Dengan demikian, menyekolahkan anak di sekolah Katolik juga bentuk kepedulian holistik terhadap karya pewartaan gereja itu.
Anak-anak Katolik tetap bisa mendapatkan pendidikan agama Katolik karena masih ada sekolah-sekolah non Katolik, baik swasta dan negeri yang memperhatikan pendidikan agama sesuai iman anak dididik. Lalu sekolah yang tidak memberikan pendidikan agama Katolik, sebenarnya kepala sekolah harus memberitahukan kepada Gereja. Dan Gereja akan mengatur para relawan pendidikan agama Katolik untuk hadir memberikan pelajaran agama. Jika kepala sekolah tersebut berdiam diri saja atau bahkan tidak mengupayakan, sebenarnya pemerintah yang pertama-tama menyediakan. Namun pemerintah dalam hal ini Bimas Katolik memiliki tenaga yang sangat terbatas dan kuota guru agama Katolik pun minim. Lalu bagaimana solusinya, anak-anak Katolik itu bisa tetap mendapatkan pelajaran agama tersentral yang diadakan rutin, setiap minggu. Hal ini menjadi tanggung jawab seksi Katekese Paroki. Siapa lagi ?
