01 Desember 2007

Elegi Buat Egi


Namanya Egi. Usianya baru menginjak kelas 2 SMU. Masih muda. Dan mestinya lebih banyak waktu ceria bersama teman-temannya. Dia suka main keyboard. Dulu selalu mengiringi koor di Gereja. Dengan pijatan-pijatan jemari tangan terlantunlah irama mengiringi lagu-lagu.

Sejak September lalu, semua jadi berubah. Egi mulai merasa tak nyaman dengan tubuhnya. Kaki, tangan dan perutnya, tiba-tiba membengkak. Mamanya sempat heran dan cemas begitu melihat perubahan itu. Disertai kecemasan itu, sebenarnya telah terduga apa yang selama ini sudah diprediksi tentang Egi.

Memang ketika masih dalam kandungan, Egi dan kembarannya yang sudah meninggal ketika ia lahir, diprediksi dokter akan mengidap suatu penyakit. Saat itu, masih dalam kandungan sang ibu, kembaran Egi telah diserbu dengan virus mematikan. USG menunjukkan bagian kepala kembarannya telah digerogoti virus yang mengerikan. Dan di dalam kandungan itulah kembaran Egi sudah tiada.

Namun tidak dengan Egi, meskipun dia dan kembarannya sebenarnya satu aliran asupan makanan ke pusar sang ibu. Hanya kembarannya yang telanjur dimangsa virus. Egi tidak. Egi tidak tertular virus itu. Kata dokter memang dalam perut ibu, sang jabang bayi kondisinya berbeda dengan di luar. Artinya Egi masih cukup steril dari virus yang menyerang kembarannya itu. Maka Egi dilahirkan. Meskipun saat melahirkan aneka prediksi dan kemungkinan buruk harus membuat debar jantung kedua orang tuanya. Belum lagi pilihan moral, pilih ibu atau bayi. Pilih hidup atau mati. Namun Egi tetap lahir dengan selamat.

Egi yang masa bayinya kondisinya kurang menguntungkan, membuat dokter mengingatkan mamanya untuk mencukupi Egi dengan gizi. Mamanya pun sangat memperhatikan. Satu, dua, tahun hingga akhirnya Egi bisa meneruskan sekolah ke tingkat SMU. Namun semua berubah sejak September lalu. Kaki, tangan dan perut Egi mendadak bengkak. "Kamu habis makan apa...?", tanya mamanya cemas ketika melihat keadaan Egi lemah terbaring. Kalau pun Egi bisa menjawab, ia harus menahan rasa sakit yang menyerang tubuhnya. Meskipun akhirnya ia mengaku pada sang mama, habis jajan di sekolah tadi.

Penantian itu akhirnya menjadi nyata. Egi sakit. Egi akan mengalami hari-hari yang tidak lagi seperti dulu. Egi harus tergantung pengobatan. Ya, Egi dinyatakan dokter telah mengalami gagal ginjal. Salah satu ginjalnya sudah mengkerut dan yang satu lagi tidak normal keadaannya. Keputusannya, Egi harus menjalani cuci darah, seminggu 2 kali. Tiap Rabu dan Sabtu, ia harus ke RS Dokter Soetomo untuk menjalani pengobatan. Dengan biaya tak murah, sekali "laundry" begitu canda Egi suatu kali, ongkosnya Rp. 600.000,-. Ditambah biaya laboratorium, biaya obat ini-itu, belum lagi kalau ada kejadian-kejadian lain selama pengobatan, maka harus butuh obat-obatan lain yang tak murah. Total semua sebulan Rp. 9.000.000.

Tawaran satu-satunya kesembuhan lewat operasi cangkok ginjal, pernah jadi perhatian. Tapi tidak untuk angka Rp. 200.000.000 yang tak tahu dari mana dapatnya. Itu pun hanya biaya selama hampir 3 bulan di rumah sakit negeri Tirai Bambu. Selebihnya akomodasi dan sebagainya masih harus dihitung tersendiri.

Entah dari mana semua angka itu bisa terpenuhi. Perlahan-lahan semua akan terkuras untuk pengobatan Egi. Ya, karena Egi mau sembuh dan tak mau menderita. Sementara mamanya, sejak 3 tahun lalu telah menjanda, karena sang papa terkena serangan jantung dan meninggal. Kini hanya menjahit saja. Itupun jika ada order. Padahal kedua adiknya juga butuh biaya sekolah, yang nomer dua masih SMP dan adik bungsunya masih TK.

