Malam ini, seorang perempuan dihantar sang kakak datang. Dengan muka kusut, mengusutkan paras cantiknya. Mata sembab, baju hangat membalutnya, luka memar biru di sisi bawah mata kirinya. Mereka minta pertimbangan, perlukah melaporkan sang suami yang sore tadi baru saja memukulnya. Tepat di sisi bawah mata kirinya ?
Maafkan, dengan sok pede kujawab, "Kamu harus melaporkan peristiwa ini". Lalu keduanya saling bergantian bercerita. Sebenarnya peristiwa semacam ini sudah berlangsung beberapa kali. Bahkan mata kanan perempuan itu sudah agak kabur penglihatannya, karena berkali-kali menjadi sandsack sang suami. Hmmm....Tiap kali peristiwa pemukulan, alasannya sepele. Dia cuma diberi uang Rp. 50.000,- untuk belanja selama 3 hari. Dan karena mengaku kebutuhannya banyak, uang selalu habis. Ketika melaporkan keadaan itu, maka amarah, tuduhan dan sumpah serapah-lah yang diterimanya, dan bonus: pukulan yang selalu mengarah ke bagian kepala.
Peristiwa itu selalu berlangsung saat berdua saja. Sementara bila bertemu dengan kakak dan keluarganya selalu sang suami sok alim. Pernah juga terpikir untuk cerai. Namun ingatan akan mama yang sudah sendiri dan anaknya yang masih bayi 1 tahun selalu menjerit dan menekan-nekannya untuk menggagalkan ide itu. Apalagi ketika keinginan cerai terucap, sang suami mengancam akan membunuhnya...Padahal, dia pernah melihat dan tahu juga, kalau sang suami pernah selingkuh bersama perempuan lain, namun apa daya, ia takut dengan kenyataan yang akan terjadi. Sementara tubuhnya tiap kali harus menanggung sakit yang luar biasa. Seperti malam itu tanpa helm, karena kepalanya sakit.
"Saya ingin lapor, tapi bagaimana kalau dia masuk penjara. Bagaimana dengan anak saya?", begitu ia merasa seperti diujung tanduk. "Tapi kalau kamu tidak melapor, kamu bisa mati. Kamu menderita...", balas saya, "Kamu harus berani mengambil resiko. Ini pilihan yang harus kamu ambil. Atau kamu mati...? Pokoknya saya mau kamu lapor. Ini kriminal. Jangan diam."
Mulutnya terdiam, terdengar tangisnya lagi. Lalu saya masuk mengambil alamat dan nomer telepon peduli perempuan. Sembari saya telpon seorang polwan kenalan. Sang polwan mengatakan, "Jangan lapor polisi dulu. Lebih baik lapor ke ketua RT atau ketua RW".
Secarik kertas saya serahkan dan pesan polwan kenalan saya sampaikan. Sedikit lebih baik dengan segelas aqua dingin. Tak lama kemudian dia pamit. Baru tahu, ternyata lebih baik tidak lapor ke polisi dulu. Dan lebih baik lagi buat para suami: jangan pukul istri. Dan buat para istri: jangan takut melapor kalau suami melakukan tindak kekerasan.
