31 Maret 2008

Pemberdayaan Perempuan


Kemarin di ruang pertemuan Paroki ada acara spesial buat kamu perempuan / ibu. Temanya menarik, "Pemberdayaan Perempuan Dalam Bidang Kewirausahaan". Menurutku, tema ini selangkah lebih maju. Saatnya sudah bergeser dari sekedar menuntut kesetaraan. Kesetaraan kita anggap semua perempuan sudah sadar, tahu dan mendarah daging untuk memperjuangkan itu. Menuntut atau melawan lelaki supaya mengakui...? Nanti dulu. Perjuangan jadi lebih berat kalau mengingat itu. Apalagi, kaum lelaki telanjur terlalu lama dalam posisi mengatasi perempuan secara budaya dan apapun.

Tak ada kata lain, selain secara internal perempuan bersama perempuan memberdayakan dirinya. Satu poin penting ialah, ketidakberdayaan perempuan di hadapan suami atau lelaki karena ketergantungannya pada lelaki, terutama secara ekonomi. Sehingga, perempuan kalah set, jika hendak memberi bargaining position-nya pada lelaki, karena tak berdaya secara ekonomi.

Dari poin penting inilah, maka isu kewirausahaan perempuan sangat menarik dan masuk akal. Bagaimana perempuan membuat dirinya ber-wirausaha sebagai bukti berdayanya sekaligus mengurangi ketergantungannya kepada lelaki. Kesadaran inilah yang harus muncul pada diri perempuan. Sehingga suatu kebodohanlah bagi perempuan yang mau enaknya setiap bulan mengandalkan lelaki yang meninabobokkannya.

Bukan lagi kisah sinetron, bukan lagi berita di televisi dan media massa, kalau perempuan yang selalu jadi korban dan berada di posisi kalah. Ruang tamu pastoran menjadi saksi bahwa peristiwa itu sudah di depan mata dan di sekitar kita. Betapa rapuhnya fisik perempuan yang jadi sasaran pukulan, betapa khawatir dan cemasnya perempuan yang takut berbicara meski suaminya seenaknya, betapa lebih baik menerima saja sekalipun hidup dalam penderitaan. Saya dan seorang teman imam mencatat, bisa sebulan dua atau tiga perkara tentang perempuan yang datang. Maklum lelaki / suami lebih gengsi, suka masuk dalam "gua"-nya jika sedang ada masalah dan perempuan lebih bertipe curhat, cerita kemana-mana kalau sedang didera persoalan.

Tidak di kota, tidak di desa. Ketakutan dan ketakberdayaan perempuan ekspresi ketergantungannya kepada lelaki dialami secara sama. Sikap pasrah pada akhirnya menjadi pilihan terakhir yang secara moral justru menjadi bukti keimanan. Namun, pasrah aktif memiliki unsur berdaya dan tak mau konyol menderita berlama-lama. Yang jernih dan sehat bisa membedakannya dengan sangat tajam.

So, jangan menunggu lelaki memberi kesempatan, meskipun ungkapan ini harus didengarkan lelaki. Perempuan harus sadar diri untuk memulai dari dirinya sendiri memposisikan diri berdaya dengan berwirausaha. Memang, ada benarnya ungkapan laki-laki buaya darat, maka perempuan tidak perlu menunggu terlalu lama untuk menikmati posisi buaya laut...