- Hari Minggu kemarin 11 Februari 2007 saya mengikuti misa di gereja Stefanus Cilandak Jakarta. Misa dimulai pukul 9.45, berhubung sampai di gereja sudah mepet waktunyadan gereja sudah penuh, maka saya ikut misa di luar gedung. Di sebelah saya berdiri, berdiri pula pasangan muda yang cukup aktif mengikuti misa, dengan ikut bernyanyi dll.
Setelah persembahan si bapak menghilang sebentar dan kembali menjelang doa syukur agung, dengan membawa sekantong plastik teh botol. Sampai dengan konsekrasi tidak ada hal-hal yang aneh. Tapi setelah doa bapa kami.....mereka berdua dengan nikmatnya meminum teh botol itu bergantian (capai kali ya karena ikut misa dengan berdiri diluar).
Terus kemudian lanjut dengan penerimaan komuni dst sampai misa selesai.
Yang menjadi pertanyaan saya,
1. apakah komuni yang diterima bapak & ibu itu sah, karena beberapa menit sebelum menyambut komuni kudus mereka telah menyantap teh botol ?.
Jika tidak sah, apa konsekuensinya dan apa yang harus dilakukan ybs?
2. Apakah bapak & ibu itu telah melakukan sebuah dosa?
3. Apakah tindakan yang harus kita lalkukan jika mengetahui kejadian seperti di atas.
Saya merasa gundah melihat apa yang terjadi kemarin, tapi untuk menegurnya tidak ada keberanian. Saya kawatir kalau saya tegur mereka bisa marah.
Mohon maaf bila ybs membaca email ini dan mohon maaf bila ada kata2 yang tidak berkenan.
+ From: luluk widyawan
Sent: Monday, February 12, 2007 1:12 PM
Subject: Re: Suatu Hari di Gereja
Pak Hary
Baiklah saya mencoba menjawab.
1. Apakah komuni yang diterima mereka sah ?
Adalah keutamaan yang baik untuk menyambut Tubuh dan Darah Kristus dengan berpuasa. Bahkan di jaman dulu ada anjuran yang sangat ditekankan untuk berpuasa 1 jam sebelum merayakan Ekaristi. Keutamaan ini dilandasi niat baik untuk menahan diri sebelum menyambut Tubuh dan DarahNya sebagai santapan termulia, sekaligus bentuk matiraga.
Namun di dalam 10 perintah Allah dan 5 perintah Gereja tidak ada aturan yang mengatakan tentang keharusan berpuasa tersebut. Karena itu di Flores yang sangat kental dengan nuansa dan keketatan aturan2 Katoliknya, mereka yang datang dari jauh, dari gunung2, dengan berjalan kaki puluhan kilometer dari Gereja, diperbolehkan makan dan minum dulu.
Jika mereka harus misa mulai jam 7 pagi, mereka sudah harus meninggalkan rumah pukul 4 dinihari, daripada jatuh pingsan dan dehidrasi...maka ketika dalam perjalanan mereka membawa bekal untuk makan dan minum selama diperjalanan. Para romo di Flores tidak melarang apa yang mereka lakukan.
Pada kasus ini, saya melihat mereka adalah pasangan muda, yang memang tidak pernah mendapat penjelasan tepat tentang apa artinya berpuasa sebelum menyambut Tubuh dan DarahNya. Lain dengan mereka generasi tua yang pada masa itu mendapatkan penekanan soal puasa ini. Tidak jelas apakah mereka memang tidak tahu, atau karena dehidrasi, karena haus dan jika tidak minum maka tergeletak pingsan ?
Komuni yang mereka terima tetap sah, karena Tubuh dan Darahnya telah mereka sambut tentu dengan penuh iman. Namun ada baiknya kita mengingatkan keutamaan iman yang baik ttg puasa sebelum menyabut Ekaristi pada mereka. Juga pentingnya mengikuti Ekaristi dengan khususk dengan sikap lahir dan batin yang pantas. Apalagi mengingat Ekaristi bukan perayaan pribadi, namun perayaan komunal, yang sangat penting utk saling mendukung kekhusukan bersama.
