
Perempuan yang ibu itu datang bersama anaknya. Anaknya masih kecil, kira-kira 4-5 tahun. Datang menceritakan kegundahan hatinya, karena anaknya yang mestinya lulus SMP gagal mengambil ijasah. Ia meneruskan cerita lagi dengan mata yang kemudian berair. Menangis, mengapa di sekolah Katolik masih serumit ini. Sementara anaknya harus segera mengambil ijasah untuk pendaftaran sekolah, meneruskan ke SMU. Suasana tambah rumit ketika si kecil ikutan menangis.
Saya korek lagi mengapa tak boleh mengambil ijasah? Karena sudah menunda pembayaran hingga 7 juta. Lalu saya tanya lagi, mengapa tak membayarnya? Ia mengaku tak bekerja, sementara pekerjaan suaminya sendiri tak banyak. Pendapatan itu tak cukup menghidupi keluarga, ketiga anaknya yang bersekolah, sementara ia sendiri usai sakit dan operasi yang mengeluarkan biaya tak sedikit. Saya diam dan membiarkannya menuntaskan tangis. Lalu saya katakan, ya nanti saya akan menguhubungi pihak sekolah, "saya usahakan", kata saya lagi.
Cover bith sides, kepala sekolah mengisahkan bagaimana tidak menyesakkan, anaknya sekolah tanpa membayar. Sementara sekolah ini swasta yang hidupnya jelas dari sumbangan pendidikan atau SPP. Belum lagi mempertanggungjawabkan kepada yayasan. Sedangkan ibu itu memiliki asuransi yang didebet setiap bulan. Mestinya bisa untuk membayar sekolah. Juga ketika disurvei, suaminya kelihatan tampak tak berdaya di mata sang istri, gaji selalu diberikan, namun selalu habis atau kurang. Suami tak bisa memberi lebih, sementara ia sendirian bekerja. Suami mengaku rumah yang ditempati pun sudah dijual istrinya, namun entah kemana uangnya, setahunya juga untuk membayar sekolah anaknya, tapi tidak. Dengan demikian, seakan menganggap remeh temeh urusan membayar sekolah dan terkesan tidak usah membayar. Entah, mungkin karena Katolik itu baik, Katolik itu murahan dan bisa diatur.
Kisah lain dari sekolah ada keluarga yang tidak mampu namun masih menunjukkan usaha membayar rutin. Saya teringat Mgr. Sutikno, "ya diusahakan mencicil sampai mecicil...yang pasti jangan sampai menggorok leher orang". Mengapa keluarga ini bisa dan sedangkan keluarga ibu itu tidak bisa? Atau benar-benar tak mampu, namun terbukti masih ada dana yang dijaminkan dan mestinya bisa dikeluarkan untuk membayar, untuk menunjukkan kesungguhan mencicil. Mengapa itu tidak dilakukan dan berujung keenganan pihak sekolah memberi kemudahan yang lalu cuma berujung tangisan? Sekolah tak memberi kemudahan? Tanyakan lagi kepada guru dan keluarga guru, anak guru, kemudahan yang selalu ditabrakkan dengan pengabdian? Tidak cukupkan toleransi? Atau justru celaan yang akan dikibarkan, "Katolik munafik?! Lalu kemana perginya kasih sayang dan kepedulian wajar untuk anaknya...
Saya jadi teringat kata-kata sopir, namanya Agus. Dia Kristen Protestan, pernah ia mengisahkan keheranannya dengan orang-orang Katolik sejak awal ketika bekerja di Gereja, "Aku nggak ngerti, Romo kok selalu dimintai bantuan...bahkan kadang dibohongi. Setahuku saya sebagai umat Kristen tak pernah begitu. Tak pernah mendengar pendeta dimintai umat, bahkan sampai nangis-nangis".
Dan untuk itu pula saya membenarkan kisah seorang ibu yang punya bisnis kecil-kecilan, yang ketika menagih pembayaran dari warga seiman penilainya justru mbulet dan angel. "Malahan yang lain-lain tidak", katanya. Juga pinjaman, proyek atau bantuan untuk warga Gereja yang diberikan di masa lalu, yang selalu berakhir dengan kegagalan tak berbekas atau yang terparah kekisruhan, keirian dan kecemburuan tak tersembuhkan. Karena uang gereja selalu dianggap tak kembali tak apa, toh gereja sudah kaya, nanti kolekte mengumpulkan lagi, menumpuk lagi dan dapat banyak lagi. Karena alasan-alasan itu maka kesungguhan, komitmen dan disiplin dilecehkan, bahkan kesatuan, paguyuban dan kebersamaan tanpa sadar diluluhlantakkan.
Adakah kesadaran bahwa gereja milik bersama, disadari oleh mereka, tidak hanya yang kaya tetapi juga yang biasa-biasa. Yang sungguh rela dan sudi mengedepankan kesungguhan berkomunitas, satu gereja. Kesungguhan, komitmen harus dikedepankan, jika tidak gereja sedang membiarkan dirinya dalam luka kebersamaan. Lalu saya bisa mengerti ajakan Rm. Willy Batuah, pakar kredit union yang dengan keras meneriakkan, "kalau menabung tidak menjadi prioritas, maka orang membiarkan dirinya dalam keterpurukan".
Peristiwa ini mengajarkan, paling tidak dengan standar minimal bertanya ke beberapa orang, ia pantas dibantu atau tidak? Ia sudah berubah atau masih menganggap remeh dan melecehkan dengan topeng belas kasihan? Bukankah janda Sarfat tidak mau menganggap dirinya miskin dan menjadi peminta-minta, sekalipun ia sungguh sangat susah...Janda di Sarfat, tipikal miskin tetapi bermartabat, alm. Rm. YB. Mangunwijaya menyebutnya, "mlarat tapi ningrat..."
