- On 5/8/07,
Advice terbaik apa yang harus saya katakan ke seseorang istri yang mengalami hal seperti ini?
Sebutlah S memiliki dua anak, yang satu sudah 3 tahun, yang satu baru 3 bulan. Suatu kali, S mendapat telpon dari seorang perempuan yang mengaku sedang pendarahan, karena keguguran sebab hamil oleh suami S sendiri. Dia shocked dan tak menduga. Ia lalu klarifikasi ke suaminya..."benarkah kamu hamili perempuan itu?"...suaminya menolak mengiyakan..."tak usah pusing", katanya..."saya bisa menghadapi dia, siapa sih dia"...
Waktu berlalu, kali ini perempuan lain juga menelpon S, yang mengaku juga sedang hamil karena ulah suami S. Bahkan ayah perempuan itu menuntut suami S agar bertanggung jawab. Kembali S shock, mengapa harus terjadi lagi. S menceritakan sambil menangis..."saya berusaha kuat menanggung semua ini. saya tak mungkin meminta cerai atau menuntut suami saya menceraikan saya saja. saya kasihan dengan anak-anak. saya berusaha sabar. tetapi bagaimana menghadapi suami saya yang seperti ini ?"
Saya menganjurkan dia tetap tabah. Jika ada yang satu keras, S harus lembut. Kalau suami selingkuh, kamu harus tetap setia dan sayang dengan dia, begitu kata saya. Meskipun itu berat. Bahkan saya katakan salut dengan S dan saya bawa dalam misa saya. ...Saya sendiri relasi baik dengan keluarga ini, dari keluarga yang pemurah terhadap karya-karya Gereja, suaminya juga beberapa kali berkomunikasi dengan saya. Namun jauh di luar dugaan saya kalau suami S ini seorang yang genit...Saya belum memiliki kesempatan untuk bicara dengan suami S. Bahkan S menelpon saya dengan sembunyi-sembunyi...Saya berusaha menjadi pendengar yang baik buat S, itu yang saya bisa lakukan. Bagaimana ini...? Sebelumnya terima kasih tanggapannya...
Sebutlah S memiliki dua anak, yang satu sudah 3 tahun, yang satu baru 3 bulan. Suatu kali, S mendapat telpon dari seorang perempuan yang mengaku sedang pendarahan, karena keguguran sebab hamil oleh suami S sendiri. Dia shocked dan tak menduga. Ia lalu klarifikasi ke suaminya..."benarkah kamu hamili perempuan itu?"...suaminya menolak mengiyakan..."tak usah pusing", katanya..."saya bisa menghadapi dia, siapa sih dia"...
Waktu berlalu, kali ini perempuan lain juga menelpon S, yang mengaku juga sedang hamil karena ulah suami S. Bahkan ayah perempuan itu menuntut suami S agar bertanggung jawab. Kembali S shock, mengapa harus terjadi lagi. S menceritakan sambil menangis..."saya berusaha kuat menanggung semua ini. saya tak mungkin meminta cerai atau menuntut suami saya menceraikan saya saja. saya kasihan dengan anak-anak. saya berusaha sabar. tetapi bagaimana menghadapi suami saya yang seperti ini ?"
Saya menganjurkan dia tetap tabah. Jika ada yang satu keras, S harus lembut. Kalau suami selingkuh, kamu harus tetap setia dan sayang dengan dia, begitu kata saya. Meskipun itu berat. Bahkan saya katakan salut dengan S dan saya bawa dalam misa saya. ...Saya sendiri relasi baik dengan keluarga ini, dari keluarga yang pemurah terhadap karya-karya Gereja, suaminya juga beberapa kali berkomunikasi dengan saya. Namun jauh di luar dugaan saya kalau suami S ini seorang yang genit...Saya belum memiliki kesempatan untuk bicara dengan suami S. Bahkan S menelpon saya dengan sembunyi-sembunyi...Saya berusaha menjadi pendengar yang baik buat S, itu yang saya bisa lakukan. Bagaimana ini...? Sebelumnya terima kasih tanggapannya...