2. Apakah mereka melakukan dosa ? Apa yang harus dilakukan ?
Dalam hal ini tidak ada unsur melecehkan komuni kudus sebagaimana ditunjuk kanon hukum Gereja no.1367. Jika melecehkan pasti disebut dosa berat yang bahkan bisa diekskomunikasi.
Hanya saja kekurangpantasan, keutamaan yang baik tidak dilakukan. Dan menganggu perayaan komunal oleh mereka yang hendak menghayati kehadiranNya dalam Ekaristi secara khusuk. Jika mereka tahu, mau dan sadar tetapi masih melakukannya, apa yg mereka lakukan tidak tepat. Namun jika mereka tidak tahu, maka mereka tak berdosa.
Mereka justru perlu diberi pengertian, disadarkan betapa kehadiran Tubuh dan darahnya dalam Ekaristi menjadi santapan termulia, maka persiapan batin perlu dilakukan secara sungguh2. Jika mereka sudah tahu ajak mereka untuk melakukan apa yang terbaik untuk datang kehadapanNya dalam Ekaristi. Memberi pengertian yang tepat penting dengan cara yang tidak perlu menhakimi dan marah2, pasti mereka juga akan menerima dengan lapang dada.
+ From:
Sent: Monday, February 12, 2007 2:30 PM
Subject: Re: Suatu Hari di Gereja
Setelah persembahan si bapak menghilang sebentar dan kembali menjelang doa syukur agung, dengan membawa sekantong plastik teh botol. Sampai dengan konsekrasi tidak ada hal-hal yang aneh. Tapi setelah doa bapa kami.....mereka berdua dengan nikmatnya meminum teh botol itu bergantian (capai kali ya karena ikut misa dengan berdiri diluar).
Terus kemudian lanjut dengan penerimaan komuni dst sampai misa selesai.
Yang menjadi pertanyaan saya,
1. apakah komuni yang diterima bapak & ibu itu sah, karena beberapa menit sebelum menyambut komuni kudus mereka telah menyantap teh botol ?.
Jika tidak sah, apa konsekuensinya dan apa yang harus dilakukan ybs?
2. Apakah bapak & ibu itu telah melakukan sebuah dosa?
3. Apakah tindakan yang harus kita lalkukan jika mengetahui kejadian seperti di atas.
Saya merasa gundah melihat apa yang terjadi kemarin, tapi untuk menegurnya tidak ada keberanian. Saya kawatir kalau saya tegur mereka bisa marah.
Mohon maaf bila ybs membaca email ini dan mohon maaf bila ada kata2 yang tidak berkenan.
+ From: luluk widyawan
Sent: Monday, February 12, 2007 1:12 PM
Subject: Re: Suatu Hari di Gereja
Pak Hary
Baiklah saya mencoba menjawab.
1. Apakah komuni yang diterima mereka sah ?
Adalah keutamaan yang baik untuk menyambut Tubuh dan Darah Kristus dengan berpuasa. Bahkan di jaman dulu ada anjuran yang sangat ditekankan untuk berpuasa 1 jam sebelum merayakan Ekaristi. Keutamaan ini dilandasi niat baik untuk menahan diri sebelum menyambut Tubuh dan DarahNya sebagai santapan termulia, sekaligus bentuk matiraga.
Namun di dalam 10 perintah Allah dan 5 perintah Gereja tidak ada aturan yang mengatakan tentang keharusan berpuasa tersebut. Karena itu di Flores yang sangat kental dengan nuansa dan keketatan aturan2 Katoliknya, mereka yang datang dari jauh, dari gunung2, dengan berjalan kaki puluhan kilometer dari Gereja, diperbolehkan makan dan minum dulu.
Jika mereka harus misa mulai jam 7 pagi, mereka sudah harus meninggalkan rumah pukul 4 dinihari, daripada jatuh pingsan dan dehidrasi...maka ketika dalam perjalanan mereka membawa bekal untuk makan dan minum selama diperjalanan. Para romo di Flores tidak melarang apa yang mereka lakukan.
