13 November 2007

Cinta Sejenis


Seorang yang kini berpisah dengan suaminya. Mengapa berpisah ? Karena dia merasa tidak mencintai suaminya. Katika menikah, ada unsur terpaksa dan menyenangkan ortu saja. Selama menikah, komunikasi tidak hangat, kaku dan dia merasa tidak bisa membohongi dirinya sendiri, bahwa sebenarnya ada kecenderungan lesbi dalam dirinya. Hal itu sudah dikenalinya sejak TK, ketika sosok gurunya perempuan justru pernah membuatnya jatuh hati. Ortunya juga tahu kecenderungannya itu, namun memaksa menjodohkan sehingga pada saatnya pernikahan itu bubar. Kini si suami hidup dengan istri barunya di Bali.

Nah, masalahnya kini dia sendirian dengan seorang anak hasil pernikahannya dengan suami itu. Ada rasa "seorang diri" yang menghantuinya. Selama ini masih ada ortunya dan bisnis ortunya, dia mampu ditopang oleh ortunya. Dia kebetulan anak tunggal. Namun akhir2 ini dia merasa akankah dia tetap sendirian...? Dan masa depan itu menakutkannya, ada keinginan untuk punya suami yang menemani dan menopang hidupnya, tetapi dia merasa tak bisa secara psikis karena kecenderungan lesbinya. Ketika keinginan punya suami itu ditekan, dia justru cemas dengan masa depannya yang akan seorang diri.

Di lain pihak, ada kepastian yang diyakininya dari baca buku bahwa kecenderungan lesbi yang ada dalam dirinya sejak kecil tak akan bisa hilang dengan cara apapun. Dan jikalau menikah, lagi-lagi dia harus berbohong dengan dirinya dan menindas batinnya. Sebuah situasi yang sangat sulit baginya.

Saya mengatakan kepadanya. Bahwa kecenderungan itu bisa sembuh. Kamu bisa jadi perempuan normal, kalau kamu mau. Mintalah pertolongan Tuhan dan terbuka dengan rahmatNya. Seperti kasus ada orang yang divonis mati dalam bebeapa hari saja karena kanker...akhirnya bisa sembuh dan hasil lab normal semua. Sementara dia merasa itu tidak mungkin dan kecederungan mengasihi wanita lebih besar, meskipun tak sekalipun pernah kontak fisik secara lesbi.

Kecenderungan lesbi itu bila hormonal, maka itu berarti dia memiliki anima dan animus yang tidak seimbang (hormon wanita dan lelaki) yang membuatnya lebih tertarik pada wanita. Namun ini jarang terjadi, kecuali bagi para banci atau mereka yang memiliki dua alat kelamin. Karena hormon ini langsung berhubungan dengan bentuk fisik. Apakah fisiknya kelaki-lakian? Atau memiliki penis? Kalau tidak, maka kemungkinannya adalah faktor psikis. Mungkin juga pengalaman-pengalaman masturbasi dengan teman wanita di masa kecil (mungkin dia tidak mengaku karena malu, dan mengatakan tidak pernah kontak fisik). Biasanya kecenderungan itu sangat kuat ketika sudah mempunyai pengalaman, jadi tidak mungkin hanya karena membayangkan. Bisa jadi dikuatkan lagi karena sering melihat video atau gambar-gambar lesbian. Jadi inilah sebab utamanya secara psikologis. Pengalaman ini menjadi lebih buruk lagi karena pengalaman dengan suami (lelaki) akhirnya berakhir dengan buruk juga. Hal ini membuat dia menjadi semakin kuat ke lesbiannya. Mungkin rangsangan teman wanita lebih memberinya kenikmatan, karena mereka lebih memahami rangsangan untuk masing-masing, yang lebih tepat. Justru hubungan seks dengan suami dialami sangat kering dan sering belum cukup rangsangan, sudah selesai.

Bila ini pengalamannya, maka sebenarnya yang terjadi adalah penolakan akibat lelaki kelihatannya tidak mampu memberikan kenikmatan seperti dialami dengan teman wanita. Cara satu-satunya keluar dari masalah ini:1) mengontrol diri dan sekaligus keinginan-keinginan seksualnya. 2) menghindari membayangkan hubungan dengan wanita, apalagi kontak fisik.3) menyibukkan diri pada karier yang lebih menyerap energinya 4) memutuskan untuk tidak harus kawin -- toh hidup sendiri bisa juga dinikamati sendiri.

Mungkin itu satu cara hidup yang bisa dicobanya, kalau semakin kuat kecenderungan lesbinya berarti dia memang sering membayangkannya, dan ini dimungkinkan lagi oleh filem atau video yang memang sering lebih menyenangkan dibandingkan dengan hubungan lawan jenis yang seninya sangat simple. Kalau demikian dia harus mengontrol diri, jangan sampai semakin terjerumus.