Sebenarnya ada yang hendak membantu, yaitu LSM yang peduli dengan orang sakit ginjal. Namun ketika disurvei, rumah Egi di tepi jalan ganda dan tipe pojok agak besar, membuat sang pendonor mundur dengan alasan, tidak sesuai dengan aturan. Egi bukan kategori yang harus dibantu. Juga ketika mencoba mencari dana miskin dari kelurahan dan kecamatan, kondisi rumahnya lagi-lagi membuat nama Egi tersingkir untuk mendapat dana pengobatan murah. Mamanya yang mencoba melobi petugas kelurahan pun cuma memelas karena ditolak lagi. Memang masih ada asuransi namun item untuk cuci darah tidak termasuk di sana dan hanya bisa mengadapatkan klaim untuk biaya pengobatan dari apotik.

Sebelum semua terjadi, mama Egi dengan tabah sekuat tenaga mengusahakan yang terbaik buat anaknya. Semua usaha yang mungkin dan dukungan teman-teman telah ia kerahkan untuk sedikit meringankan beban merawat anak tercintanya. Ketika harus mengantar Egi naik kereta komuter Sidoarjo-Surabaya PP, terpaksa si bungsu dititipkan kenalan dekat sekolah TK. Yang nomer dua, bahkan harus mandiri, bawa kunci dan pulang sendiri sementara mama dan Egi harus ke rumah sakit.

Pernah suatu kali sepulang dari rumah sakit, sang mama menjumpai pintu belakang terbuka sementara kedua anaknya yang lain ada di dalam. Hanya elusan dada Puji Tuhan, ketika dijumpai keadaan rumahnya masih baik-baik saja. Memang semua harus tercurah ke Egi. Tak kenal waktu, entah pagi, entah malam, entah tengah malam atau menjelang pagi, sang mama dan kedua adiknya mengerti untuk melakukan yang terbaik buat Egi.

Pernah suatu kali, Egi usai cuci darah kondisinya masih lemah. Sementara harus berjalan ke Stasiun Gubeng mendadak pingsan. Kereta nyaris berangkat, sang mama dengan sisa-sisa tenaga dan memanggil beberapa tukang becak, tubuh Egi diangkat supaya segera duduk dalam kereta komuter yang tak nyaman. Dalam perjalanan itu Egi tak sadar. Hanya dengan ketabahan seorang mama, maka Egi masih bisa pulang dan kembali normal. Dengan kondisi fluktuatif semacam itu, kadang baik, kadang tertawa, kadang kuat, kadang lemah tak berdaya, bengkak, rasanya tak mengubah apa-apa, kecemasan selalu menjadi teman.

Egi ketika baik pernah bercerita tentang rasa BT nya. Tentang guru les organ yang selalu tanya-tanya keadaannya, tentang pengunjung-pengunjung rumah yang baginya cuma membebani dan menyebalkan dengan pertanyaan, tentang dirigen yang mengatakan iringannya buruk, padahal ia mengaku sudah maksimal, hanya karena saat itu kakinya bengkak. Tentang teman-teman sekolahnya yang ketika bertemu di Gereja, megatakan bahwa ia masih jadi sekertaris kelas, tetapi Egi tak pernah masuk dan selalu ditulis absen dengan alasan sakit. "Kalau tahu aku sakit, kok ya nggak nengok...", begitu harapan Egi tentang teman sebayanya yang sebenarnya lebih bisa menjadi teman berbagi ketika dia tak lagi bisa sekolah, tak lagi bisa bercanda dan tertawa-tawa dengan mereka.

Satu yang masih belum bisa dilakukan Egi untuk pasrah, untuk berdoa. Tiap malam ketika mama dan kedua adiknya mengajak berdoa, di akhir doa Egi selalu berkata "doanya kok panjang banget seh". Serupa penat yang mau dikatakannya untuk sebuah pertanyaan yang tersimpan dalam, mengapa harus mengalami sakit begini ?

Semoga dengan segala keterbatasan keluarga, sahabat, kenalan para sosiawan dan baik budiman, semoga dalam kepedihan, dalam sumpek, dalam sesal dan dalam salib sekalipun, masih ada harapan. Paling tidak untuk mencoba memanggulnya lagi, lagi dan lagi. Setiap hari entah sampai kapan...