Pada kasus ini, saya melihat mereka adalah pasangan muda, yang memang tidak pernah mendapat penjelasan tepat tentang apa artinya berpuasa sebelum menyambut Tubuh dan DarahNya. Lain dengan mereka generasi tua yang pada masa itu mendapatkan penekanan soal puasa ini. Tidak jelas apakah mereka memang tidak tahu, atau karena dehidrasi, karena haus dan jika tidak minum maka tergeletak pingsan ?
Komuni yang mereka terima tetap sah, karena Tubuh dan Darahnya telah mereka sambut tentu dengan penuh iman. Namun ada baiknya kita mengingatkan keutamaan iman yang baik ttg puasa sebelum menyabut Ekaristi pada mereka. Juga pentingnya mengikuti Ekaristi dengan khususk dengan sikap lahir dan batin yang pantas. Apalagi mengingat Ekaristi bukan perayaan pribadi, namun perayaan komunal, yang sangat penting utk saling mendukung kekhusukan bersama.
2. Apakah mereka melakukan dosa ? Apa yang harus dilakukan ?
Dalam hal ini tidak ada unsur melecehkan komuni kudus sebagaimana ditunjuk kanon hukum Gereja no.1367. Jika melecehkan pasti disebut dosa berat yang bahkan bisa diekskomunikasi.
Hanya saja kekurangpantasan, keutamaan yang baik tidak dilakukan. Dan menganggu perayaan komunal oleh mereka yang hendak menghayati kehadiranNya dalam Ekaristi secara khusuk. Jika mereka tahu, mau dan sadar tetapi masih melakukannya, apa yg mereka lakukan tidak tepat. Namun jika mereka tidak tahu, maka mereka tak berdosa.
Mereka justru perlu diberi pengertian, disadarkan betapa kehadiran Tubuh dan darahnya dalam Ekaristi menjadi santapan termulia, maka persiapan batin perlu dilakukan secara sungguh2. Jika mereka sudah tahu ajak mereka untuk melakukan apa yang terbaik untuk datang kehadapanNya dalam Ekaristi. Memberi pengertian yang tepat penting dengan cara yang tidak perlu menhakimi dan marah2, pasti mereka juga akan menerima dengan lapang dada.
+ From:
Sent: Monday, February 12, 2007 2:30 PM
Subject: Re: Suatu Hari di Gereja
Bukan negur tapi ngasih tau ya, mau denger syukur gak mau udah. Kewajiban kita memberi tau sodara yang salah 4 mata, gak mau bawa ke penatua, gak mau bawa ke umat dan penatua, gak mau lagi yah uwis. Soalnya gereja bukan tempat makan dan minum. Walau gak ada menyambut pun tak layak, apalagi ada menyambut. Emangya gereja itu restoran atau tempat istirahat. Apalagi saat sesudah konsekrasi saat Yesus hadir secara utuh mengurbankan diri dan mengundang kita bersatu dengan dia, lah kok asyik nyeruput teh botol, dihadapan SBY saja gak layak yang notabene cuma manusia.
+ From: "Arriko Indrawan"
Sent: Monday, February 12, 2007 6:45 PM
Subject: Re: Suatu Hari di Gereja
Pak Har,
Saya coba jawab, sejauh pemahaman saya.
1. Mnrt saya tdk sah, krn 1 jam sebelum komuni tdk boleh makan & minum...Intinya sih spy kt merasakan bahwa hosti itu makanan rohani dlm ragawi kita.
2. Dosa yg dilakukan adlh dosa sakrilegi, ...sering kali hanya krn kurang pemahamannya saja.
3. Mnrt saya tegor aja, ingatkan dia, bhw mnrt peraturan Gereja, 1 jam sblm komuni tdk boleh makan dan minum
Salam,
Arriko I
+ From: rosalind
Sent: Monday, February 12, 2007 6:27 PM
Subject: Re: Suatu Hari di Gereja
Hallo Har -
Pertanyaan Anda itu memang sangat2 tepat sebab memang tidak sepantasnya kita melakukan hal seperti itu pada waktu mengikuti misa. Kita nggak usah ngomong soal sah atau tidaknya komuni yang mereka terima; caranya mereka melakukan hal itu saja sudah sangat2 tidak pantas! Kalau begitu, maka mengapa mereka tidak sekalian membawa sekotak cake saja untuk dinikmati sambil mendengarkan khotbah ??