+ Pertama-tama, saya minta maaf, karena sibuknya seminar akhirnya saya terlewatkan cukup lama baru memberikan tanggapan.
Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah memastikan bahwa suami S memang melakukan selingkuh pada beberapa wanita dan kemudian melakukan pengguguran itu. Saya tidak begitu. Hal ini hanya mungkin dilakukan dengan dialog dengan suami S.
Langkah kedua, memastikan bahwa suami S memberikan nilai yang tinggi terhadap keutuhan keluarganya. Kalau dia juga siap cerai dan kawin lagi, ini menjadi masalah. Untuk itu perlu ada relasi yang baik dengan kedua belah pihak. Soalnya campur tangan pihak ketiga, malah bisa dianggap keterlaluan dan mengakibatkan dampak yang lebih buruk.
Langkah ketiga, kalau ada kesempatan memberikan konsultasi perkawinan, seperti dilakukan dalam ME di mana dijelaskan bagaimana menderitanya pasangan, hanya karena sikap egois dari masing-masing pihak, yang seharusnya bisa diatasi oleh seorang beriman (dan dewasa) tentunya. Ini merupakan bentuk penyadaran dan pemulihan pada hubungan suami-isteri yang telah retak.
Sasaran akhir: Suami S mesti mengubah pola hubungannya dengan wanita-wanita lain. Karena kalau cerita istrinya tersebut benar, saya melihat ada pola seksual yang senang menikmati petualangan seksual dengan banyak orang. Dan ternyata, selalu saja dia menemukan korbannya, karena hal itu saat ini sangat memungkinkan. Jadi, kalau dia memberikan nilai keutuhan keluarganya sebagai nomor satu, maka hal ini bisa diatasinya sendiri. Jadi empowering mesti kita lakukan pada sang suami, untuk berani mengubah perilakunya. Hanya dia yang dapat mengubah perilaku ini (walau saya yakin agak susah: karena sudah ketagihan). Tapi kalau ada nilai yang lebih penting, untuk itu saya mau mati, maka tentu nilai yang lebih penting itu akan bisa menjadi kekuatan dalam perubahan.
Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah memastikan bahwa suami S memang melakukan selingkuh pada beberapa wanita dan kemudian melakukan pengguguran itu. Saya tidak begitu. Hal ini hanya mungkin dilakukan dengan dialog dengan suami S.
Langkah kedua, memastikan bahwa suami S memberikan nilai yang tinggi terhadap keutuhan keluarganya. Kalau dia juga siap cerai dan kawin lagi, ini menjadi masalah. Untuk itu perlu ada relasi yang baik dengan kedua belah pihak. Soalnya campur tangan pihak ketiga, malah bisa dianggap keterlaluan dan mengakibatkan dampak yang lebih buruk.
Langkah ketiga, kalau ada kesempatan memberikan konsultasi perkawinan, seperti dilakukan dalam ME di mana dijelaskan bagaimana menderitanya pasangan, hanya karena sikap egois dari masing-masing pihak, yang seharusnya bisa diatasi oleh seorang beriman (dan dewasa) tentunya. Ini merupakan bentuk penyadaran dan pemulihan pada hubungan suami-isteri yang telah retak.
Sasaran akhir: Suami S mesti mengubah pola hubungannya dengan wanita-wanita lain. Karena kalau cerita istrinya tersebut benar, saya melihat ada pola seksual yang senang menikmati petualangan seksual dengan banyak orang. Dan ternyata, selalu saja dia menemukan korbannya, karena hal itu saat ini sangat memungkinkan. Jadi, kalau dia memberikan nilai keutuhan keluarganya sebagai nomor satu, maka hal ini bisa diatasinya sendiri. Jadi empowering mesti kita lakukan pada sang suami, untuk berani mengubah perilakunya. Hanya dia yang dapat mengubah perilaku ini (walau saya yakin agak susah: karena sudah ketagihan). Tapi kalau ada nilai yang lebih penting, untuk itu saya mau mati, maka tentu nilai yang lebih penting itu akan bisa menjadi kekuatan dalam perubahan.
