
Harus diakui, jumlah anak di Paroki St. Maria Annuntiata, Sidoarjo sangatlah banyak. Data kasar menunjukkan, setiap perayaan Natal dan Paskah harus disediakan bingkisan Natal sebanyak 1.500 bungkus.
Dalam kunjungan ke wilayah-wilayah, banyaknya jumlah anak ini juga terungkap. Di beberapa wilayah, banyaknya anak diikuti dengan pembinaan BIAK yang bagus. Hal ini tentu menggembirakan. Namun di beberapa wilayah lainnya, banyaknya anak justru diikuti dengan pembina yang loyo. Padahal dalam catatan, ada 100 orang yang pernah diikutkan dalam Sekolah Bina Iman yang ditangani Keuskupan. Rupanya, perlu ada keaktifan bagi pembina anak-anak untuk kembali memperhatikan mereka.
Selain itu, anak-anak dianggap sebagai faktor ketidak-khusukan misa pada Misa Minggu. Anak-anak dianggap sebagai sumber keributan, suka berlari-lari, berjalan-jalan ke panti imam dan membuat suasana Misa tidak mengenakkan bagi umat tertentu. Hal ini kembali mencuatkan wacana untuk memperhatikan anak-anak, khususnya pada saat Misa.
Beberapa cara sudah ditempuh, mulai dari menempatkan mereka di luar, lalu ke pinggir semakin dekat dengan kamar mandi yang tidak mengenakkan bagi anak. Selain upaya mengadakan sekolah minggu pada Misa kedua jam 08.00. Rupanya bagi sebagian orang Misa masih tetap tidak khusuk, bahkan ada yang memilih misa di tempat lain, daripada misa di Parokinya sendiri. Ada pula tawaran memfungsikan para petugas tata tertib. Usulan ini tidak semudah itu diterima, karena mestinya yang ditekankan pembinaan dari dalam, menekankan kalau anak ke Gereja untuk misa, berdoa. Dan lagi ke Gereja berbeda dengan pergi ke Mal atau ke alun-alun.
Akhirnya muncul wacana, betapa pentingnya peran orang tua untuk menjadi pembina utama bagi anak. Anak harus disadarkan bahwa ke Gereja untuk menghadap Tuhan dan berdoa, selama misa anak harus didampingi agar tidak seenaknya, anak perlu ditegur kalau sudah menimbulkan kekacauan selama Misa.
Orang tua memang pada lapis pertama pembinaan dan pendampingan iman anak. Ada lapis lain yang harus ditempuh, ialah melalui pendidikan agama / iman di sekolah masing-masing dan pembinaan melalui bina iman anak. Maka, dalam konteks paroki, anak-anak menjadi tanggungjawab lingkungan dan wilayah masing-masing untuk mendapatkan pembinaan secara intensif.
Anak-anak bagaimanapun adalah masa depan Gereja. Anak adalah aset. Anak sebenarnya jauh lebih mudah dibina dan diarahkan. Maka, kesempatan yang baik ini perlu dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk mendampingi anak-anak. Yesus sendiri mengatakan, “Biar anak-anak, datang kepadaKu”. Kita sebagai umat paroki hendaknya menjadi fasilitator agar anak-anak dapat berjumpa dan bertemu Yesus, dalam arti mengalami Yesus dalam masa kecil mereka. Kelak, jika mereka menjadi remaja dan dewasa, mereka akan melihat sendiri, betapa berharga dan berartinya pembinaan di masa anak-anak mereka. Hal itu akan membekas dalam kehidupan mereka yang berakibat positif dalam perjalanan iman mereka berikutnya. Dengan demikian, pembinaan anak di masa kini, adalah terwujudnya Gereja yang berkualitas di masa depan. (Sidoarjo, 22/09/07)