Memang, untuk menegur mereka ya sulit juga ya ... kan Anda tidak mengenal mereka? Bagaimana kalau misalnya Anda memberi tahu Romo diparoki Anda untuk sekedar menyentil tentang hal tersebut di misa yang akan datang? Supaya tidak saja mereka - melainkan seluruh umat yang lain juga sadar bahwa itu sesuatu yang tidak pantas sama sekali untuk dilakukan.
Warm greetings, from
Rosalind
+ From: "FX Kusmaryadi"
Sent: Monday, February 12, 2007 8:21 PM
Subject: Re: [ApiK] Suatu Hari di Gereja
Mas Haryono,
Saya belum akan menanggapi pertanyaan mas Haryono, melainkan hendak share kejadian yang sama, yang terjadi di India. Ketika pertama kali melihat saya memang terkejut juga. Namun sekarang sudah "terbiasa."
Di banyak tempat di India, mudah dijumpai bahwa dalam sebuah misa kudus, bahkan imam/uskupnyapun minum air yang disediakan di altar. Saya pernah melihat ada uskup dan imam yang setelah kotbah, atau bahkan saat kotbah, mereka minum air. Saya juga sering melihat bahwa dalam sebuah misa besar, tiba-tiba ada panitia yang mengedarkan air dalam cangkir plastik, dan para imamnyapun "glek....glek....glek...." ngombe. Memang sampai sekarang saya belum pernah mau melakukan hal itu, kendati di lingkunganku hal tersebut biasa dilakukan oleh imam.
Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Pepatah tersebut bisa diterapkan juga dalam gereja India, jika dibandingkan dengan gereja di tempat lain. Banyak hal-hal lain yang sungguh lain dari praktek menggereja dan berliturgi yang saya ketahui selama ini. Di banyak gereja, yang namanya liturgi wuah....semrawut banget. Tapi, saya lihat itu sudah biasa. Pokoknya "amat sangat kacau" terutama kalau dibandingkan dengan (kebanyakan) tempat di Indonesia.
Tadi malam ada perayaan Pesta Paroki. Yang namanya pesta paroki adalah perayaan terbesar gereja di India mengalahkan paskah-Natal. Dana besar dihabiskan untuk perayaan itu, kendati sebenarnya dalam pesta itu sama sekali tidak ada acara makan-makan. Yang dilakukan biasanya adalah Novena (yang dalam novena itu pengkhotbah harus kotbah minimal 45 menit!!) dan perayaan puncak dengan macam-macam prossesi keliling desa/ kota. Puncak acara tentu saja Misa Akbar yang sekilas tidak ada bedanya dengan tontonan dangdut!!!
Semrawut dan musiknya itu lho......nggak ada bedanya antara musik untuk peribadatan dengan musik untuk pertunjukan! Seringkali dengan sound system yang menggelegar dan nyanyian yang keras-keras walau dinyanyikan bukan oleh koor melainkan hanya 2-5 orang.
Dan tak ketinggalan, tabla......kendhang ndangdut India hahahahaha.....Kalau anda pernah ke gereja paroki di India, kiranya anda baru bisa ngerti bagaimana khusuknya liturgi di (kebanyakan tempat) Indonesia.
Pertanyaanya:
Apakah soal minum minuman itu masuk dalam "wilayah dosa atau tidak?" atau masuk dalam wilayah etis atau tidak? Hayo....siapa mau njawab.......
salam
kusmaryadi
+ From: R. Budi Kuswindarto
Sent: Tuesday, February 13, 2007 9:15 AM
Subject: RE: Suatu Hari di Gereja
Umumnya sebagian besar umat Katolik masih menjalankan/menganut “Puasa satu jam sebelum komuni/misa” kecuali memang harus minum obat. Tapi yang utama ialah “Puasa Bathin” artinya kalau kita mempunya dosa besar, kita tidak layak menerima Komuni sebelum pengakuan dosa.
Untuk menegur orang tersebut, memang memerlukan seni, strategi, dan keberanian. Tapi kalau kita tidak berdaya (untuk menghindari keributan), cukup kita doakan kepada Allah Bapa agar orang tsb diberikan kesadaran.
Jadi kita tidak perlu menghakimi.
Mungkin artikel berikut bisa membantu anda:
Peraturan atau Ajaran Gereja:
Praktek puasa sudah sangat biasa dalam tradisi Yahudi. Dalam Kis 13:2 kita mendapat salah satu bukti tentang puasa sehubungan dengan liturgi. Dengan menetapkan aturan puasa satu jam sebelum komuni, Gereja sebenarnya menetapkan sebuah refleksi baru atas tradisi / kebiasaan kuno yang sudah ada. Kalau mengamati sejarah memang terjadi perkembangan praktek puasa ini, sebelum tahun 1964 puasa untuk menyambut komuni kudus dimulai tengah malam. Paus Paulus VI, pada tanggal 21 November 1964, mengurangi tenggang waktu puasa itu menjadi hingga satu jam saja. Kitab Hukum Kanonik no. 919 menyebutkan: “yang hendak sambut Ekaristi Mahakudus hendaknya berpantang dari segala macam makanan dan minuman selama waktu sekurang-kurangnya satu jam, terkecuali air semata-mata dan obat-obatan.”
Temyata peraturan ini diberlakukan dengan pengecualian-pengecualian. Pertama, untuk imam yang merayakan ekaristi lebih dari satu misa pada hari yang sama, maka imam tersebut hanya terikat satu jam puasa sebelum misa yang pertama. Kedua, mereka yang lanjut usia (usia 60 tahun ke atas) atau sakit, maupun mereka yang merawatnya, dapat menyambut komuni meskipun dalam waktu satu jam sebelumnya telah makan sesuatu. Bahkan dikatakan bahwa orang-orang ini puasa mereka dikurangi sampai “kurang lebih seperempat jam” (Bdk. Immensae Caritatis, 1973).
Mengapa Kita Berpuasa?
Pertanyaan dasar yang perlu kita ajukan adalah apa alasan kita diminta untuk berpuasa satu jam sebelum menyambut komuni? Saya tegaskan beberapa alasan sebagai bahan renungan kita:
1. Puasa satu jam sebelum komuni mengungkapkan matiraga demi penguasaan diri. St Paulus mengatakan “kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami” (2Kor 4:10). Jadi sebenarnya matiraga itu membantu kita manusia untuk memerdekakan diri dari belenggu dosa dan kecenderungan-kecenderungan buruk. Matiraga jasmani itu hendaknya sampai pada kesembuhan batin untuk siap menyambut Kristus.
Berpuasa sebelum menyambut Komuni Kudus membangkitkan rasa lapar dan haus secara jasmani sebagai simbol lapar dan haus secara rohani. Memang kadang kita dengar banyak keberatan dengan alasan-alasan yang logis / masuk akal untuk membatalkan puasa sebelum komuni ini, tetapi kadang alasan itu justru menutup kelemahan / kekurangan yang ada dalam diri, yakni ketidaksungguhan hati untuk menyiapkan diri demi saat berahmat tersebut.
2. Puasa satu jam sebelum komuni membantu orang siap berjumpa dengan Tuhan. Dalam Perjanjian Lama, puasa mempersiapkan orang untuk menerima kehadiran Allah dan berada di hadirat-Nya. Ambil misal: Musa berpuasa 40 hari 40 malam lamanya di Gunung Sinai sementara ia menulis sepuluh perintah Allah. Elia berpuasa 40 hari 40 malam lamanya sementara ia berjalan ke Gunung Horeb - Gunung Tuhan. Dalam Perjanjian Baru, Yesus sendiri berpuasa 40 hari 40 malam lamanya sementara la mempersipkan diri memulai pewartaan-Nya di depan umum.
3. Yesus memang menganjurkan kita berpuasa karena puasa juga merupakan latihan kerendahan hati, pengharapan dan kasih, yang adalah kebajikan-kebajikan pokok yang kita rayakan dan kita mau timba dalam perayaan ekaristi.
Apa pun alasan kita berpuasa satu jam sebelum menyambut komuni, yang jelas usaha jasmani itu harus sampai pada disposisi batin yang siap untuk menerima kehadiran Kristus dalam perayaan ekaristi.
Pesan Akhir: “Yang Penting Tujuannya”
Peraturan tentang berpuasa satu jam sebelum komuni, tidak berarti kita harus kaku secara berlebihan atau juga tidak berarti kita menjadi sembrono dan membuat apa saja yang kita mau. Paus Yohanes Paulus II dalam “Dominicare Cenae” 1980, menyesalkan timbulnya persoalan di mana sebagian orang tidak mempersiapkan diri secara pantas untuk menyambut komuni kudus.“Wajiblah setiap kita mengusahakan persiapan iman sebaik-baiknya dalam mempersiapkan diri menyambut Kristus secara pantas,” tulis paus dalam satu himbauannya.
Nasihat ini sejalan dengan apa yang diungkapkan St Paulus dalam suratnya kepada umat di Korintus, “Jadi barang siapa dengan cara yang tidak layak makan roti atau minum cawan Tuhan, ia berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan. Karena itu hendaklah tiap-tiap orang menguji dirinya sendiri dan baru sesudah itu ia makan roti dan minum dari cawan itu.” Kita menyadari betapa pentingnya persiapan lahir dan batin untuk menerima Kristus, maka sambil mengucapkan salam bahagia untuk anak-anak komuni pertama, kita pun boleh mohon sikap yang hormat dan pantas dalam menerima tubuh dan darah Kristus.
RM. Gregorius Kaha, SVD
+ From: "Arriko Indrawan"
Sent: Monday, February 12, 2007 6:45 PM
Subject: Re: Suatu Hari di Gereja
Pak Har,
Saya coba jawab, sejauh pemahaman saya.
1. Mnrt saya tdk sah, krn 1 jam sebelum komuni tdk boleh makan & minum...Intinya sih spy kt merasakan bahwa hosti itu makanan rohani dlm ragawi kita.
2. Dosa yg dilakukan adlh dosa sakrilegi, ...sering kali hanya krn kurang pemahamannya saja.
3. Mnrt saya tegor aja, ingatkan dia, bhw mnrt peraturan Gereja, 1 jam sblm komuni tdk boleh makan dan minum
Salam,
Arriko I
+ From: rosalind
Sent: Monday, February 12, 2007 6:27 PM
Subject: Re: Suatu Hari di Gereja
Hallo Har -
Pertanyaan Anda itu memang sangat2 tepat sebab memang tidak sepantasnya kita melakukan hal seperti itu pada waktu mengikuti misa. Kita nggak usah ngomong soal sah atau tidaknya komuni yang mereka terima; caranya mereka melakukan hal itu saja sudah sangat2 tidak pantas! Kalau begitu, maka mengapa mereka tidak sekalian membawa sekotak cake saja untuk dinikmati sambil mendengarkan khotbah ??
Memang, untuk menegur mereka ya sulit juga ya ... kan Anda tidak mengenal mereka? Bagaimana kalau misalnya Anda memberi tahu Romo diparoki Anda untuk sekedar menyentil tentang hal tersebut di misa yang akan datang? Supaya tidak saja mereka - melainkan seluruh umat yang lain juga sadar bahwa itu sesuatu yang tidak pantas sama sekali untuk dilakukan.
Warm greetings, from
Rosalind
+ From: "FX Kusmaryadi"
Sent: Monday, February 12, 2007 8:21 PM
Subject: Re: [ApiK] Suatu Hari di Gereja
Mas Haryono,
Saya belum akan menanggapi pertanyaan mas Haryono, melainkan hendak share kejadian yang sama, yang terjadi di India. Ketika pertama kali melihat saya memang terkejut juga. Namun sekarang sudah "terbiasa."
Di banyak tempat di India, mudah dijumpai bahwa dalam sebuah misa kudus, bahkan imam/uskupnyapun minum air yang disediakan di altar. Saya pernah melihat ada uskup dan imam yang setelah kotbah, atau bahkan saat kotbah, mereka minum air. Saya juga sering melihat bahwa dalam sebuah misa besar, tiba-tiba ada panitia yang mengedarkan air dalam cangkir plastik, dan para imamnyapun "glek....glek....glek...." ngombe. Memang sampai sekarang saya belum pernah mau melakukan hal itu, kendati di lingkunganku hal tersebut biasa dilakukan oleh imam.
Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Pepatah tersebut bisa diterapkan juga dalam gereja India, jika dibandingkan dengan gereja di tempat lain. Banyak hal-hal lain yang sungguh lain dari praktek menggereja dan berliturgi yang saya ketahui selama ini. Di banyak gereja, yang namanya liturgi wuah....semrawut banget. Tapi, saya lihat itu sudah biasa. Pokoknya "amat sangat kacau" terutama kalau dibandingkan dengan (kebanyakan) tempat di Indonesia.
Tadi malam ada perayaan Pesta Paroki. Yang namanya pesta paroki adalah perayaan terbesar gereja di India mengalahkan paskah-Natal. Dana besar dihabiskan untuk perayaan itu, kendati sebenarnya dalam pesta itu sama sekali tidak ada acara makan-makan. Yang dilakukan biasanya adalah Novena (yang dalam novena itu pengkhotbah harus kotbah minimal 45 menit!!) dan perayaan puncak dengan macam-macam prossesi keliling desa/ kota. Puncak acara tentu saja Misa Akbar yang sekilas tidak ada bedanya dengan tontonan dangdut!!!
Semrawut dan musiknya itu lho......nggak ada bedanya antara musik untuk peribadatan dengan musik untuk pertunjukan! Seringkali dengan sound system yang menggelegar dan nyanyian yang keras-keras walau dinyanyikan bukan oleh koor melainkan hanya 2-5 orang.
Dan tak ketinggalan, tabla......kendhang ndangdut India hahahahaha.....Kalau anda pernah ke gereja paroki di India, kiranya anda baru bisa ngerti bagaimana khusuknya liturgi di (kebanyakan tempat) Indonesia.
Pertanyaanya:
Apakah soal minum minuman itu masuk dalam "wilayah dosa atau tidak?" atau masuk dalam wilayah etis atau tidak? Hayo....siapa mau njawab.......
salam
kusmaryadi
+ From: R. Budi Kuswindarto
Sent: Tuesday, February 13, 2007 9:15 AM
Subject: RE: Suatu Hari di Gereja
Umumnya sebagian besar umat Katolik masih menjalankan/menganut “Puasa satu jam sebelum komuni/misa” kecuali memang harus minum obat. Tapi yang utama ialah “Puasa Bathin” artinya kalau kita mempunya dosa besar, kita tidak layak menerima Komuni sebelum pengakuan dosa.
Untuk menegur orang tersebut, memang memerlukan seni, strategi, dan keberanian. Tapi kalau kita tidak berdaya (untuk menghindari keributan), cukup kita doakan kepada Allah Bapa agar orang tsb diberikan kesadaran.
Jadi kita tidak perlu menghakimi.
Mungkin artikel berikut bisa membantu anda:
Peraturan atau Ajaran Gereja:
Praktek puasa sudah sangat biasa dalam tradisi Yahudi. Dalam Kis 13:2 kita mendapat salah satu bukti tentang puasa sehubungan dengan liturgi. Dengan menetapkan aturan puasa satu jam sebelum komuni, Gereja sebenarnya menetapkan sebuah refleksi baru atas tradisi / kebiasaan kuno yang sudah ada. Kalau mengamati sejarah memang terjadi perkembangan praktek puasa ini, sebelum tahun 1964 puasa untuk menyambut komuni kudus dimulai tengah malam. Paus Paulus VI, pada tanggal 21 November 1964, mengurangi tenggang waktu puasa itu menjadi hingga satu jam saja. Kitab Hukum Kanonik no. 919 menyebutkan: “yang hendak sambut Ekaristi Mahakudus hendaknya berpantang dari segala macam makanan dan minuman selama waktu sekurang-kurangnya satu jam, terkecuali air semata-mata dan obat-obatan.”
Temyata peraturan ini diberlakukan dengan pengecualian-pengecualian. Pertama, untuk imam yang merayakan ekaristi lebih dari satu misa pada hari yang sama, maka imam tersebut hanya terikat satu jam puasa sebelum misa yang pertama. Kedua, mereka yang lanjut usia (usia 60 tahun ke atas) atau sakit, maupun mereka yang merawatnya, dapat menyambut komuni meskipun dalam waktu satu jam sebelumnya telah makan sesuatu. Bahkan dikatakan bahwa orang-orang ini puasa mereka dikurangi sampai “kurang lebih seperempat jam” (Bdk. Immensae Caritatis, 1973).
Mengapa Kita Berpuasa?
Pertanyaan dasar yang perlu kita ajukan adalah apa alasan kita diminta untuk berpuasa satu jam sebelum menyambut komuni? Saya tegaskan beberapa alasan sebagai bahan renungan kita:
1. Puasa satu jam sebelum komuni mengungkapkan matiraga demi penguasaan diri. St Paulus mengatakan “kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami” (2Kor 4:10). Jadi sebenarnya matiraga itu membantu kita manusia untuk memerdekakan diri dari belenggu dosa dan kecenderungan-kecenderungan buruk. Matiraga jasmani itu hendaknya sampai pada kesembuhan batin untuk siap menyambut Kristus.
Berpuasa sebelum menyambut Komuni Kudus membangkitkan rasa lapar dan haus secara jasmani sebagai simbol lapar dan haus secara rohani. Memang kadang kita dengar banyak keberatan dengan alasan-alasan yang logis / masuk akal untuk membatalkan puasa sebelum komuni ini, tetapi kadang alasan itu justru menutup kelemahan / kekurangan yang ada dalam diri, yakni ketidaksungguhan hati untuk menyiapkan diri demi saat berahmat tersebut.
2. Puasa satu jam sebelum komuni membantu orang siap berjumpa dengan Tuhan. Dalam Perjanjian Lama, puasa mempersiapkan orang untuk menerima kehadiran Allah dan berada di hadirat-Nya. Ambil misal: Musa berpuasa 40 hari 40 malam lamanya di Gunung Sinai sementara ia menulis sepuluh perintah Allah. Elia berpuasa 40 hari 40 malam lamanya sementara ia berjalan ke Gunung Horeb - Gunung Tuhan. Dalam Perjanjian Baru, Yesus sendiri berpuasa 40 hari 40 malam lamanya sementara la mempersipkan diri memulai pewartaan-Nya di depan umum.
3. Yesus memang menganjurkan kita berpuasa karena puasa juga merupakan latihan kerendahan hati, pengharapan dan kasih, yang adalah kebajikan-kebajikan pokok yang kita rayakan dan kita mau timba dalam perayaan ekaristi.
Apa pun alasan kita berpuasa satu jam sebelum menyambut komuni, yang jelas usaha jasmani itu harus sampai pada disposisi batin yang siap untuk menerima kehadiran Kristus dalam perayaan ekaristi.
Pesan Akhir: “Yang Penting Tujuannya”
Peraturan tentang berpuasa satu jam sebelum komuni, tidak berarti kita harus kaku secara berlebihan atau juga tidak berarti kita menjadi sembrono dan membuat apa saja yang kita mau. Paus Yohanes Paulus II dalam “Dominicare Cenae” 1980, menyesalkan timbulnya persoalan di mana sebagian orang tidak mempersiapkan diri secara pantas untuk menyambut komuni kudus.“Wajiblah setiap kita mengusahakan persiapan iman sebaik-baiknya dalam mempersiapkan diri menyambut Kristus secara pantas,” tulis paus dalam satu himbauannya.
Nasihat ini sejalan dengan apa yang diungkapkan St Paulus dalam suratnya kepada umat di Korintus, “Jadi barang siapa dengan cara yang tidak layak makan roti atau minum cawan Tuhan, ia berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan. Karena itu hendaklah tiap-tiap orang menguji dirinya sendiri dan baru sesudah itu ia makan roti dan minum dari cawan itu.” Kita menyadari betapa pentingnya persiapan lahir dan batin untuk menerima Kristus, maka sambil mengucapkan salam bahagia untuk anak-anak komuni pertama, kita pun boleh mohon sikap yang hormat dan pantas dalam menerima tubuh dan darah Kristus.
RM. Gregorius Kaha, SVD
